'Malaikat' turun ke bumi

Setelah industri kreatif, strategi pengembangan usaha yang tengah naik daun adalah apa yang disebut angel investor. Sebagai pendatang baru, ia ramai dibicarakan.Pembahasannya memunculkan dinamika tersendiri terhadap wacana pengembangan usaha, terutama
News Editor
News Editor - Bisnis.com 29 September 2011  |  19:33 WIB

Setelah industri kreatif, strategi pengembangan usaha yang tengah naik daun adalah apa yang disebut angel investor. Sebagai pendatang baru, ia ramai dibicarakan.Pembahasannya memunculkan dinamika tersendiri terhadap wacana pengembangan usaha, terutama skala kecil dan menengah. Biarkan dulu ia berkembang apa adanya sambil dikritisi. Bila belum apa-apa sudah terbentur tembok regulasi, bisa-bisa layu sebelum berkembang.So, rasanya tidak perlu pula kita meributkan hal yang remeh-temeh, misalnya dengan mempersoalkan istilah angel investor. Kok begitu sebutannya? So what gitu loh...Kalau ada padanan kata dalam bahasa ibu yang pas dan enak didengar, silakan saja diganti. Kalau belum ada, ya...terima saja 'Si Malaikat' buatan luar negeri itu apa adanya.Bersyukurlah karena ternyata kita tidak berada di lorong yang gelap dan pengap dalam mengendus keberadaan angel investor. Paling tidak 'jenis kelaminnya' sudah bisa diidentifikasi.Kini banyak orang menyebutnya sebagai investasi jenis baru yang mempertemukan antara pengusaha mikro yang mempunyai banyak ide bisnis tetapi terkendala dengan permodalan dengan mereka yang mempunyai dana tetapi tidak mempunyai ide bisnis untuk mengembangkan pundi-pundinya tersebut.Artinya, 'Si Malaikat' adalah mereka yang memiliki kekuatan finansial dan bersedia untuk memberikan suntikan dana bagi sebuah perusahaan baru.Di sinilah titik krusialnya. Ada dana yang bisa jadi jumlahnya melimpah untuk dimanfaatkan sebagai motor penggerak guna memacu kemunculan wirausahawan baru di Tanah Air. Bila pertemuan 'dua arus' ini dikawal secara smart dalam iklim usaha yang kompetitif, hasilnya niscaya sungguh luar biasa.Sebagai gambaran, bank biasanya hanya memberikan pinjaman sebesar Rp5 juta untuk usaha mikro. Kekurangan modal inilah yang diharapkan dapat dipenuhi oleh angel investor. Namun angel investor berbeda dengan program anak asuh.'Si Malaikat' harus 'membumi' dengan melakukan pembinaan bagi mitranya, baik secara strategi maupun formalisasi usaha. Kedua belah pihak mesti bekerja sama merencanakan masa depan bisnis.Pijakan ke sana sudah mulai terlihat. Setahun terakhir bermunculan berbagai forum yang ingin mempertemukan pengusung ide usaha dan pemodal dalam semangat B to B yang kental.Mereka yang memiliki ide-ide bisnis jempolan ditantang langsung menuju medan laga. Bendera kompetisi sudah dikibarkan. Ibarat olahraga, pertandingan harus berjalan secara fair dan enak ditonton. Proses menuju podium hendaknya menggeliat dengan menjunjung tinggi etika bisnis, transparansi, dan akuntabilitas. Dengan demikian 'sang juara sejati' lahir dari hasil 'perkawinan' yang sah.Bibit-bibit unggul dari mana saja dipersilakan ikut 'lomba', tak terkecuali anak bangsa yang sedang bermukim di negeri orang. Hal ini antara lain tengah dirintis Mekar Entrepreneur Network yang mencari 10 perencana bisnis inovatif berstatus WNI yang tinggal di AS untuk mau berbisnis di Tanah Air dengan tawaran modal dari angel investor Indonesia.Mekar adalah unit bisnis Putera Sampoerna Foundation. Lembaga ini akan mempertemukan para perencana bisnis dengan sekitar 100 angel investor lewat kompetisi bertajuk Indopreneur USA. Nantinya angel investor yang tertarik akan ide peserta lomba dapat memberi modal sesuai kebutuhan pemilik ide.Tenang saja, 'Si Malaikat' tak sulit dicari. Global Entrepreneurship Program Indonesia (GEPI), misalnya,segera membentuk jejaring angel investor untuk membantu pengembangan pebisnis pemula di Indonesia. Sedikitnya 12 pengusaha pendiri sedang digalang untuk merealisasikan program tersebut.Dalam hal ini kita bisa belajar banyak dari AS, karena berhasil mendukung lahirnya angel investor yang mau memfasilitasi para pebisnis pemula meski masih dalam tahap ide bisnis. Di Negeri Paman Sam, strategi pengembangan semacam itu terbukti efektif berperan sebagai alternatif pembiayaan. Alhasil, alam tahap selanjutnya pebisnis mikro bisa dilirik oleh bank atau memperoleh manfaat maksimal dari keberadaan modal ventura.Kita pun bisa seperti itu sepanjang semua pemangku kepentingan komit dan memiliki visi yang sama untuk mengembangkan pengusaha kecil menengah. Berdasarkan perhitungan Badan Pusat Statistik, jumlah wirausaha di Tanah Air baru berkisar 0,25% dari populasi penduduk, yang saat ini diperhitungkan lebih dari 240 juta orang.Angka ini lebih rendah dari standar negara-negara maju yang mencapai 2% dari total penduduk. Salah satu hambatan yang dihadapi pengusaha adalah kesenjangan ekuitas. Kondisi ini terjadi saat dana pribadi tidak mampu lagi mendukung suatu usaha. Sementara itu, usaha tersebut belum memiliki cukup jaminan dan sejarah pinjaman untuk mendapatkan dana dari lembaga keuangan atau investor.Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk mencapai standar global tersebut. Bila saat ini pelaku usaha skala UKM di Indonesia 'baru mampu' menyumbang 56,7% terhadap keseluruhan Produk Domestik Bruto, kontribusi tersebut diharapkan bisa jauh meningkat.Kita optimistis, apalagi 'malaikat penyambung usaha' sudah hadir di depan mata. 

 

*) Tulisan ini diadopsi dari harian Bisnis Indonesia. Untuk membaca berita-berita dan memperoleh referensi terpercaya dari Bisnis Indonesia, silahkan klik epaper.bisnis.com, dan Anda juga bisa berlangganan dengan register langsung ke koran Bisnis Indonesia edisi digital.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Inria Zulfikar

Editor : Marissa Saraswati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top