Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Waduh, Indonesia kini lebih banyak impor rempah

JAKARTA: Kementerian Perdagangan mewaspadai nilai impor rempah yang pertumbuhannya diprediksi melebihi nilai ekspor, padahal Indonesia dikenal sebagai penghasil terbaik komoditas itu.Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan tahun ini nilai
Febriany Dian Aritya Putri
Febriany Dian Aritya Putri - Bisnis.com 18 November 2011  |  15:28 WIB

JAKARTA: Kementerian Perdagangan mewaspadai nilai impor rempah yang pertumbuhannya diprediksi melebihi nilai ekspor, padahal Indonesia dikenal sebagai penghasil terbaik komoditas itu.Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan tahun ini nilai impor rempah diperkirakan bisa mencapai US$800 juta atau meningkat48,42% dibandingkan dengan realisasi 2010 yakni US$539 juta.Sementara itu, lanjutnya, ekspor rempah diprediksi tumbuh 16,37% dari tahun lalu US$1,16 miliar menjadi US$1,16 miliar pada tahun ini.Adapun pada Januari-Agustus 2011, nilai ekspor rempah tercatat US$853 juta dan impor US$653 juta.Bayu mengatakan tumbuhnya impor rempah tahun ini merupakan indikasi pasar dalam negeri yang semakin berkembang untuk komoditas yang biasa dipakai sebagai bahan obat-obatan herbal, produk makanan, dan kosmetik itu.“Pertumbuhan impor rempah semakin meningkat setiap tahunnya, lebih besar dibandingkan dengan nilai ekspor. Ini sebetulnya menandakan bahwa pasar rempah-rempah di dalam negeri itu masih besar. Tanda-tanda ini harus diantisipasi,” jelasnya, siang ini.Dia menuturkan Kementerian Perdagangan bersama Dewan Rempah Indonesia telah sepakat untuk lebih mengeksplorasi jenis rempah guna menekan nilai impor.Bayu mengungkapkan saat ini Dewan Rempah Indonesia baru mengenali 200 jenis rempah dari sekitar 1.100 jenis yang ada di Indonesia.“Perlu dikenali lebih banyak lagi rempah supaya impor bisa ditekan.Yang sudah dikenal di Indonesia itu kan a.l. Pala, lada, jahe, temulawak, cengkih, kapulaga. Kalau yang diimpor itu misalnya bawang, lalu cengkeh dan jahe juga ada yang dari luar negeri,” paparnya.Wamendag juga mengatakan kemungkinan metode yang diterapkan dalam impor kentang bisa diberlakukan juga dalam rempah.Di samping itu, kata dia, pemerintah juga akan semakin ketat mengawasi barang-barang impor termasuk rempah atau kentang.“Kami akan bikin analisis risiko. Kalau memang barang impor itu memiliki risiko tinggi akan dilakukan verifikasi dari pelabuhan awal dan tujuan. Kalau memang tidak berisiko tinggi hanya di salah satu pelabuhan saja,” paparnya. (faa)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top