Sri Mulyani: Ingin tunjukkan wajah positif Indonesia

WASHINGTON DC: Sejak menjabat Direktur Pelaksana Bank Dunia, 1 Juni 2010, suara Sri Mulyani Indrawati nyaris tak terdengar di ranah publik Indonesia. Beruntung, di sela-sela agenda kerjanya yang padat, dia bersedia menerima Bisnis di kantornya, lantai
News Editor | 17 Desember 2010 14:02 WIB

WASHINGTON DC: Sejak menjabat Direktur Pelaksana Bank Dunia, 1 Juni 2010, suara Sri Mulyani Indrawati nyaris tak terdengar di ranah publik Indonesia. Beruntung, di sela-sela agenda kerjanya yang padat, dia bersedia menerima Bisnis di kantornya, lantai 12 World Bank Main Complex Building, 1818 H Street, NW, Washington DC, AS, Rabu, 13 Oktober 2010.

Dia bicara tentang berbagai hal, mulai dari tantangan ekonomi global sampai perasaannya berada pada posisi penting di sebuah organisasi bergengsi. Namun dia menolak membahas politik di Tanah Air maupun kasus Bank Century. Berikut petikan dialog itu:

Bisa ceritakan kesibukan Anda sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia?

Terakhir ini, sidang tahunan Bank Dunia. Seperti Anda tahu, 2008-2009 ada krisis global yang memberi pelajaran berharga bagi seluruh dunia. Pelajaran bagi negara maju, dalam hal regulasi keuangan, supervisi keuangan, dan bagaimana mereka harus merekonstruksi lagi sistem keuangan mereka.

Secara global, ini dibahas di G-20, sidang tahunan IMF dan Bank Dunia. Yang paling penting, dengan adanya krisis keuangan global itu diperkirakan 84 juta orang akan terpengaruh, berada di bawah garis kemiskinan. Dan itu berarti job and task Bank Dunia, karena kita bertujuan menciptakan dunia tanpa kemiskinan. Setback seperti itu akan memberikan tantangan yang makin besar.

Selama 3 tahun, 2008-2010, Bank Dunia menaikkan jumlah bantuannya ke banyak negara karena permintaan begitu besar. Semuanya ingin melakukan kebijakan countercyclical. Pada saat ekonominya menurun pemerintah harus berbuat banyak untuk bisa menahan penurunan ekonomi sehingga tidak makin buruk, atau kalau lebih bagus lagi, bisa recover secara cepat.

Nah, caranya adalah dengan kombinasi pemerintah harus belanja lebih. Biasanya untuk infrastruktur, social safety net, dan juga untuk memperbaiki policy, memperbaiki birokrasi, dan governance supaya mereka bisa resilient [bertahan]. Dan ternyata hal itu cukup efektif.

Kalau kita lihat, kontraksi ekonomi banyak negara miskin dan berpendapatan menengah selama 2008-2009, terutama 2009 setelah krisis dan semester I/2010, menunjukkan resiliency. Mereka memang turun [ekonominya], tetapi turunnya tidak sedalam negara-negara maju dan pemulihannya sangat cepat di semester I/2010.

Jadi, itu menggambarkan banyak negara berkembang sekarang sudah lebih pandai, lebih ahli, lebih bisa bereaksi secara baik saat krisis melanda dunia dan juga bahwa kebijakan ekonominya ternyata cukup baik. Dibandingkan dengan 1980-1990, siklus krisis itu terjadi.

Saya baru kembali dari Amerika Latin, seminggu sebelum sidang tahunan Bank Dunia, ke Meksiko, Kolombia, Peru, dan negara-negara Amerika Latin. Pada 1980-1990 negara-negara itu selalu dalam siklus krisis: krisis perbankan, krisis nilai tukar, krisis fiskal, yang terjadi terus menerus.

Sekarang, amazingly, dengan shock yang begitu besar pada 2008 negara-negara Amerika Latin relatively masih bisa menjaga ekonominya, baik makronya, pertumbuhannya, kontraksinya sangat terbatas, bahkan sekarang pulih sangat cepat. Inflasinya juga luar biasa bisa dijaga rendah, nilai tukarnya bahkan sekarang makin menguat, serta perdagangan dan investasinya mulai membaik lagi.

Ini menggambarkan perkembangan sangat bagus. Banyak negara middle income, developing countries, low income countries di Afrika berkembang dengan baik.

Di dalam proses ini, Bank Dunia selama 2 tahun ini melakukan banyak sekali dukungan kepada semua negara. Karena selama mereka melakukan countercyclical, nggak semua negara memiliki sumber dana, apalagi waktu itu pasar kolaps.

Artinya, yang traditionally seperti Meksiko, Brasil, mereka bisa masuk ke pasar menjual obligasi untuk membiayai defisit, pasarnya shut-down atau likuiditas tidak ada. Dan mereka semuanya meminta pinjaman untuk bisa memperbaiki atau melakukan countercyclical secara tepat waktu, karena kalau lambat, ekonominya sudah terlanjur crash.

Jadi Bank Dunia dalam 2 tahun ini menaikkan operasionalnya hingga 3 kali lipat. Permintaan di mana-mana, seluruh negara berkembang di dunia, dan hasilnya bagus. Anda lihat ceritanya di sidang tahunan ini, everybody will talk about the developing country is more resilient. They are now an engine of growth...cerita-cerita bahwa negara berkembang sekarang sudah bisa bertahan dari krisis, bahkan menjadi penyangga dari ekonomi dunia, dan baik hasilnya.

Perbedaan apa yang Anda rasakan antara mengelola institusi keuangan sebesar Bank Dunia dengan mengelola Kementerian Keuangan RI?

Kalau besarnya, lebih besar Kementerian Keuangan. Bank Dunia punya sekitar 10.000-11.000 [staf], sedangkan Kemenkeu 64.000 pegawai. So it's much bigger, kalau orangnya ya. Kalau dari sisi kompleksitasnya, juga Indonesia is very complicated. Bank Dunia is another complicated karena dijalankan dengan luas. Jadi perbandingannya adalah mungkin dari sisi yang menarik-karena sekarang dalam posisi manajemen-bisa lihat perbandingannya antarnegara.

Tema Bank Dunia sekarang adalah ingin menjadi a global knowledge bank. Bahkan dengan open data, open access, open solution, jadi teman-teman di Indonesia seperti Anda tidak perlu susah-susah, free untuk akses banyak informasi dari Bank Dunia. Yang dulu banyak tidak dibuka, sekarang dibuka.

Jadi Bank Dunia ini berubahnya luar biasa banyak. Ini kan bank miliknya dunia, karena yang punya 187 negara, jadi kalau masih ada orang yang mengatakan ini yang punya segelintir, apalagi cuma Amerika Serikat, rasanya sudah tidak begitu. Kalau mau lebih kritis untuk lihat dari dalam. Posisi pemegang saham makin seimbang, bahkan kalau dilihat di internalnya, Presiden Bank Dunia Robert Zoellick menunjuk 3 direktur pelaksana semuanya dari negara berkembang. Manajamen, dalam hal ini interaksi kita, antarkita sendiri, dan dengan komposisi Dewan Eksekutif, artinya direktur eksekutif yang pak Hekinus Manao [Irjen Kemenkeu] nanti akan menjadi wakilnya Indonesia dan 12 negara lain, akan mengawasi kita cara beroperasi.

Tapi yang mengawasi kita tidak cuma Dewan Eksekutif. Yang mengawasi adalah seluruh dunia sebagai pemilik saham. 187 negara. Rakyatnya, medianya, karena mereka punya akses. Oleh karena itu, kompleksitasnya adalah kita harus accountable. Kita professional, kita harus punya kepastian dalam operasional, perbaikan kita dalam hubungan dengan klien harus makin baik dan negara berkembang termasuk Indonesia itu suaranya sangat didengar di sini.

Kalau kita berkontribusi, ikut dalam pembentukan strategi dan kebijakannya, Indonesia bisa bersuara, makanya penting untuk punya wakil-wakil yang baik. Di dalam forum-forum regional, global, karena suara kita sangat disegani, karena kita punya size negara yang cukup besar dan punya kompleksitas yang begitu banyak.

Jadi kalau kita lihat, saya rasa tantangannya adalah bagaimana membuat Bank Dunia sekarang makin bisa berbuat efektif untuk membantu banyak negara low income, middle income. Sekarang ini, dengan middle income yang begitu banyak ragam. Amerika Latin lagi booming, Timur Tengah punya tantangan maupun kesempatan luar biasa, Eropa Timur punya persoalan sesudah krisis, Asia Selatan seperti India, Pakistan...Asia Timur yang begitu dinamis luar biasa.

Bank Dunia beroperasi beda dengan bank pembangunan regional yang fokus pada kawasannya. Kita beroperasi di seluruh dunia. Bagaimana membuat kita posisinya sangat bisa membantu sehingga negara-negara mitra yang memanfaatkan kita bisa ambil manfaatnya.

Umpamanya Indonesia mau belajar tentang apa yang berhasil di Brasil, atau apa yang tidak berhasil, karena kalau Anda mau bicara tentang pembangunan, segala macam. Bangun irigasi, sekolah, kesehatan, listrik, infrastruktur, perbaiki situasi tenaga kerja, mengurangi pengangguran... itu dirasakan oleh seluruh dunia.

Bisa tukar pikiran, oh ada negara sudah bikin kebijakan seperti ini tidak jalan tuh, itu kan bisa kita pelajari supaya bisa kita hindari juga. Jadi kompleksitasnya, tantangannya sangat menarik, sangat banyak.

Saya rasa sebagai bagian dari manajemen sekarang sangat banyak yang harus ditata dan sangat menantang secara intelektual, secara akademik, secara skill. Orang seperti saya dengan pengalaman di Indonesia yang begitu banyak, saya bisa banyak sekali aktif di sini melakukan banyak sekali engagement dan banyak gunanya untuk Bank Dunia belajar dari apa yang terjadi di Indonesia.

Bagaimana cara Anda mentransfer pengalaman dan keberhasilan mereformasi tubuh Kementerian Keuangan kepada Bank Dunia agar governance-nya lebih menyuarakan negara berkembang?

Reformasi internal Bank Dunia, komposisinya, yaitu peranan negara berkembang sudah semakin seimbang dan sebetulnya kadang-kadang seperti Indonesia yang sahamnya di bawah 1% pun bisa bersuara luar biasa keras dan mempengaruhi kalau kita bisa menyampaikan argumen yang masuk akal.

Artinya Indonesia itu, pengalaman pembangunannya luar biasa. Saya tidak pernah merasa bahwa saya, karena sahamnya di bawah 1% terus saya tidak bisa ikut ngomong. Enggak tuh. Pengalaman saya di sini luar biasa, bahwa kalau Anda mau bicara tentang reformasi pajak, mungkin suara saya jauh lebih berbobot daripada AS yang sahamnya sekitar 16%, karena mereka tidak melakukannya. Atau mereka mungkin sudah melakukan dulu dan mungkin tidak cocok dengan situasi yang dihadapi Bank Dunia.

Kalau kita bicara tentang public private partnership, kita banyak memecahkan masalah yang kita hadapi. Jadi saya akan mengatakan bahwa peranan saya adalah memberikan bobot, akselerasi, menciptakan respek, dan negara berkembang juga harus punya bobot dan rasa percaya diri yang cukup untuk menjalankan.

Kan kita sepertinya minta supaya suara kita makin besar, peranan besar. Jangan lupa, kalau minta voice dan peranan besar itu tanggung jawab juga besar. Jangan cuma suara asal jeplak terus tidak bertanggung jawab. Kan tidak begitu. Di dunia ini, cara bergaulnya kan, kalau Anda bersuara keras, Anda bertanggung jawab.

Apalagi kalau Anda sekarang berperan untuk menetapkan kebijakan. Nah ini yang disebut sebagai suatu keseimbangan. Bank Dunia secara internal memahami ini. Sehingga secara internal, reformasi adalah untuk membentuk itu. Misalnya cara kita beroperasi, bagaimana supaya dengan klien bicara tentang hasil.

Jadi kalau ada setiap uang yang dipinjam, menghasilkan. Governance-nya harus sangat jelas. Prosesnya harus transparan. Bahkan kita konsultasi dengan penduduk asli, orang-orang dari suku lokal, dll. Cara kita berkonsultasi pun diawasi. Cara kita mencapai suatu keputusan, procurement menjadi persoalan yang sangat penting. Jadi semua aspek.

Artinya, mungkin berbeda dengan era 1970-an di mana orang waktu itu menganggap Bank Dunia seperti black box, nggak ketahuan. Ini sebenarnya institusi yang sangat transparan. Bank Dunia is open, transparan, dimiliki oleh 187 negara, kita semua kontribusi untuk membuatnya baik, dan saya rasa dibutuhkan oleh banyak negara untuk bisa menjadi makin efektif.

Jadi saya rasa peranan saya, dan karena saya mewakili Indonesia, bobotnya menjadi lebih penting karena kita sebagai dutanya Indonesia, orang akan lihat Indonesia itu seperti apa, what kind of people in Indonesia. Oh contohnya Sri Mulyani, moga-moga tidak malu-maluin, gitu kan. Artinya, oh that means di Indonesia ada orang bisa bekerja profesional, kita bisa at par [setara], bicara tidak merasa minder atau tidak merasa lebih hebat.

Kita bisa menjelaskan tentang masalah yang dihadapi. Dunia semuanya menghadapi masalah. Bukan persoalan, oh dia hebat karena tidak ada masalah. No. We are sharing a lot of problems. Yang membuat orang hormat terhadap kemampuan kita adalah karena kita bisa bicara secara dewasa. Ada sejumlah peluang untuk sukses, ada yang mungkin akan sangat sulit sekali, dan kesulitan ini bisa diatasi kalau kita tukar pikiran dengan pengalaman yang lain.

Respek itu harus ditegakkan. Buat saya itu adalah suatu misi dan beban karena dalam posisi di top management, orang akan melihatnya sangat mudah. Kalau kita jelek ya langsung kelihatan jelek semua, kalau kita baik oh berarti Indonesia juga dianggap cukup baik. Jadi, I hope saya bisa menggambarkan Indonesia yang baik sehingga reputasi negara kita makin hari makin disegani.

Ketegangan kurs kian memanas dan menjadi bahasan Sidang Tahunan IMF-Bank Dunia. Seberapa besar dampak yang mungkin timbul terhadap negara berkembang dan bagaimana respons kebijakan yang mesti diambil?

Sebenarnya kalau lihat dari ekonomi dunia, yang disebut imbalances itu sudah diidentifikasi cukup lama. Komposisi dari ekonomi global ini tidak sustainable, karena tidak seimbang. Pertumbuhan yang terjadi sebelum krisis 2008 itu berasal dari demand yang berasal dari Amerika Serikat.

Amerika menjadi lokomotif ekonomi dunia dengan meminta, mengkonsumsi begitu banyak barang dan jasa dari seluruh dunia. Dan ini dijadikan ladang pasar, China ke sini [AS], Amerika Latin ke sini, Eropa dan Asia lainnya ke sini. Tapi there is no free lunch. Anda konsumsi, you have to pay it from somewhere else.

Dari mana masyarakat dan pemerintah AS bisa mengkonsumsi begitu banyak? Kan dia harus membayar. Itu bukan gratis. Beli mobil dari seluruh dunia, beli baju, segala macam. Nah yang terjadi adalah rumah tangga [AS] mengkonsumsi terlalu banyak. Konsumsi pemerintah terlalu banyak. Berarti mereka tidak melakukan saving, bahkan de-saving. Artinya, kalau besar pasak daripada tiang terus menerus, suatu saat akan terjadi...

Jadi, Amerika melakukan adjustment. Dia harus konsolidasi. Harus mengakumulasi saving yang lebih, mengurangi konsumsi, memperbaiki posisi fiskal pemerintahnya. Dampaknya, kalau konsumsi atau permintaan AS lebih sedikit, dunia kan tidak ada tempat...Itu produksi dan investasi kan harus dijual, bukan untuk mainan.

Nah, sekarang siapa yang harus menggantikan Amerika? Yang harus menggantikan, yang paling dilihat sebagai kawasan paling vibrant, adalah Asia. China, India, negara-negara Asia Timur dan juga sedikit banyak Amerika Latin. Jadi kalau ketidakseimbangan global ini harus dibuat imbang, supaya dunia itu lebih stabil dan sustainable, dari sisi pertumbuhannya, tujuan pembangunannya, maka setiap negara harus adjust, harus berubah.

Nah adjustment ini salah satunya dapat terjadi kalau nilai tukarnya juga fleksibel. Karena ini seperti mesin. Kalau Anda naik mobil, kalau tidak punya penyerap goncangan, kalau ada goncangan kan terasa sekali.

Di dalam mesin, ada shock absorber. Di dalam perekonomian, shock absorber itu adalah harga. Harga itu yang ber-adjust agar kemudian alokasi resource-nya akan adjust sesuai dengan mekanisme harga. Kalau harganya tidak adjust, maka alokasinya tidak akan adjust terus, sehingga ketidakseimbangan akan terus terjadi. Itu salah satu faktor.. karena tidak hanya itu.

Nilai tukar hanya satu faktor. Kalau dia bisa adjust, dia kemudian bisa mendorong terjadinya adjustment terhadap alokasi resource. Asia harus konsumsi lebih, maka permintaan domestiknya harus naik, itu berarti kalau di China mereka harus konsumsi untuk kesehatan, memperbaiki pendidikan, kesehatan rakyatnya, dia sudah membangun infrastruktur begitu banyak, sekarang dia harus melakukan lebih banyak untuk membuat rumah tangganya, masyarakatnya menjadi lebih bisa menikmati pendapatannya.

Jadi jangan hanya bekerja tapi duitnya di-save terus, kemudian saving-nya lari ke Amerika. Amerika meminjam saving-nya China, terus dipakai untuk konsumsinya dia. Itu tidak sustainable, ini yang terjadi dan kemudian menimbulkan imbalances. Jadi kalau debat mengenai tensi nilai tukar..belum sampai war, sih.

Retorikanya kalau headline sudah seperti kayak war, tapi sebenarnya lebih kepada ketegangan. Ketegangan kurs ini hanya menggambarkan bahwa proses penyesuaian is happening. Dan harus terjadi. Para pembuat kebijakan, forum-forum seperti sidang tahunan IMF-Bank Dunia ini, tempat mereka untuk berkomunikasi, karena para para pembuat kebijakan ini, para menteri keuangan, gubernur bank sentral itu mereka mengetahui bahwa kalau mereka tidak bekerjasama, negara masing-masing hanya ego menuruti kebutuhannya sendiri-pokoknya saya selamat, yang lain saya tidak peduli-dunia akan benar-benar makin buruk. Dan pemulihan yang terjadi 2009-2010 ini, tidak akan bisa bertahan.

Mereka sudah memahami itu. Sekarang bagaimana membuat kerja sama itu diimplementasikan. Makanya KTT G-20 di Korsel akan menjadi penting, tempat untuk saling bertukar pikiran pada tingkat kepala negara, untuk kemudian tahu bahwa ini tidak semestinya menjadi zero sum game, yang satu menang at the cost of others.

Ekonomi global harus dikelola lebih seperti positive sum game, kalau Anda menang, orang lain juga harus menang. Win-win solution hanya bisa terwujud jika ada kerja sama dan kolaborasi. Kolaborasi itu berarti adjustment harus ditata, karena mengubah nilai tukar juga bukan persoalan mudah.

Negara seperti China memang harus menyiapkan. Persiapannya harus lebih cepat..karena di sini juga tidak bisa terus menunggu juga. Di sini itu maksudnya AS, Eropa, negara-negara lain yang sekarang apresiasi kursnya sudah sangat tinggi sehingga membuat banyak yang khawatir daya saing [ekspornya] menjadi tergerus. Ini yang sedang dalam proses.

Apakah Bank Dunia melihat risiko ekonomi dunia kembali resesi double-dip di tengah konsolidasi fiskal negara maju?

Saya rasa pesan Bank Dunia itu konsisten. Kalau konsolidasi fiskal di jangka menengah dan panjang itu diperlukan dan harus. Tetapi itu dilakukan secara terukur, dan terencana sehingga harmonisasi dari exit policy itu, terutama kalau antar negara, bisa dilakukan. Maka efek painful-nya akan berkurang. Karena Anda tidak bisa terus menerus seperti ini.

Keyword-nya adalah kolaborasi dan harmonisasi. Kerja sama itu penting. Tidak ada satu negara mengatakan saya maunya sendiri saja. Semuanya memahami bahwa mengurusi ekonomi negara sendiri itu sama dengan juga bertanggung jawab untuk berkontribusi pada ekonomi dunia.

Apalagi ekonomi besar seperti AS, Eropa, China atau Asean sekalipun. Asean sekarang dengan populasi 550 juta, dengan PDB totalnya lebih dari US$5 triliun, ini zona yang cukup besar untuk hal itu. Jadi mengurusi ekonomi itu menjadi suatu kebutuhan untuk saling berkomunikasi. Jadi, konsolidasi fiskal, akan tetap perlu dilakukan untuk negara-negara yang mengalami rasio utang terhadap PDBnya sangat tinggi.

Rasio utang Jepang terhadap PDB-nya sudah mendekati hampir 200%, sekitar 160%-170%. Proyeksi sampai 2015, bahkan AS bisa sampai di atas 100%. Kalau tren fiskalnya seperti sekarang, Inggris yang rasio utangnya sekarang mendekati 80% dari PDB bisa makin buruk. Prancis sama saja, kecuali Jerman barangkali.

Tapi negara-negara lain harus melakukan konsolidasi fiskal. Namun kalau dilakukan secara tiba-tiba, dengan skala yang besar, bahkan ekonominya saya rasa mungkin tidak akan bisa survive, karena kalau pemerintahnya langsung kontraksi, angka pengangguran makin buruk, jangan-jangan perdana menterinya bisa dijungkalkan.

Jadi mereka juga harus melakukannya secara bertahap. Biasanya melakukannya dengan refocusing, sama seperti di Indonesia, orang-orang miskin diproteksi dulu, social safety net penting. Karena itu menjaga demand pada kelompok paling rentan. Kemudian realokasi pada belanja yang dianggap tidak punya hasil. Kan banyak pemerintah paling ahli untuk belanja, tapi belum tentu spending-nya itu menghasilkan.

Kita masih bisa lihat dengan teliti pengeluaran-pengeluaran apa sebetulnya yang bisa dikurangi, yang sebetulnya tidak akan memengaruhi ekonomi terlalu banyak, karena dia tidak terlalu bagus design-nya, policy-nya buruk, atau barangkali hasilnya juga tidak baik. Dan kemudian, melakukan adjustment untuk penerimaannya harus dinaikkan. Penerimaan pajaknya harus dinaikkan.

Maka kalau Anda lihat temanya di G-20 atau di negara-negara maju, bagaimana memperbaiki [penerimaan] pajak. Tidak hanya menaikkan tarifnya, tetapi menghilangkan tax evasion, memperbaiki governance, menghilangkan lubang-lubang, tax haven termasuk yang didiskusikan di G-20, karena jangan sampai orang tidak membayar pajak terus lari ke negara lain atau jurisdiksi lain, menaruh uangnya di situ dan tidak ada yang bisa mengejar.

AS sudah bisa meminta compliance kepada Swiss yang biasanya sangat rahasia dari sisi perbankannya sekarang mereka bisa buka.

Jadi banyak negara harus konsolidasi, penerimaannya harus naik, belanjanya harus diperbaiki. Nggak selalu bahwa kalau langsung memotong belanja dan naikkin penerimaan dengan menaikkan tax kemudian ekonominya lumpuh. Karena kita sudah belajar, ekonomi menjadi buruk sehingga bisa menimbulkan double-dip.

Saya rasa pengetahuan kita sekarang sudah cukup banyak, banyak negara sudah pandai dan tahu bagaimana mendesain konsolidasi fiskal yang baik. Jadi tidak cuma kesalahan masa lalu yang pokoknya asal penerimaan dinaikkan, atau belanja dipotong sehingga kemudian masyarakat miskin makin menderita, ekonominya memburuk, pengangguran naik, kemiskinan melonjak, itu yang tidak diinginkan. Ada cara-cara untuk membuat konsolidasi itu bisa dilakukan dengan tetap melindungi masyarakat miskin, memperbaiki pelayanan dasar publik.

Presiden Bank Dunia Robert B. Zoellick mengingatkan krisis pangan belum berakhir. Apakah ada ancaman krisis pangan dunia baru dalam perekonomian dunia akibat tekanan harga?

Kalau ancaman krisis pangan dunia, itu memang menjadi sesuatu yang harus diantisipasi. Bank Dunia sangat memberi perhatian kepada itu, karena berpengaruh langsung kepada masyarakat. Terutama kelompok miskin. Begitu harga pangan naik, itu langsung terkena pada insiden kemiskinannya luar biasa, jadi sangat memengaruhi sekali terhadap tujuan pembangunan.

Makanya kita terus menyuarakan, seperti Presiden Zoellick menyampaikan, Managing Director Ngozi Okonjo-Iweala berbicara dengan banyak negara terutama Afrika agar tidak mengalami situasi seperti 2006-2007 di mana krisis pangan terjadi, harga tiba-tiba melonjak.

Kita melakukan kerja sama dengan negara-negara lain, bahkan dengan PBB, FAO, dll. Ini sangat penting agar jangan sampai nanti pada saat konsolidasi fiskal, ada salah satu yang menyebabkan makin memburuknya krisis pangan. Makanya pengeluaran untuk irigasi, untuk perbaikan sektor pertanian terutama untuk pangan harus bisa dijaga.

Negara emerging dihadapkan pada tantangan arus modal. Apa pendapat Anda tentang ide pembentukan jaring pengaman keuangan global untuk membantu negara emerging berlindung dari capital flow?

Situasi ini memang dirasa cukup ironis. Pada 2008, likuiditas dunia merosot, sekarang likuiditas sangat banyak, karena jangan lupa, hampir semua bank sentral dunia melakukan loosening kebijakan moneter. Fiskalnya juga ekspansif.

Jadi dunia ini lagi kebanyakan likuiditas lagi sekarang dan kemudian menyebabkan capital inflow, apresiasi masing-masing mata uang di negara-negara penerima flow itu, dan bahkan bisa terjadi price bubble karena uang itu kan mencari tempat, dia bisa buat beli properti, bisa untuk lending segala macam.

Nah secara global tentu kita perlu untuk membahas karena sekarang kalau terjadi konsolidasi fiskal dan kebijakan moneternya mulai disesuaikan, berarti likuiditas tidak akan terus menerus seperti itu. Namun masing-masing negara atau secara regional dan global, kita tahu jangan sampai terjadi krisis buruk seperti 2008 yang menyebabkan ada suatu institusi yang jatuh seperti Lehman Brothers menyebabkan seluruh dunia ikut rontok istilahnya.

Nah, financial safety net itu sangat memberikan harapan dan sekaligus keperluan untuk membuat sektor keuangan itu tetap berkembang dan memang dibutuhkan. Semua negara yang ingin maju ekonominya harus punya sektor keuangan yang sehat.

Tapi kesehatan sektor keuangan itu sangat tergantung pada regulasi, pengawasan dan governance. Regulasi harus diperbaiki, jangan sampai memberikan ruang agar pengelola lembaga keuangan itu menjadi sangat sembrono, tidak bertanggung jawab sehingga menyebabkan rontoknya perusahaan dia atau lembaganya.

Pengawasan harus ditingkatkan sehingga jangan sampai ada masalah bank begitu lama berlarut larut terdeteksi sehingga menyebabkan akumulasi risiko. Dan good governance harus dilakukan, apakah itu dalam peminjamnya, banknya, bank sentral ataupun lembaga pengawasannya.

Kalau tidak ada good governance, yang terjadi akan reckless dan kemudian akan terjadi kolusi dll. Financial safety net adalah suatu kebutuhan yang sekarang dikenal, bagaimana negara-negara dapat membangun suatu kerangka kebijakan ataupun interaksi dan mekanisme kalau sampai terjadi krisis sehingga masing-masing pihak yang harus membuat keputusan menjadi sangat paham tanggung jawab dan akuntabilitasnya.

Karena kalau sudah krisis, yang terjadi adalah saling menyalahkan kan? Di sini kan juga sama, terjadi krisis, oh dia yang salah, oh nggak ini yang kurang.. ini yang lemah. Dan kalau sudah dalam posisi krisis ditambah dengan saling menyalahkan dan makin tidak mengambil keputusan, krisisnya makin buruk. Kita punya banyak contoh di dunia ini.

Negara yang mengalami krisis ditambah blaming game, ditambah tidak berani ambil keputusan, krisisnya makin menjadi luar biasa buruk sehingga tidak menggerakkan sektor riil, sektor keuangannya kena, masyarakat umum kena, kemiskinan menjadi buruk.

Jadi bagaimana kita membuat kalau sampai terjadi, jangan sampai krisis terjadi, itu yang diharapkan. Tapi kalau krisis tidak bisa dihindari, bagaimana bisa mencegah krisis itu tidak makin buruk. Itu yang dibutuhkan. Setiap negara tentu punya kebutuhan sendiri-sendiri, tapi dunia sudah sepakat bahwa karena sektor keuangan itu borderless, saling memengaruhi, maka dibutuhkan kesepakatan mengenai mekanismenya.

Dari perspektif pembangunan, apa yang masih harus diperbaiki agar pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai tingkat potensinya?

Pemerintah sudah tahu dan sudah sering menyampaikan, para pengamat juga sudah memahami itu. Indonesia dari sisi kerangka kebijakan yang dirintis selama ini memberi suatu fondasi yang cukup kuat dan memadai untuk dapat tumbuh secara baik.

Karakternya, dengan guncangan-guncangan yang terjadi mulai dari harga minyak, harga pangan, nilai tukar, krisis perbankan dunia, kita masih bisa tetap tumbuh positif. Jangan lupa 2009 kita 4,5% itu bukan suatu prestasi yang sepele. Di dunia hampir semuanya Anda lihat not many yang bisa bertahan dengan pertumbuhan positif.

Artinya, Indonesia punya fondasi yang luar biasa sudah cukup kuat yang orang sekarang melihat Indonesia seperti jalur pertumbuhannya sudah jelas. Kerangka kebijakannya sudah baik. Yang menjadi penyebab kalau kita ingin tumbuh lebih tinggi dan itu juga sudah dikenali oleh kalangan bisnis, pemerintah adalah halangan struktural seperti tanah, masalah legal, kontrak.

Kalau Anda mau bikin infrastruktur, kita bisa hire cepat untuk bisa membuat studi kelayakan. Tapi begitu mau dijalankan, kita harus membebaskan tanahnya, kita harus bikin kontrak yang semua orang harus sepakat dan kontraknya itu pasti dijalankan. Kalau ada yang tidak menjalankan, artinya ada satu pihak yang melanggar. Ada mekanisme hukum untuk menyelesaikan secara efisien.

Jadi Indonesia perlu untuk membangun institusi itu. Dan itu berarti membutuhkan pemerintahan yang baik, artinya birokrasinya efisien, bersih, kemudian kita punya divisi dari sisi hukumnya juga baik. Kalau terjadi perselisihan komersial, pengadilan bisa menyelesaikan secara bersih juga, jadi para pelaku bisnis menjadi paham...oh ini yang terjadi.

Jadi mereka tidak melakukan second guessing. Ini adalah yang paling penting karena kemudian kepastian dan kredibilitas dari mekanisme itu akan membuat Indonesia elevate even more. Jadi kalau sekarang bisa tumbuh 5%, 6% atau bahkan 6,5%, kita bisa tumbuh lebih tinggi karena tadi.. karena capital sudah ada.

Jadi kalau Anda tahu tentang growth, butuh capital. Capital is coming. Butuh tenaga kerja, labor kita makin membaik, banyak, mungkin skilled dan educated labor yang harus makin banyak. Kemudian kontrak dengan serikat pekerja harus diperbaiki untuk menciptakan suasana bagus. Teknologi kita bisa impor.

Yang menjadi persoalan itu institusi. Institusi itu adalah, kalau dari sisi pemerintah, birokrasi, pengambilan keputusan, proses pengambilan keputusan. Dari sisi legal adalah kerangka hukum kita. Jadi masalah sistem pengadilan kita harus makin baik, kapasitas para penegak hukum harus makin positif dan kuat untuk bisa menciptakan kepastian bagi semuanya.

Rakyat perlu dilindungi dari sisi kepastian hukum. Supaya kalau sampai terjadi proyek, kalau mereka harus terkena, mereka tahu bagaimana harus komplain. Bagaimana mendapat kompensasi. Investor juga kepastian hukum. Karena dia tahu ketika saya menanamkan uang di situ, dia mengerti bagaimana harus berhubungan dengan rakyat sekitarnya, dengan pemda, dengan para penegak hukum supaya dia tidak menjadi korban.

Pemerintah dari pusat, propinsi, kabupaten harus sepakat menciptakan itu [kepastian]. Jadi ini adalah PR Indonesia untuk tumbuh, karena persepsi sudah sangat positif sekarang. Stabilitas positif. Prospek luar biasa tingginya, permintaan domestiknya luar biasa besar.

Jadi Indonesia full of potential untuk pertumbuhan tinggi dan kualitasnya harus bagus. Kualitas bagus seperti tadi, rakyatnya merasa bahwa pembangunan itu memang untuk mereka, maka mereka perlu dilindungi oleh UU. Oleh penegakan hukum yang baik, oleh kepastian. Investor juga perlu merasakan itu.

Jadi jangan sampai ada pemikiran bahwa seolah-olah kalau mau tumbuh tinggi, rakyatnya harus berkorban, atau investornya harus deg-degan.. kan tidak boleh begitu. karena tumbuh tinggi adalah untuk kebaikan semua dan itu hanya bisa muncul pada kepastian tadi, dari sisi pengaturan, dispute settlement kalau sampai terjadi perselisihan yang tidak sepakat bagaimana menyelesaikan secara baik.

Publik Tanah Air ingin tahu rencana masa depan Anda. Bisa di-share?

Rencana saya, bekerja di Bank Dunia secara baik, profesional, sehingga bisa memberikan suatu dampak positif terhadap negara-negara berkembang di seluruh dunia, menciptakan suatu keseimbangan yang respectable dan trustable, komunikasi antar negara-negara maju, negara berkembang karena isunya bukan malah makin berkurang, isunya makin banyak kalau kita bicara.

Trust building is very important, jadi saya rasa secara profesional dan intelektual seperti saya katakan, very challenging, bagaimana kita sebagai salah satu bagian dari sisi manajemen bisa melakukan dan mengelola semua tensi-tensi ini dan kepentingan yang begitu beragam.

Saya rasa itu pekerjaaan yang luar biasa demanding dan saya akan coba melakukan sebaik mungkin dan cukup menyita banyak sekali pikiran dan perhatian saya. Interaksi juga sangat menantang karena harus berbicara dengan berbagai negara dengan bahasa yang berbeda-beda tapi tujuannya satu.

It's a good opportunity untuk makin membuat saya rendah hati, bahwa ternyata yang kita tahu dan kita pelajari itu selalu tidak cukup, tapi kita cukup bisa percaya diri untuk berinteraksi secara baik dengan banyak negara.

Saya rasa hubungan dengan klien, kalau saya bertemu dengan menteri keuangan, bahkan dengan perdana menteri atau presiden dari negara-negara lain, saya bisa makin belajar banyak, makin merasa harus tahu keterbatasan dari ilmu kita. Makin mengapresiasi sulitnya membangun suatu negara sehingga penting bagi kita untuk bisa menjadi institusi yang bisa membantu dan bagian dari solusi, sehingga seluruh dunia bisa mencapai tujuan pembangunannya yaitu mensejahterakan rakyat.

Saya rasa itu misi yang luar biasa penting. Saya sangat passionate [bergairah], senang menjalankan itu karena saya anggap itu membuat hidup kita berarti. Tidak hanya memikirkan diri saya sendiri, bagaimana berkarir, bagaimana bisa membesarkan anak, kaya...Tapi kita memikirkan yang jauh lebih besar.

Dunia begitu banyak masalah, masyarakat dunia masih banyak persoalan yang harus dihadapi dan bagaimana kita terpanggil melalui peranan kita bertanggung jawab untuk ikut dalam menyelesaikan masalah-masalah besar itu.

Saya rasa itu suatu panggilan yang luar biasa dan saya melakukannya dengan sungguh-sungguh dan cinta. Cinta karena saya tahu bagian dari warga dunia dan apalagi mewakili Indonesia, ingin menunjukkan wajah yang positif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Rezza Aji Pratama

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top