GE dan KAI gelar Job shadow bagi siswa SMK

 
News Editor | 30 April 2012 18:39 WIB

 

YOGYAKARTA: General Electric Indonesia merealisasikan kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia melakukan pelatihan terhadap 125 siswa SMK di Yogyakarta untuk mengenal dunia kerja perawatan lokomotif.

 

Head of Government Relation GE  Transportation, Andy Nahil Gultom mengatakan kegiatan bertajuk ‘Job Shadow’ ini bertujuan untuk memberi bekal pengalaman bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk mengenal dunia kerja.

 

“Kegiatan ini merupakan realisasi donasi dai GE Transportation atas perolehan penghargaan kinerja terbaik. Kali ini program CSR ini diberikan kepada Indonesia,” ujarnya di sela-sela acara Job Shadow di Balai Yasa Yogyakarta, 30 April 2012.

 

Fokus kegiatan Job Shadow ini, lanjutnya, merupakan orientasi dunia kerja khususnya sektor industri bagi siswa-siswi. Melalui kegiatan ini diharapkan siswa memiliki perspektif baru dalam dunia kerja profesional.

 

“Kegiatan ini pertama kalinya kami selenggarakan di tempat mitra kerja yakni PT KAI dan diharapkan bisa memberi pengalaman kepada 125 siswa yang berasal dari empat SMK yakni SMK Negeri 1, SMK Muhammadiyah 5, SMK Piri 3, dan SMK Bopkri 1,” tuturnya.

 

Kepala Balai Yasa Yogyakarta, John Roberto mengatakan Job shadow bagi Balai Yasa bisa memperkenalkan teknologi lokomotif kepada para siswa. Lebih lagi, Balai Yasa merupakan tempat perawatan loko terbesar di Asia Tenggara.

 

“Selain itu, sekaligus untuk mencegah terjadinya vandalisme di kereta api yang saat ini terhitung tinggi yang seringkali dilakukan siswa tingkat remaja. Dengan memperkenalkan lokomotif ke siswa,  bisa tumbuh rasa memiliki dan bisa menularkan sikap mencegah vandalisme,” ujarnya.

 

Dia mengatakan tenaga teknisi lokomotif masih sangat dibutuhkan. Hingga saat ini jumlah pegawai di Balai Yasa mencapai 465 pegawai. Sementara untuk mengerjakan 100 lokomotif membutuhkan pegawai atau teknisi sekitar 550 orang.

 

“Tahun ini, di Yogyakarta ini kami hanya mendapatkan jatah tambahan pegawai sebanyak 50 operator,” ujarnya.

 

Dalam memenuhi kebutuhan teknisi ini, selama ini pihaknya harus melatih calon pegawai. Belum ada sekolah khusus untuk teknisi lokomotif.

 

Ketrampilan merawat atau memperbaiki lokomotif dilakukan dengan melatih para calon pegawai baik D3 atau SLTA di balai pelatihan milik PT KAI. (ea)

Sumber : Alfin Arifin

Tag :
Editor : Marissa Saraswati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top