SENGKETA LAUT CHINA SELATAN: Asean bersatu hadapi China

JAKARTA: Para pemimpin  Asean sepakat bersatu untuk menyelesaikan sengketa perbatasan di laut China Selatan sebelum berunding dengan China.Wapres Boediono mengatakan negara-negara Asean yang mempunyai wilayah laut China Selatan akan segera menyusun
Aprilian Hermawan | 05 April 2012 10:38 WIB

JAKARTA: Para pemimpin  Asean sepakat bersatu untuk menyelesaikan sengketa perbatasan di laut China Selatan sebelum berunding dengan China.Wapres Boediono mengatakan negara-negara Asean yang mempunyai wilayah laut China Selatan akan segera menyusun code of conduct yang merupakan aturan rinci mengenai langkah-langkah bersama yang harus ditempuh bersama jika menghadapi ancaman dan gangguan di laut China Selatan."Ada semacam kesatuan pandangan, terutama perincian dari code of conduct, yang akan mengatur apa-apa yang perlu dilakukan kalau kita mengamankan laut China Selatan dari konflik, dan gangguan," ujar Wapres Boediono sesaat sebelum tiba di Tanah Air Rabumalam 4 April 2012, seusai penutupan KTT Asean ke-20 di Kamboja.Asean sebelumnya sudah mempunyai pernyataan bersama perilaku para pihak (declaration of conduct/DOC) mengenai sengketa perbatasan bahari di laut China Selatan.Declaration of conduct  yang berusia 10 tahun ini akan ditingkatkan statusnya menjadi code of conduct yang mengatur lebih rinci upaya kongkrit yang bisa ditempuh jika kembali terjadi sengketa perbatasan.Selama penyusunan code of conduct ini, Asean akan membuka komunikasi dengan China yang sudah menyatakan ingin terlibat dalam pembahasan sengketa laut itu."Asean harus membuka komunikasi dengan pihak yang sangat penting dalam pengamanan laut China Selatan, yaitu China sendiri," ujarnya.Namun, perundingan dengan China akan dilakukan jika Asean sudah mempunyai kesatuan pandangan agar posisinya lebih kuat.China dan beberapa negara Asean bersaing mengakui pulau tidak berpenghuni di laut itu, yang diyakini kaya hidrokarbon dan jalur penting pelayaran untuk perdagangan dunia.China bersaing mengakui wilayah di laut itu dengan anggota Asean lain, yakni Brunei, Malaysia, Filipina dan Vietnam.Dunia internasional juga sangat berkepentingan dengan keamanan  laut itu karena merupakan jalur perdgangan strategis.Komandan angkatan laut AS berulang kali menyatakan kekhawatiran akan kejadian kecil, seperti bentrokan baru-baru ini atas hak nelayan dan pencarian minyak di dekat kepulauan itu. Insiden kecil itu dikhawatirkan bisa meledak menjadi sengketa besar kawasan.Presiden China Hu Jintao justru mengunjungi Kamboja pada malam sebelum KTT Asean dan dinilai sejumlah pengamat sebagai  tekanan ke Phnom Penh untuk menggunakan kepimpinannya untuk memperlambat perundingan Laut China Selatan. Namun hal ini dibantah oleh Perdana Menteri Kamboja Hun Sen."Mungkin, beberapa orang berpikir bahwa selama temu puncak Asean itu ada beda pandang antara Asean dengan China. Pemikiran itu salah," katanya dalam pernyataan resmi penutupan KTT Asean. (Bsi)

Tag :
Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top