Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jiwasraya bidik hasil investasi Rp1 triliun

JAKARTA: PT Asuransi Jiwasraya (Persero), BUMN yang bergerak di bidang asuransi jiwa, mengincar hasil investasi sebesar Rp1 triliun pada tahun depan atau tumbuh sekitar 34% dari proyeksi perolehan hasil investasi pada tahun ini sebesar Rp740 miliar.Hary
Aurelia Nelly
Aurelia Nelly - Bisnis.com 28 November 2011  |  14:25 WIB

JAKARTA: PT Asuransi Jiwasraya (Persero), BUMN yang bergerak di bidang asuransi jiwa, mengincar hasil investasi sebesar Rp1 triliun pada tahun depan atau tumbuh sekitar 34% dari proyeksi perolehan hasil investasi pada tahun ini sebesar Rp740 miliar.Hary Prasetyo, Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya (Persero), berencana menaikkan dana investasi menjadi Rp9 triliun pada tahun depan menyusul proyeksi pertumbuhan premi yang diperkirakan dapat mencapai 20%.Sampai dengan akhir triwulan III tahun ini, Asuransi Jiwasraya telah merealisasikan investasi sebesar Rp6,9 triliun. Hary menyebutkan akan ada tambahan investasi hingga mencapai Rp7,5 triliun per akhir tahun ini.“Premi masuk dikurangi berbagai jenis biaya itu yang akan menjadi saldo untuk investasi. Untuk meningkatkan investasi, maka premi harus didorong sedemikian rupa. Menurut saya kami saat ini sudah cukup agresif. Saya optimistis dengan hasil tahun depan,” ujarnya kepada Bisnis, hari ini.Hary mengatakan pihaknya memilih akan mulai masuk ke pasar obligasi (bond) untuk mengantisipasi gejolak yang mungkin terjadi di pasar saham pada tahun depan. Dia mengkhawatirkan akan kembali terjadi deadlock dalam pemecahan krisis di negara-negara Eropa yang dapat mempengaruhi kondisi pasar global.“Kalau mau konservatif, simpan di bond. Tetapi kami tetap fleksibel. Kami akan melakukan review pada kuartal I dan January effect. Indikatornya dapat dilihat di akhir tahun, apakah asing masih masuk atau bagaimana,” katanya.Hal yang pasti, lanjutnya, perusahaan ekstra hati-hati dalam menempatkan dana di tengah situasi saat ini. “Saat ini dapat dibilang sebagai masa-masa selective buy,” ujarnya.(faa)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top