Minat pada wisata budaya naik jadi 15%

YOGYAKARTA: Minat wisatawan dunia untuk mengikuti kegiatan wisata budaya (heritage tourism) diperkirakan meningkat dari 5% menjadi 15%.
Yusuf Waluyo Jati
Yusuf Waluyo Jati - Bisnis.com 07 Desember 2010  |  12:08 WIB

YOGYAKARTA: Minat wisatawan dunia untuk mengikuti kegiatan wisata budaya (heritage tourism) diperkirakan meningkat dari 5% menjadi 15%.

" (WTO) mencatat peningkatan itu menjadi hal yang menarik. Apalagi ada keterkaitan antara peminat wisata budaya dan tingkat pendidikan. Pasalnya, mereka bukan sekadar ingin relaksasi tapi lebih pada mencari pengalaman baru," kata Alistair G Speirs, Managing Director Phoenix Communications, hari ini.Sebagai salah satu pembicara dalam lokakarya Heritage Tourism and Creative Economy pada konferensi World Conference on Culture, Education and Science (WISDOM) di Museum Sasono Budoyo, Alstair mengatakan jika ingin mendapatkan keuntungan bisnis dari kegiatan wisata budaya maka harus pelajari tren dan tuntutan pengalaman yang mereka butuhkan.Menurut dia, hasil survei Travel Industry Association of America menunjukkan masyarakat yang mengenyam pendidikan tinggi di negara itu minatnya pada wisata budaya naik dari 15% menjadi 30%."Mereka pilih makan malam di historical site ketimbang makan di hotel. Jadi tipe wisatawan ini berani membayar lebih untuk mendapatkan pengalaman berbeda," kata Alistair dalam pararel diskusi yang dipimpin Wiendu Nuryanti, Guru besar UGM.Bagi kalangan industri wisata maka mereka dituntut untuk berkontribusi pada pelestarian budaya dan konservasi lingkungan karena konsumennya lebih mementingkan pengalaman dari sekadar mengunjungi obyek wisata."Meski ada Disneyland di beberapa negara tapi turis masih mengalir ke candi Borobudur. Jadi industri harus kreatif mengemas paket wisata ke candi yang sudah berusia 13 abad," tandasnya.Dia juga mengingatkan bahwa di Eropa hanya 10% masyarakatnya yang ke gereja, tapi yang mencari pengalaman memaknai arti hidup seperti tokoh Julia Robert dalam Film Eat, Love and Pray banyak. "Di dunia banyak sekali tipe wisatawan seperti tokoh dalam film Eat, Pray and Love itu dan Indonesia adalah sumbernya dan surganya," tegas Alstair.Menurut dia, untuk mengembangkan wisata budaya memang harus ada dialog antara pemerintah daerah, komunitas masyarakatnya maupun swasta untuk pemetaan tempat-tempat bersejarah mana saja di daerah mereka yang ingin dikembangkan sebagai obyek wisata budaya dan memberikan manfaat langsung pada masyarakat maupun menjadi pemasukan asli daerah (PAD)."Semua pihak harus ditanya apakah dari obyek heritage yang dimiliki boleh dikomersialkan. Pemerintah punya visi bagaimana, begitu juga masyarakatnya sehingga disepakati produk yang akan dijual dan brandingnya bagaimana," kata Alistair.I Wayan Ardika dari Universitas Udayana mengatakan masyarakat desa Tenganan Pegerisingsingan, Bali, misalnya, berkembang menjadi tujuan wisata budaya karena masyarakat desa menjaga tradisinya dengan baik dan menjaga identitas yang dimiliki.Masyarakat menjaga aktivitas kesehariannya seperti bertenun, menulis di atas daun lontar, mengerjakan kegiatan ritual yang telah dilakukan sejak leluhur mereka ada. "Dampak negatifnya tetap ada tapi dapat diminimalkan dengan terus meningkatkan sadar wisata di kalangan masyarakat. Pemerintah dan industri wisata harus terus meningkatkan kesadaran itu sehingga wisata budaya bisa menguntungkan bukan malah merusak warisan budaya yang ada." (msw)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top