Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Terbukti di G20 Bali, Luhut Minta Lembaga Khusus Teknik Modifikasi Cuaca

Ini alasan Menko Luhut minta ada lembaga khusus yang menaungi Teknik Modifikasi Cuaca (TMC).
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 25 November 2022  |  12:09 WIB
Terbukti di G20 Bali, Luhut Minta Lembaga Khusus Teknik Modifikasi Cuaca
Presiden Joko Widodo berbincang dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman saat gala dinner KTT G20 Bali di Garuda Wisnu Kencana (GWK) - Dok. BPMI Setpres RI.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan berharap Indonesia memiliki lembaga khusus yang menaungi Teknik Modifikasi Cuaca (TMC), setelah sukses ‘menahan’ hujan pada gala dinner KTT G20 di Bali pada 15 November 2022 lalu.

“Seperti yang kita saksikan bersama, cuaca cerah ketika gala dinner KTT G20 menjadi buah manis dari kerja keras tim TMC yang dipimpin Dr. Seto [Pakar TMC Tri Handoko Seto],” tulis Luhut melalui akun Instagramnya @luhut.pandjaitan, dikutip Jumat (25/11/2022).

Memang, menjelang gala dinner KTT G20 di kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK) hujan sempat turun begitu derasnya. Kondisi ini kemudian membuat Luhut bergegas untuk mengadakan rapat bersama tim khusus yang terdiri dari BMKG, BRIN, TNI AU, Kementerian PUPR, dan Pakar TMC Tri Handoko Seto.

Adapun, salah satu misi utama mereka adalah memastikan agar hujan tidak turun di GWK Cultural Park pada 15 November 2022. Selain itu, mereka juga harus mengkondisikan cuaca agar hujan tak turun saat para kepala negara anggota G20 berjalan ke arah Bamboo Dome yang berlokasi di outdoor area The Apurva Kempinski.

Masih dalam unggahannya, Luhut pun sempat bertanya kepada Dr. Seto apakah teknik tersebut dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan.

“Beliau jawab bisa, tapi syaratnya harus all out. Baik dari sisi anggaran, regulasi di mana pesawat yang digunakan tidak boleh terbang di malam hari, dan lain-lain,” jelas Luhut.

Diakui Luhut, porsi anggaran TMC di beberapa event pemerintah memang paling kecil, padahal TMC cukup penting dilakukan terutama ketika event tersebut digelar di luar ruangan.

Misalnya saja pada saat pelaksanaan gala dinner KTT G20 kemarin, sebanyak 4 pesawat TNI AU ditugaskan dengan berbekal data dari BMKG terkait titik mana saja yang berpotensi hujan. 

Dalam prosesnya, dibutuhkan kecermatan serta perhitungan yang matang untuk mengetahui ketebalan awan dan berapa jumlah garam yang harus ditabur. Ini semua diperlukan agar hujan yang terjadi tidak menyebar.

Apalagi, untuk melakukan TMC pada saat itu, terdapat 11 penerbangan yang membawa 29 ton garam.

“Bisa dibayangkan berapa besar anggaran yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan operasi ini,” ujarnya.

Melihat keberhasilan teknik tersebut pada KTT G20, Luhut menilai TMC bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal. Misalnya menanggulangi kebakaran hutan dan lahan, menurunkan hujan buatan untuk mengairi waduk sebelum musim kemarau tiba, mengantisipasi kekeringan, hingga dimanfaatkan untuk irigasi pertanian.

Bahkan, Thailand telah memiliki lembaga khusus TMC dengan pertanggungjawaban langusng kepada Raja Thailand.

“Saya sampai pada satu kesimpulan bahwa sains dan teknologi sebesar ini perlu memiliki lembaga khusus yang menaungi Teknik Modifikasi Cuaca. Pembuktian manfaat dari TMC juga terwujud pada gala dinner KTT G20 di Bali, 15 November lalu, di mana acara berjalan sukses tanpa setetes pun air hujan jatuh di lokasi penyelenggaraan,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

KTT G20 Luhut Pandjaitan Cuaca
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top