Menjinakkan diabetes dengan stem cell

Selama ini pemeriksaan penyakit diabetes atau kencing manis dilakukan dengan mengecek kadar gula darah. Kini diagnosa diabetes bisa dilakukan dengan pengecekan sel darah merah. Pemeriksaan yang dikenal dengan A1C ini mampu menggambarkan rata-rata kadar
Feri Kristianto | 11 Desember 2010 05:36 WIB

Selama ini pemeriksaan penyakit diabetes atau kencing manis dilakukan dengan mengecek kadar gula darah. Kini diagnosa diabetes bisa dilakukan dengan pengecekan sel darah merah. Pemeriksaan yang dikenal dengan A1C ini mampu menggambarkan rata-rata kadar gula darah dalam waktu 2-3 bulan sebelumnya. Prosesnya yakni glukosa bereaksi dengan sel darah merah membentuk hemoglobin A1C atau HbA1C (glycosylated hemoglobin). Semakin banyak kadar glukosa dalam darah, semakin banyak hemoglobin A1C ditemukan dalam darah.Sel darah merah mempunyai usia 8-12 minggu sebelum digantikan sel darah yang baru. Pengukuran HbA1C dapat memperlihatkan jumlah gula darah selama 8-12 minggu. Kadar HbA1C pada orang normal adalah 3.5-5.5%, sedangkan nilai HbA1C yang baik bagi penderita diabetes adalah 6.5%.American Diabetes Association telah mendaftarkan pemeriksaan HbA1C sebagai salah satu kriteria diagnosa diabetes. Jika seseorang mempunyai nilai HbA1C di atas 6.5%, dia didiagnosa mengidap diabetes. Namun, diagnosa HbA1C ini belum tersosialisasi dengan baik di dunia.Di samping itu, pendekatan diagnosis diabetes kini bergantung pada genetika, mengingat setiap daerah memiliki genetik diabetes tersendiri.Asia dan Eropa memiliki perbedaan genetika untuk diabetes karena perbedaan pola genetik masing-masing. Perbedaan pola genetik tersebut dapat menentukan pendekatan terapi diabetes."Secara genetik bangsa Asia lebih cenderung mengalami resistensi insulin dibandingkan dengan orang Eropa," tutur dokter spesialis endokrinologi Dante Saksono Harbuwono pada The 19th Jakarta Diabetes Meeting (JDM) beberapa waktu lalu.Menurut Dante, prevalensi diabetes pada penduduk Asia telah meningkat dua hingga lima kali lipat dalam dua dekade terakhir dibandingkan dengan penduduk di negara Barat. Kondisi ini juga menyumbang tingkat kematian di wilayah ini di mana tingkat kematian akibat diabetes di wilayah Asia lebih tinggi dibanding wilayah Barat."Lebih dari 110 juta orang di Asia menderita diabetes dengan proporsi yang tidak berimbang di antara usia muda dan tua. Tidak seperti di negara Barat yang umumnya dialami oleh kaum berusia tua," papar ketua panitia JDM ini.Diabetes merupakan gangguan yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi bahkan kematian, di samping beban ekonomi dan biaya yang tinggi. World Health Organization (WHO) memprediksikan kenaikan pasien diabetes melitus tipe 2 di Indonesia sebesar 8,4 juta orang pada 2000 menjadi 21,3 juta orang pada 2010.Pengobatan terbaruSalah satu metode pengobatan terbaru diabetes adakah sel punca (stem cell). Semua penderita diabetes melitus mengalami penurunan sel pankreas bahkan beberapa di antaranya mengalami kegagalan fungsi. Oleh karena itu, untuk mengatasi penurunan dan kegagalan fungsi sel pankreas dibutuhkan penggunaan insulin."Penggunaan insulin tersebut berguna dalam menggantikan fungsi pankreas karena sel-sel pankreas tidak dapat beregenerasi. Pankreas buatan berguna untuk mengatasi keterbatasan regenerasi dari pankreas dengan menggunakan stem cell," jelas staf Divisi Metabolik dan Endokrin Departemen Penyakit Dalam FKUI ini.Dengan stem cell, sel dapat disuntikkan pada pankreas dan bisa mengembalikan kadar gula darah seperti orang normal. Teknologi stem cell mulai berkembang pada 2007 dan telah terbukti menyembuhkan diabetes. Pankreas dapat berfungsi kembali secara normal untuk menghasilkan insulin.Para ahli mendefinisikan stem cell sebagai sebuah sel tunggal yang bisa beraplikasi sendiri menjadi sel sejenis atau malah berdiferensiasi menjadi sel yang berbeda. Oleh karena itu, stem cell berpotensi meregenerasi sel-sel yang rusak.Namun, ada kontroversi seputar pemanfaatan sel punca, yaitu digunakannya embrio manusia, buah hasil dari pengkloningan, hasil abortus, dan zigot sisa IVF. Hal ini bertentangan dengan pandangan agama dan etika. Terkait dengan hal tersebut, stem cell tidak begitu mudah dipahami tetapi memerlukan sistematika pembahasan yang teratur.Tidak hanya stem cell yang bermanfaat mengobati diabetes, pengobatan herbal patut dilirik para penderita diabetes. Indonesia sangat kaya dengan berbagai tanaman berkhasiat yang bisa diolah menjadi obat-obatan herbal. Beberapa tanaman yang dianjurkan dikonsumsi penderita diabetes sebagai obat-obatan herbal antara lain: Galega officinalis atau goat's rue, yakni tanaman yang mengandung guanidine, komponen yang bisa menurunkan gula darah dengan mengurangi resistensi insulin; akar ginseng yang bisa meningkatkan sensitivitas sel-sel terhadap insulin dan potensial memperkuat efek obat penurun gula darah yang diresepkan tetapi menimbulkan efek berlawanan jika digunakan bersamaan dengan obat antidiabetes oral, seperti warfarin, heparin, dan aspirin.Kemudian, ada kayu manis yang bisa meremajakan kemampuan tubuh agar lebih responsif terhadap insulin. Sayuran pare mampu meningkatkan produksi sel-sel beta di pankreas yang memicu perbaikan produksi insulin di dalam tubuh.Namun, berbagai obat-obatan herbal ini masih membutuhkan penelitian sesuai dengan kaedah keilmuan yang berlaku. Penelitian diharapkan mampu mentransformasikan obat-obatan tradisional itu menjadi pengalaman empiris yang terukur. (ts) (redaksi@bisnis.co.id)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top