RUMAH SAKIT HEWAN: Jabar bangun RSH di Lembang

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 02 April 2012  |  17:42 WIB

 

BANDUNG: Pembangunan rumah sakit khusus hewan (RSH) di kawasan Cikole Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jabar, ditargetkan rampung pada 2013 mendatang.  Keberadaan RSH diharapkan menyelamatkan produktivitas para peternak. 
 
Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat Koesmayadi mengatakan jika sudah beroperasi, RSH ini rencananya akan menjadi rujukan 47 puskesmas hewan di Jawa Barat.  
 
"Rumah sakit hewan ini akan jadi bahan rujuk 47 puskesmas hewan di Jabar. Kalau tidak bisa ditangani oleh puskesmas hewan, bisa ditangani rumah sakit hewan ini," katanya, hari ini.
 
Rumah sakit itu, jelasnya, berada di atas lahan 8.000 meter persegi, saat ini pembangunannya dianggarkan dalam APBD 2012 sebesar Rp6 miliar.  Pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit hewan pertama yang dimiliki oleh Provinsi Jabar itu memadukan tiga layanan sekaligus yakni aktif, pasif, dan semi pasif.    
 
"Jadi rumah sakit hewan ini beda dengan rumah sakit manusia, jangan disamakan dengan rumah sakit manusia. Kan kalau rumah sakit manusia itu pasif, artinya pasien yang sakit yang datang ke rumah sakit, tapi kalau rumah sakit berbeda," kata Koesmayadi.  
 
Menurut dia, selama ini orang berpikir jika hewan peliharaannya seperti sapi sakit maka jalan terakhir untuk menyelamatkannya ialah dengan cara disembelih.
 
Untuk itu, keberadaan rumah sakit hewan tersebut secara tidak langsung dapat menyelamatkan kesejahteraan hewan dan meningkatkan produktivitas hewan ternak seperti sapi.   Kosemayadi menuturkan di Lembang saja ada populasi sapi perah sebanyak 21.000.
 
Biasanya peternak yang sapinya sakit langsung disembelih saja. "Coba anda bayangkan kalau bull [hewan sejenis banteng atau bison] di Balai Peternakan Pelatihan sakit. Hewan itu harganya ratusan juta kemudian sakit, apa nggak sayang kalau dipotong," katanya. 
 
Di Pangalengan yang juga menjadi sentra sapi, binatang ternak penghasil susu rajin terkena penyakit hipoplasia ovarium sapi. “Begitu dioperasi oleh dokter yang berpengalaman, produksi sapinya bisa kembali ke 15 liter sampai 20 liter lagi,” tuturnya. 
 
Pihaknya berjanji akan melengkapi fasilitas RSH tersebut seperti adanya laboratorium pemeriksaan kondisi kesehatan hewan yang sudah terakreditasi serta adanya beberapa tenaga medis seperti dokter hewan yang selama ini sudah bertugas memeriksa kesehatan hewan yang tersebar di beberapa UPTD.
 
Jika Rumah Sakit Hewan sudah beroperasi,berbagai jenis hewan dari mulai hewan besar, hewan kecil dan hewan kesayangan dapat diperiksa kesehatannya di rumah sakit tersebut.
 
Pihaknya juga tengah memikirkan rencana kemungkinan menjalin dengan salah satu universitas di Malaysia yang sudah sukses menjalankan pengoperasian RSH. “Di Malaysia, satu pasien (hewan) diperiksa 10 calon dokter hewan, di Indonesia sebaliknya,” katanya.  Selain itu, RSH tersebut bisa juga mengadakan fasilitas penitipan hewan. 
 
Ubah persepsi
 
Sementara itu, Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Denny Juanda keberadaan RSH tersebut akan mengoreksi paradigma rumah sakit.
 
“Dari tempat perawatan reguler menjadi pusat kendali preventif action. Agar hewan berada dalam kondisi yang sehat, bukan hanya yang sakit saja,” kata Deny. 
 
Dia menuturkan pembangunan RSH sendiri awalnya datang dari usulan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia tahun lalu. Usulan itu merujuk pada situasi di Gunung Merapi di mana banyak hewan yang sakit dan terluka, tetapi tidak ada lembaga yang mengurusnya. 
 
"Bayangkan jika banyak ternak yang sakit atau terluka, mau dibawa ke mana ternak itu? Tidak mungkin hanya Dinas Peternakan yang mengurusnya. Dinas Kesehatan pun pasti akan lebih mengutamakan pelayanannya pada manusia," kata Koesmayadi.(sut) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Wisnu Wage Pamungkas

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top