Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kesenjangan proteksi keluarga RI capai Rp6.281 triliun

JAKARTA: Kesenjangan perlindungan untuk seluruh keluarga Indonesia diperkirakan mencapai Rp6.281 triliun atau sekitar US$714 miliar.Demikian hasil studi yang dipaparkan oleh perusahaan yang bergerak di bidang asuransi jiwa PT AIA Finansial, hari ini.Hasil
Aurelia Nelly
Aurelia Nelly - Bisnis.com 22 November 2011  |  15:22 WIB

JAKARTA: Kesenjangan perlindungan untuk seluruh keluarga Indonesia diperkirakan mencapai Rp6.281 triliun atau sekitar US$714 miliar.Demikian hasil studi yang dipaparkan oleh perusahaan yang bergerak di bidang asuransi jiwa PT AIA Finansial, hari ini.Hasil studi tersebut menunjukkan keseluruhan perkiraan kebutuhan dana untuk menghadapi risiko yang mungkin dihadapi oleh keluarga Indonesia mencapai rata-rata Rp137,21 juta. Namun demikian, rata-rata jumlah dana yang dimiliki oleh keluarga di Indonesia jika suatu risiko terjadi adalah Rp31,48 juta.Ada kesenjangan sebesar Rp105,7 juta per keluarga yang merupakan selisih kebutuhan proteksi risiko jiwa dan dana yang dimiliki keluarga Indonesia untuk menutupi proteksi tersebut atau sekitar 77% dari risiko total.“Jika dirata-ratakan setiap keluarga di Indonesia hanya memiliki persiapan sebesar 23%. Tentunya jumlah ini tidak besar dan cukup dalam memenuhi kebutuhan proteksi yang optimal tersebut,” ujar Peter J Crewe, Presiden Direktur AIA Finansial, hari ini.Perusahaan, lanjutnya, melakukan riset selama 2 bulan terakhir terhadap 1.208 responden di enam kota besar dan enam kota kecil di Indonesia dengan metode simple random sampling.Menurut Peter, sesungguhnya masyarakat Indonesia memiliki daya yang mencukupi untuk membeli proteksi asuransi. Dia menuturkan potensi dari pertumbuhan pendapatan premi bruto cukup besar. Hanya saja, ujarnya, perlu edukasi dan sosialisasi ekstra untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk peduli terhadap proteksi risiko.Ade Bungsu, Direktur Pemasaran AIA Finansial, memaparkan sebanyak 60% keluarga Indonesia tidak menggunakan asuransi sekaligus simpanan untuk proteksi terhadap risiko. Persentase tersebut, ujarnya, diperkirakan lebih tinggi lagi jika dihitung berdasarkan individu.Berdasarkan hasil survei, ujarnya, rata-rata jumlah pendapatan keluarga yang dialokasikan untuk simpanan atau investasi hanya sebesar 18,0%. Adapun jumlah pendapatan keluarga yang dialokasikan untuk asuransi hanya sebesar 10,1%“Penetrasi pengguna asuransi pada keluarga di Indonesia hanya 17,5%. Tidak ditemukan adanya perbedaan yang signifikan antara kota besar dan kota kecil,” ujarnya.Hasbullah Thabrany, profesor Fakultas Kesehatan Publik Universitas Indonesia, mengatakan kecenderungan masyarakat Indonesia untuk tidak terlalu mempedulikan risiko disebabkan oleh dua persepsi umum.Masyarakat, ujarnya, relatif tidak melihat jangka panjang sehingga cenderung menganggap sebelah mata terhadap kepentingan untuk memiliki proteksi risiko. Di sisi lain, tambahnya, masih ada persoalan kepercayaan dan adat istiadat.“Sering kali orang yang membeli asuransi malah diomeli karena dianggap mendoakan orang untuk sakit,” ujarnya.Thabrany menuturkan biaya perawatan di Indonesia hingga saat ini rata-rata tumbuh 7%-8% per tahun, atau masih sejalan dengan inflasi umum. Akan tetapi, lanjutnya, kenaikan biaya perawatan di Indonesia mengarah pada kecenderungan tumbuh dua kali lipat inflasi umum.“Akan semakin berat jika masyarakat tidak mempunyai perlindungan [asuransi], kecuali pemerintah dapat mengubah sistem pengobatan dan kesehatan. Akan tetapi tampaknya pemerintah tidak dapat mengubah sistem tersebut dalam waktu dekat ini,” ujarnya. (faa)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top