WISATA SWISS: From Montreux with wine

 We all came out to MontreuxOn the Lake Geneva shorelineTo make records with a mobileWe didn't have much time(Smoke on the Water/Deep Purple) Pukul 11.00 waktu Swiss. Dalam balutan suhu udara sekitar 5 derajat Celsius, saya dan sejumlah
Feri Kristianto | 21 April 2012 07:47 WIB

 We all came out to MontreuxOn the Lake Geneva shorelineTo make records with a mobileWe didn't have much time(Smoke on the Water/Deep Purple) Pukul 11.00 waktu Swiss. Dalam balutan suhu udara sekitar 5 derajat Celsius, saya dan sejumlah rekan wartawan dari Jakarta diajak jalan-jalan oleh Yunny Christine dari Huawei Indonesia ke Montreux, salah satu kota penting dan terkenal di Swiss.  Kami berangkat dari Jenewa, tempat kami menginap selama beberapa hari dalam rangka liputan ITU Telecom World di Palexpo akhir Oktober 2011. Suasana early winter yang cukup menusuk bagi tubuh-tubuh tropis mengiringi perjalanan kami dengan kereta api menuju Montreux, yang berjarak tempuh sekitar 1,5 jam dari Jenewa.Pemandangan khas pedesaan Swiss terhampar di kanan-kini melalui jendela kaca kereta, yang memperlihatkan keteraturan, kerapian dan keasrian. Sesekali saya melihat gerombolan sapi di tengah ladang entah gandum atau tanaman lainnya itu.Di kejauhan saya juga melihat hamparan Danau Leman atau biasa disebut Danau Jenewa dengan airnya yang hijau kebiruan. Ini adalah danau terbesar di Eropa Barat, yang melintasi Swiss dan Prancis.Tak terasa, sudah hampir 1 jam kami meninggalkan Jenewa dengan kereta yang melaju tak terlalu kencang tersebut. Dan sebentar kemudian kami sudah berada di stasiun Lausanne, salah satu kota terkenal di Swiss.Seperti biasa, kereta berhenti sebentar, menurunkan dan menaikkan penumpang. Tapi kami memutuskan tidak keluar, dan melanjutkan perjalanan ke Montreux.Sekadar catatan, sesungguhnya perjalanan kami dengan kereta dari Jenewa tersebut memang menyusuri pinggir Danau Leman, karena baik Jenewa, Lausanne maupun Montreux berada di pinggiran danau berbentuk sabit tersebut.Dan kurang dari setengah jam setelah melewati Lausanne, tibalah kami  di Montreux. Sebuah kota yang relatif lebih kecil dibandingkan Lausanne. Montreux terkenal sebagai pusat sekolah perhotelan atau yang belakangan dikenal sebagai industri 'keramah-tamahan' alias hospitality.Yunny Christine, yang kebetulan pernah menempuh sekolah perhotelan di Montreux, mengatakan kota ini memang dikenal sebagai pusat pendidikan perhotelan di Swiss. "Banyak orang dari berbagai negara sekolah perhotelan di sini," katanya.Saya sendiri merasakan suasana keramahan yang luar biasa dari Montreux, sekaligus sensasi ketertiban, kerapian dan kesejukan yang begitu pekat. Berada di pinggir Danau Leman, duduk di sebuah batu besar sambil menatap patung Farrokh Bulsara alias Freddie Mercury dengan gaya khasnya,  buat saya adalah sebentuk kemewahan.Patung perunggu tersebut kini menjadi salah satu ikon penting Montreux. Patung ini sengaja dibuat sebagai bentuk penghormatan terhadap Freddie Mercury, yang sering menghabiskan waktunya di Montreux, entah untuk beristirahat atau berkarya.Konon, sebagian lagu-lagu Queen yang kebanyakan dibuat oleh Freddie, dihasilkan di kota yang hampir menjadi rumah kedua buat Freddie-setelah London-itu.Dengan hembusan udara yang terasa mengalir bersih melewati hidung dan tenggorokan, kesejukan Montreux siang itu membuat perut kami menjadi cepat lapar. Untung, tak jauh dari patung vokalis Queen tersebut ada satu restoran Italia, yang tampaknya enak karena penuh dengan pengunjung.Tanpa basa-basi, kami segera memesan menu kesukaan masing-masing. Beberapa dari kami memesan spaghetti sea food, yang konon merupakan menu favorit di restoran tersebut. Ternyata memang tidak salah. Pasta khas Italia ini memang dahsyat sekali. Sembari mencecap wine dan mengunyah sepotong vegetable pizza, lengkap sudah kemewahan siang itu…Setelah puas menghangatkan badan di restoran tersebut, kami meneruskan penjelajahan. Tujuan berikutnya adalah sebuah kastil yang dibangun pada abad pertengahan. Orang Swiss yang berbahasa Prancis menyebutnya Chateau de Chillon alias Kastil Chillon (baca: Siyoh).Kastil tersebut dibangun menjorok ke danau. Sebuah bangunan kuno menjulang dengan ornamen khas kastil Eropa berdiri demikian kokoh, di dalamnya termasuk benteng pertahanan, tempat penyiksaan dan pembakaran manusia.Berada di kastil ini saya serasa dibawa ke Eropa di masa 'kegelapan' tatkala sihir dan mistisisme masih begitu kuat menyelimuti peta kesadaran warga, sementara ke-Kristen-an berada dalam tahap awal pelembagaan.Kisah pertentangan antara yang 'gelap' versus yang 'terang' khas Eropa termuat dalam aneka gambar dan cerita buku-buku kuno yang ditulis tangan dengan tinta.  Aneka dokumen ini dipertontonkan kepada pengunjung kastil di lantai atas, yang harus didaki melalui anak tangga cukup berliku.Saya jadi teringat pelajaran sejarah SMP, ketika guru saya bercerita tentang orang-orang Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda yang menjelajahi dunia membelah samudera melakukan ekspansi-yang di belakang hari disebut imperialisme-atas nama gold, glory dan gospel.   Kota LausanneDemikianlah, setelah cukup puas beberapa jam menjelajahi Montreux, kami memutuskan untuk menyempatkan diri barang satu-dua jam ke Lausanne, sebelum balik ke Jenewa. Lausanne adalah sebuah kota perbukitan yang besar dan dikenal sebagai produsen anggur.Lausanne tak kalah ramai dibandingkan Jenewa. Jika Anda ingin berbelanja suvenir atau pakaian, Lausanne menyediakan berbagai fasilitas yang cukup modern. Hanya, pastikan stamina Anda dalam keadaan prima kalau ingin menjelajahi Lausanne dengan berjalan kaki karena kota ini konturnya naik-turun.Dan tak terasa, hari mulai gelap. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00. Selesai santap malam di sebuah restoran China yang pelayannya sebagian migran dari Malaysia, kami lalu menumpang kereta menuju Jenewa.Dengan sisa-sisa tenaga, tapi dibalut keriangan yang penuh, kami turun di stasiun Jenewa lalu menumpang taksi menuju hotel tempat kami menginap: sebuah hotel bintang lima di pinggiran Danau Leman atau Danau Jenewa. Selebihnya, saya terbuai mimpi… (tomy.sasangka@bisnis.co.id) (tw) 

>> BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:

+ Berita BISNIS INDONESIA hari ini: S&P ogah buat INVESTMENT GRADE?

+ INDONESIAN IDOL 2012: BELINDA pulang!

+ PESAWAT JATUH, 127 penumpang TEWAS

+ ACEH kembali diguncang GEMPA 5,9 SR

+ INDONESIAN BONDS sets for Weekly GAIN

+ MANCHESTER UNITED Value rises to $2.2 Billion

+ DAHLAN ISKAN mengintili TIGA PEREMPUAN

+ WISHNUTAMA mau buka RESTO dan bikin EO?

+ DIVE SITES: Indonesian big problem, FISHERMAN BLAST

 

 

Tag :
Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top