IMF: Bank negara berkembang terdampak krisis global

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 25 September 2011  |  15:08 WIB

 

JAKARTA: Dana Moneter Internasional menyatakan perbankan di negara berkembang tidak terlindungi dari konsekuensi melemahnya pertumbuhan global. 
 
Dalam laporan yang dirilis pekan lalu, IMF menyatakan menyatakan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio) perbankan di negara berkembang akan turun hingga 6% berdasarkan berbagai kombinasi skenario guncangan pasar.
 
Kemungkinan penurunan kecukupan modal perbankan emerging market, akibat dampak penurunan kinerja perbankan di Eropa. Krisis utang Eropa telah menimbulkan kredit berisiko tinggi di perbankan Benua Biru dengan nilai tak kurang dari 300 miliar euro.
 
Namun, analisis tersebut dinilai sejumlah bankir tidak relevan dengan kondisi Indonesia. Perbankan nasional dinilai masih memiliki ketahanan dalam menghadapi skenario terburuk dari pelemahan global.
 
“Menurut saya kalau dengan perbankan Indonesia analisa IMF tersebut tidak berlaku karena eksposur perbankan ke Eropa sangat sedikit sekali. Ekspor Indonesia juga kebanyakan ke China, Amerika Serikat dan Australia,” ujar Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk, kepada Bisnis, hari ini,
 
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) eksposur langsung perbankan nasional yang memiliki keterkaitan dengan krisis Eropa dan Amerika Serikat hanya 3,13% dari total aset industri.
 
Gatot M. Suwondo, Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia TBK, juga memiliki optimisme yang serupa. Dalam hitungan Gatot, rasio permodalan industri perbankan akan tetap berada di level 10% apa bila terjadi skenario terburuk yang dikhawatirkan IMF.
 
“Saat ini CAR industri perbankan sekitar 16%, sehingga kalau kekhawatiran IMF itu terjadi maka CAR akan berada di level 10%, masih diatas ketentuan BI,” ujarnya.
 
Meski demikian, menurutnya, perbankan nasional tetap harus melakukan mitigasi risiko, terutama dalam penyaluran kredit, demi mengantisipasi dampak buruk pelemahan global. 
 
Dia menjelaskan sebaiknya perbankan tetap konservatif dalam pertumbuhan kredit dan menghindari pembiayaan valuta asing kepada debitur yang tidak memiliki pendapatan dalam mata uang asing. “Dan yang paling penting lagi adalah menjaga likuiditas,” ujarnya.
 
Sebelumnya, Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah menyatakan uji ketahanan (stress test) yang dilakukan terhadap perbankan nasional masih menunjukan likuditas dan permodalan bank dalam negeri dalam koridor aman. 
 
Meski mengaku belum membaca laporan IMF tersebut, dia optimis rasio permodalan bank nasional masih akan berada di atas 8% bila terjadi skenario terburuk pada perekonomian global. 
 
“Kami telah melakukan stress test [uji ketahanan] yang hasilnya likuiditas dan permodalan bank masih aman. Walaupun terjadi skenario terburuk, CAR bank masih diatas 8%,” ujarnya.
 
Suhaedi, Peneliti Utama Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI, belum lama ini menyatakan uji ketahanan terhadap perbankan dalam negeri dilakukan setiap bulan. 
 
Menurut dia, perbankan nasional masih memiliki ketahanan ketika menjalani uji ketahanan dengan skenario perekonomian mengalami penurunan hingga minus lima (-5).  “[Uji ketahanan] dilakukan kalau terjadi penarikan dana nasabah. Keluarnya dana asing dari pasar modal dan SUN [Surat Utang Negara]. Seberapa kuat perbankan kita,” ujarnya.
 
Hingga akhir Juli 2011, CAR perbankan nasional berada pada posisi 17,24% jauh diatas ketentuan bank sentral. Selain itu likuiditas bank dalam negeri cukup besar dengan rasio intermediasi atau loan to deposit ratio sebesar 79,79%.
 
Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) hingga pada Juli juga cukup terjaga dengan posisi NPL gross sebesar 2,8% dan  NPL net sekitar 0,6%. (20) 
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Donald Banjarnahor

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top