Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menjadi orangtua teladan bagi anak

Seorang anak yang baru dilahirkan selalu dianalogikan seperti kertas putih yang bersih tanpa noda. Orang yang pertama kali akan menulisi kertas tersebut sudah pasti adalah orangtua.Apapun yang dilakukan oleh orangtua akan menjadi sumber pelajaran pertama
News Editor
News Editor - Bisnis.com 24 September 2011  |  08:48 WIB

Seorang anak yang baru dilahirkan selalu dianalogikan seperti kertas putih yang bersih tanpa noda. Orang yang pertama kali akan menulisi kertas tersebut sudah pasti adalah orangtua.Apapun yang dilakukan oleh orangtua akan menjadi sumber pelajaran pertama sang anak. Tak hanya itu, orangtua kerap menjadi sosok idola bagi anak saat dia dewasa. Maka tak heran, anak sering menduplikasi sikap dan prilaku orangtua."Orangtua adalah cermin bagi anak-anak. Semua kata dan tindakan, serta cara pandang kita akan dengan mudah ditiru anak," ujar Sriati Rovian Rusmin, Direktur PR Marven.Artinya, kata  ibu dari 4 anak ini, akan sulit dan juga tidak adil bila mengharapkan anak melakukan sesuatu yang orangtuanya sendiri tidak melakukannya. Apalagi anak jaman sekarang lebih kritis."Bapaknya sih merokok. Namun, Alhamdulillah anak-anak tidak ikutan.Saya suka ke mal, tapi anak-anak tidak begitu suka. Malah mereka suka protes karena bapaknya suka merokok. Atau protes kebiasaan saya yang konsumtif," ujar perempuan eksekutif yang juga dosen di sebuah perguruan tinggi swasta ini sembari tertawa.Lain lagi yang disampaikan Ruri Ramadhanti, Kepala Sekolah Darul Hikam International School (DHIS) Bandung. "Sebetulnya menurut Islam konsep pendidikan yang paling efektif adalah keteladanan. Rasulullah mencontohkan hal tersebut baik kepada keluarganya, dan sahabat-sahabatnya, serta umatnya," ujarnya.Menurut Ruri, keteladanan yang konsisten adalah bukti komitmen kuat orangtua, guru, dan pimpinan, dalam membina anak, siswa, dan masyarakat. Seorang pemimpin (orangtua kan pemimpin dalam keluarga), akan 'gagu' saat menerapkan sebuah aturan ketika dirinya masih melanggar aturan itu.Contohnya seorang bapak perokok akan susah melarang anaknya merokok, karena anak setiap hari melihat bapaknya melakukan hal itu. "Kok bapak boleh aku nggak?" ujarnya.Jadi, lanjutnya, sebelum orangtua menerapkan suatu aturan di rumah, sebaiknya dia memberikan contoh dulu. Jangan makan junkfood kalau anaknya diminta untuk hidup sehat.Sementara itu Yully Purwanti, Senior Manager Divisi Corporate Secretary PT Mitra Adi Perkasa (MAP), menuturkan menjadi panutan bagi anak tentu bukan perkara mudah.Untuk anak usia dini, lanjutnya, memberikan panutan dengan tindakan dan kata-kata akan langsung mengena. Sebab, anak-anak cepat tanggap pada hal-hal yang dia dengar dan dilihatnya.Peniru ulungMenurut psikolog tumbuh kembang anak Lina Erliana anak adalah peniru ulung. Semua aktivitas orang tua selalu dipantau anak dan dijadikan model yang ingin dicapainya.“Semua prilaku orangtua termasuk kebiasaan buruk yang dilakukan akan mudah ditiru oleh anak” tuturnya.Lina menuturkan adapun beberapa beberapa tip yang dapat dilakukan agar menjadi orangtua yang ideal dalam mendidik anak yakni pertama mengubah pola mendidik anak dan mulai menerapkan pola child center. Artinya, orangtua mengambil posisi sejajar dengan anak atau lebih dikenal dengan menjadikan orangtua sebagai sahabat anak.Kedua, menyediakan waktu untuk anak. Komunikasi yang baik memerlukan waktu yang berkualitas dan ini yang kadang tidak dipikirkan oleh orangtua. Tak sedikit orangtua yang meyakini yang penting adalah kualitas bukan kuantitas.Jangan tunggu sampai anak bermasalah. Setiap kali ada kesempatan, manfaatkan momen tersebut untuk mengajak anak bicara. Bicara di sini tidak sekadar basa-basi menanyakan apa kabarnya hari ini. Akan tetapi sebaiknya orang tua juga bisa menyelami perasaan senang, sedih, marah maupun keluh kesah anak.Ketiga, para orangtua khususnya Ibu dituntut untuk mampu mengenali bahasa tubuh dari sang anak. Untuk mengungkapkan kemauannya terkadang mereka tak mengatakannya secara verbal, melainkan lewat bahasa tubuh.Dengan mengenali bahasa tubuh dengan baik, orang tua diharapkan bisa memberikan kasih sayang yang tak hanya dilontarkan dalam kata-kata, tetapi lewat sentuhan bahasa tubuh.Keempat, penting bagi orang tua untuk bisa memahami perasaan anak. Banyak kasus terjadi perang dingin antar orang tua dan anak, bahkan beberapa anak secara terbuka kabur dari rumah karena merasa orang tuanya tak dapat memahami perasaan mereka.Kelima, untuk menjadi orang tua ideal, jadilah pendengar yang aktif. Anak-anak umumnya cenderung ingin didengarkan. Dengan demikian anak akan tahu bahwa orang tua mampu memahaminya seperti yang mereka rasakan. Bukan seperti yang dilihat atau disangka orang tuanya.Cara ini akan membuat anak merasa penting dan berharga. Selain itu anak akan belajar untuk mengenali, menerima, dan mengerti perasaan mereka sendiri serta menemukan cara untuk mengatasi masalahnya sendiri.Terakhir adalah menerapkan sikap disiplin dan konsisten di dalam keluarga. Orangtua adalah panutan yang utama bagi anak-anak. Seorang panutan yang baik harus selalu bersikap konsisten pada apa yang akan ditanamkannya.(api) 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Rahmayulis Saleh & Mardiyah Nugrahani

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top