CEK PELAWAT: KPK belum temukan sponsor

 
Giras Pasopati
Giras Pasopati - Bisnis.com 16 April 2012  |  15:21 WIB

 

 

 

JAKARTA: Penelusuran Komisi Pemberantasan Korupsi terkait siapa sebenarnya sponsor 480 lembar cek pelawat senilai Rp24 miliar yang dibagikan kepada anggota DPR periode 1999-2004 hingga kini masih belum mendapatkan titik cerah

 

Pada pengakuannya hari ini di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) salah satu tersangka cek pelawat Nunun Nurbaeti menyatakan tidak mengetahui siapa yang memberikan travel cheque tersebut. Dia juga tidak mengetahui siapa pihak yang mendanai cek dengan tujuan memenangkan Miranda Swaray Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior (DGS) BI periode 2004.

 

“Tidak tahu yang mulia,” ujar Nunun saat menjawab pertanyaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada persidangan dengan agenda pemeriksaan terdakwa hari ini.

 

Dia membantah bahwa ada arahan dari dirinya kepada Direktur PT Wahana Esa Sejati Arie Malangjudo untuk membagikan cek terhadap sejumlah anggota DPR periode 1999-2004. PT Wahana Esa Sejati sendiri merupakan perusahaan yang dimiliki oleh Nunun.

 

“Saya tidak tahu yang mulia (Arie Malangjudo mendapat cek darimana). Saya tidak pernah ( mengarahkan Arie untuk membagikan cek),” tegasnya.

 

Pengakuan ini bertentangan dengan kesaksian Arie Malangjudo beberapa waktu lalu. Berdasarkan pengakuan Arie pada 7 Juni 2004, Arie bertemu dengan Nunun dan juga anggota DPR dari fraksi Golkar Hamka Yandhu di kantor Nunun di Jalan Riau membicarakan mengenai pembagian cek.

 

Awalnya Arie sempat menolak, namun dia tidak memiliki kuasa karena Nunun merupakan atasannya. Keesokan harinya tanggal 8 Juni 2004 pembagian cek dilakukan Arie disuruh menyerahkan bungkusan berisi amplop coklat. Di dalam amplop tersebut terdapat amplop-amplop lain berwarna merah, kuning, hijau, dan putih, yang masing-masing diserahkan ke Fraksi PDI-Perjuangan, Golkar, PPP, dan TNI/Polri.

 

Nunun juga mengaku tidak ingat ada bagian travel cheque yang mengalir kepada dirinya. Nunun mengaku segala masalah administrasi diurus oleh sekretarisnya yang bernama Sumarni sehingga dia tidak mengetahui sumber dari cek pelawat yang masuk ke rekeningnya tersebut.

 

“Tidak ingat yang mengurus cek itu sekretaris saya. Tidak tahu ada sumber tersebut,” tutur Nunun.

 

Nunun juga mengaku tidak kenal Ferry Yen atau Suhardi orang yang menjadi mitra bisnis PT First Mujur Plantation Industry. Ferry disebut memesan cek pelawat untuk membeli perkebunan kelapa sawit di Tapanuli Selatan. " Tidak kenal yang mulia,” tegas Nunun.

 

Sementara itu Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto berharap Nunun menggunakan kesempatan pemeriksaan terdakwa untuk membongkar pihak yang berada di balik perkara ini. Jika Nunun tidak menjelaskan siapa yang ada di belakang pembagian cek pelawat ini, maka dia akan berada dalam posisi rumit.

 

"Nunun bisa menggunakan kesempatan ini untuk menjelaskan perannya apakah dia bekerja sendiri atau ada yang pesan," ujar Bambang.

 

Ketidakjujuran Nunun dapat merugikan posisi Nunun karena hanya dia saja yang terjerat dalam kasus ini, sementara otak dan pihak yang mendanai tidak dapat terseret dalam kasus ini.

 

JPU KPK mendakwa Nunun Nurbaetie melakukan suap terkait pemenangan Miranda Goeltom selaku Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia tahun 2004. JPU mendakwa Nunun telah melakukan suap terhadap sejumlah anggota dewan periode 1999-2004. 

Istri dari anggota Komisi III DPR Adang Daradjatun itu didakwa dengan pasal penyuapan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi karena diduga melakukan penyuapan dengan pembagikan 480 lembar cek perjalanan kesejumlah anggota dewan senilai Rp24 miliar. (msb)

 

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Intan Pratiwi

Editor : Novita Sari Simamora

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top