Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mooryati Soedibyo: Ngeloni buku demi suksesi

JAKARTA: Perjalanan Mooryati Soedibyo, pendiri PT Mustika Ratu Tbk, berawal dari bisnis rumahan yang memproduksi jamu dan produk perawatan kecantikan.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 26 Januari 2011  |  02:01 WIB

JAKARTA: Perjalanan Mooryati Soedibyo, pendiri PT Mustika Ratu Tbk, berawal dari bisnis rumahan yang memproduksi jamu dan produk perawatan kecantikan.

Tak berhenti di situ saja, Mooryati lalu merambah ke dunia politik dengan berkiprah sebagai anggota Majelis Permusya waratan Rakyat (MPR) periode 1997-1999 dan dilanjutkan dengan menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Provinsi DKI Jakarta sekaligus Wakil Ketua MPR pada periode 2004-2009.

Mooryati juga berhasil mengantarkan Mustika Ratu pada generasi kedua. Pada 12 Januari lalu, Mooryati menyerahkan pimpinan pucak perusahaan kepada anak keduanya Putri KuswisnuWardani.

Berikut petikan wawancara dengan Mooryati perihal perjalanan bisnis, kegiatan politik, dan kegiatan yang akan dilakoninya selepas suksesi kepemimpinan.

Bagaimana awal mula mendirikan usaha jamu dan kosmetik tradisional?

Saya ini bisa dibilang orang awam yang tidak dibina oleh orang tua untuk menjadi pengusaha. Pendidikan saya sangat tradisional, sangat kuno karena masa kecil saya dihabiskan di Keraton Kasunanan Surakarta. Eyang saya Paku Buwono X mendidik saya untuk bisa menguasai keterampilan sesuai dengan tradisi, misalnya menari Jawa, sastra, seni busana, dan seni karawitan.

Di keraton, bahan-bahan alami dari biji pohon, akar, dan lain-lain secara turun temurun digunakan karena memiliki khasiat untuk perawatan kesehatan, penampilan, dan kesejahteraan lahir batin.

Jadi kalau kemudian memilih usaha di bidang kosmetik bukan karena saya mendapat pendidikan dokter terus jadi ahli kecantikan kulit. Kenapa saya juga memproduksi kosmetik dan tidak hanya jamu? Pada masa kecil kan saya terbiasa menari. Saya terbiasa merias wajah saya sendiri dan mendandani putri-putri keraton setiap kali ada hendak menari untuk upacara atau ketika ada kunjungan tamu agung. Saya juga tidak dipersiapkan untuk mempelajari bisnis.

Orang tua saya hanya menekankan agar saya menjadi perempuan yang bisa melayani keluarga. Pada1972, sebelum suami saya Soedibyo PurboHadiningrat pension dari Departemen Perindustrian, saya sudah minta izin pada Menteri Perindustrian, waktu itu Jenderal M. Jusuf, mengenai niat saya untuk berdagang setelah suami saya pensiun.

Meski keluarga saya tidak memiliki latarbelakang pebisnis, saya akhirnya bisa berdagang. Karena apa? Semua berkat jiwa entrepreneurship.

Bisa diceritakan cikal bakal Mustika Ratu?

Suami saya semasa hidup bekerja di Departemen Perindustrian.

Saya aktif di Rukun Istri Departemen Perindustrian. Dari sini saya banyak berhubungan dengan Anda-Anda dan mulai mengajarkan mengenai perawatan kesehatan dengan ramuan alam yang dibuat sendiri.

Waktu itu saya belum memasarkan produk. Saya ajarkan mereka menanam bahan-bahannya di pot, kebun kecil. Menanam apa saja, mulai dari kunyit, temulawak, jahe, temu giring, apa saja bisa. Itu kan gampang sekali.

Setelah itu Anda-Anda mulai memesan jamu ke saya. Alasannya, ramuan yang mereka buat tidak sama hasilnya dengan yang saya ajarkan. Pesanan semua dikerjakan di garasi rumah yang juga menjadi tempat tinggal saya dan keluarga di Jalan Sawo.

Produknya terbatas sekali, hanya tiga produk. Pertama kali dipasarkan mereknyaT's Beauty Secret. T itu dari Tati,nama panggilan saya di keluarga.Semua berlangsung pelan-pelan.

Dari dua orang pekerja menjadi 50 orang pekerja. Suami awalnya sempat mengeluh karena lama-lama tidak ada privasi di rumah. Selain itu, bau jamu juga dikeluhkan tetangga.

Apa saat-saat sulit yang dihadapi dalam periode awal menjalankan usaha?

Garasi tempat kami produksi awalnya. Tapi prinsip saya waktu itu, yang penting bisa berproduksi. Saya ikut menumbuk sendiri bahan-bahan jamunya.

Karena menggunakan tangan, hasil buatannya yang tidak seragam juga menjadi kendala pada masa-masa awal produksi. Hasil tumbukan ada yang kasar, ada yang terlalu lembut.

Untuk bikin sampo merang misalnya, prosesnya panjang sekali. Merang dibakar, setelah itu dikukus, sarinya dimasukkan dalam botol. Pembuatan penghalus kulit juga manual, misalnya pembuatan air mawar yang mesti disuling.

Sebelum dikirim, kualitas produkjuga sering berubah saat disimpan.Bisa warnanya yang berubah atau air dan sari dari bahannya terpisah. Jadi banyak juga produk yang kembali. Jumlah produk yang laku lumayan, tapi yang dikembalikan juga banyak.

Buat saya tidak masalah karena dalam hidup ada pengalaman naik dan turun. Pengalaman sulit bisa dilewati dengan perjuangan. Kalau ada kemauan yang kuat saya yakin orang tidak akan menyerah.

Masa kecil Anda dihabiskan di Keraton, lalu harus berjibaku untuk berusaha dan terlibat sendiri di proses produksi. Apa tidak ada perlawanan dari dalam hati?

Saya tidak pernah berpikir bahwa karena saya dibesarkan di keraton lalu harus mengurus usaha ini. Wah kalau berpikir ke sana, nanti tidak bisa bekerja saya. Lupa mungkin ya.(Mooryati tertawa). Ayah saya itu putra dari Bupati Demak tapi selalu mengajarkan saya sikap sederhana.

Bagaimana fase selanjutnya hingga sampai mendirikan pabrik?

Karena garasi rumah sudah tidak memungkinkan, akhirnya tempat produksi pindah ke Ciracas pada 1978 di lokasi awal seluas 800 m2. Kami lalu mendirikan pabrik pada 1981.

Modalnya sekitar Rp60 juta dari dana sendiri. Pelan-pelan mulai mendatangkan mesin. Kerja saya ya merangkap, dari urusan keuangan, produksi, sampai marketing dan promosi.

Saya dulu pernah memberi konsultasi kesehatan dan kecantikan dengan ramuan tradisional di surat kabar dan TVRI. Ini bermanfaat sebagai sarana promosi gratis. Lama-lama produk berkembang, kami juga membidik usaha lain yang masih terkait, yaitu bisnis spa.

Bagaimana Anda memandang perjalanan Mustika Ratu?

Dulu saya tidak pernah mengguna kan konsultan. Jadi rasanya perkembangan perusahaan terasa begitu lama.

Kalau lebih cepat melibatkan konsultan manajemen, perusahaan mungkin bisa lebih maju. Tapi tidak apa-apa, kan alon-alon asal kelakon. Karena saya juga tidak mengerti. Dulu engga ngerti itu business plan, pengaturan uangnya bagaimana, untung rugi kalau investasi dengan dana sendiri dan pinjaman bank, return on investment bagaimana. Tapi saya sangat mensyukuri apa yang saya dapatkan selama saya membangun perusahaan.

Bersyukur karena saya bisa meneruskan kepada generasi kedua dalam keadaan bagus, bukan dalam keadaan bubrah. Sekarang perusahaan makin berbenah. Bagian riset dan pengembangani perkuat. Inovasi terus dilakukan. Kosmetik sekarang bervariasi. Lulur misalnya ada kocok, ada krim. Kami sadar bahwa kami harus berkembang sesuai dengan tren dan permintaan konsumen.

Bagaimana Anda mempersiapkan suksesi kepemimpinan di Mustika Ratu?

Proses memilih Putri sebagai pengganti itu berlangsung lama. Setelah selesai S1, Putri ikut job training diperusahaan, lalu menjadi Kepala Departemen Promosi dan Periklanan pada 1986. Setelah mendapatkan pendi dikan Master of Business Administrationdari National University Inglewood, California, Amerika Serikat, karier Putri terus berkembang dari Manajer Keuangan, kemudian Wakil Presiden Direktur. Saya sudah tidak mengurusi operasional perusahaan dan menyerahkan kepada Putri.

Saya juga meneliti peralihan kepemimpinan puncak di perusahaan ke luar ga sebagai bahan disertasi saya diS3 UI bidang Strategic Management diUniversitas Indonesia. Dari sini sayabelajar banyak mengenai suksesi.

Selama membuat disertasi, referensi saya banyak. Saya sampai tidur ngeloni buku demi suksesi. Salah satu yang saya pakai adalah apa yang disampaikan Bob De Wit dari University of Amsterdam bahwa sukses itu harus memperhatikan konteks, proses, dan konten

John P. Kotter, profesor dari Harvard Business School juga menekankan pentingnya faktor kepemimpinan.Maju atau mundurnya satu perusahaan lebih bergantung pada kepemimpinan.

Jadi kalau ada perusahaan yang gagal, ya kepemimpinannya dilihat saja. Itu sebabnya kepemimpinan harus dibina, disiapkan. Tidak bisa mendadak.

Mengapa saya memilih Putri? Karena dia mau dan mampu. Anak saya yang pertama Djoko Ramiadji misalnya senangnya dengan konstruksi.

Biasa menyemen jalan tol, ya tentu saja tidak mau diminta menyemen pipi. Putri juga bisa menerima pesan-pesan dari pendiri. Saya juga ikhlas.

Kalau saya setengah-setengah menyerahkannya, ya nanti tidak semua pengetahuan diberikan. Putri juga sudah bersama saya selagi saya masih menjalankan perusahaan. Jadi ada proses interaksi dan konsultasi.

Saya berharap perusahaan dapat berjalan terus. Jangan seperti pepatah China: "The first generation workedvery hard, the second generation livedlike a king, the third generation hadnothing left".

Mengapa Anda masuk ke dunia politik?

Saat kampanye untuk kursi anggota DPD saya sedang menyusun disertasi di UI. Jadi aktivitas tidak terlalu padat, hanya riset saja. Setelah masuk DPD, saya terpilih menjadi Wakil Ketua MPR sekaligus anggota Panitia Ad Hoc III DPD, yang antara lain membidangi masalah pendidikan,kesehatan, dan kesejahteraan, termasuk kesejahteraan perempuan. Tujuan saya untuk memperjuangkan kaum perempuan. Banyak perempuan yang memiliki kapasitas tapi tidak berani terlibat ke dunia politik.

Memang modalnya adalah kemauan, keberanian, dan kemampuan. Jangan sampai hanya berhenti pada keinginan saja. Kalau cuma ingin saja, mikir tok, mimpi tapi tidak bangun-bangun atau tidak bergerak, ya orang lain yang mengerjakan.

Setelah suksesi kepemimpinan, apalagi mimpi Anda?

Saya sekarang Wakil Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan di Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial. Saya juga think tank World Entrepreneurship Forum. Ini sudah tahun ketiga saya memberikan pengembangan entrepreneurship.

Semua individu harus punya jiwa entrepreneurship. Gerakan untuk berkembang lebih maju dan bagaimana bisa mengembangkan kemakmuran serta keadilan sosial. Saya berharaplebih banyak perempuan yang bisa berkarya, bisa maju.

Sekarang kan sudah lebih mudah. Perempuan yang berkeluarga dan memiliki anak bisa bekerja di rumah karena teknologi informasi sudah sangat membantu.

Selain itu, saya kan masih pendiri Mustika Ratu meski sudah suksesi. I'm still responsible for the business growth and sustanaibility of Mustika Ratu. Jadi saya masih membantu menangani riset dan pengembangan produk. Saya juga masih terlibat dalam rapat Dewan Komisaris.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top