Kalbar cemaskan penyeludupan unggas dari Malaysia

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 30 September 2011  |  10:07 WIB

 

ENTIKONG,Kalbar: Kalangan peternak ayam potong dan telur di Kalimantan Barat kembali meminta pihak berwenang segera mengatasi persoalan unggas seludupan khususnya ayam beku dan ayam hidup serta telur asal Malaysia yang masuk Pos Pemeriksaan Lintas Batas Entikong. 
 
"Jika dibiarkan terus menerus akan berdampak pada terganggunya investasi dan mematikan usaha peternak," ujar Sangian Sudjono Anggie, Ketua Asosiasi Agribisnis Perunggasan (AAP) Kalbar, kepada Bisnis.
 
Menurut Sudjono penyeludupan unggas tersebut telah berlangsung cukup lama sejak 2001, dan sampai saat ini diperkirakan telah merugikan pengusaha ternak ayam di Kalbar hingga Rp 1 riliun. 
 
Untuk itu AAP yang mengimpun 60 peternak di Kalbar meminta pemerintah pusat untuk serius melihat situasi ini sebelum kondisi usaha para peternak semakin parah.
 
Selain mengancam kelangsungan investasi, akibat trading ilegal ini bakal mengakibatkan hilangnya mata pencarian sekitar 20.000 tenaga kerja di Kalbar yang saat ini mengandalkan pendapatan dari sektor peternakan ayam. 
 
Sudjono mengalkukasi sehari ada sekitar 20-30 ton ayam Malaysia masuk ke Kalbar lewat pintu perbatasan Entikong, sedangkan telur mencapai 20 ton per hari.  
 
"Selain berdampak terhadap investasi, unggas yang masuk juga bukan unggas fresh, melainkan yang sudah tidak laku di Malaysia, kemudian dibuang ke Kalbar, dengan harga murah," tegas Ketua AAP Kalbar itu.
 
Di tingkat konsumen, harga per ekor ayam asal Malaysia memang lebih murah Rp10.000 ketimbang ayam asal peternak Kalbar. Akibatnya ayam peternak lokal tidak mampu bersaing dan merugi. Demikian juga telur asal Malaysia yang harganya jauh lebih murah sekitar Rp 700 per butir dibanding telur asal peternak lokal yang per butirnya Rp 1.200.
 
Marto, peternak asal Sanggau, menambahkan maraknya ayam dan telur asal Malaysia yang masuk lewat perbatasan mengakibatkan  dirinya menderita kerugian sekitar Rp50 juta per bulan, akibatnya usaha ternak ayamnya pun tidak mampu berkembang. 
 
"Selain bersaing dengan unggas Malaysia, saya juga harus bersaing dengan sesama peternak lokal, sungguh berat usaha ini," ujarnya.
 
Marto mengungkapkan di daerahnya ada empat peternak ayam potong yang mengalami nasib yang sama dengan dirinya. Hampir setiap panen ayam mereka selalu merugi karena tidak mampu bersaing dengan ayam asal Malaysia yang jauh lebih murah.
 
Berdasarkan pantauan Bisnis di perbatasan dari Tebedu Malaysia sampai Entikong, barang-barang asal Malaysia begitu mudahnya masuk dengan menggunakan mobil boks yang per hari mencapai ratusan mobil boks.
 
Setelah keluar dari Inland Port di Tebedu Malaysia kemudian melewati pos batas ke dua negara itu, mobil-mobil boks tersebut tidak diperiksa sama sekali oleh petugas  Bea &  Cukai Indonesia.(sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Odie Krisno

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top