Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Luhut Akui RI Kalah dari Malaysia dan China dalam Hal Ini, Apa Itu?

Menko Marves Luhut Pandjaitan menyoroti ketertinggalan Indonesia dengan beberapa negara lain seperti China dan negara tetangga, Malaysia.
Fitri Sartina Dewi
Fitri Sartina Dewi - Bisnis.com 30 Maret 2022  |  08:56 WIB
Luhut Akui RI Kalah dari Malaysia dan China dalam Hal Ini, Apa Itu?
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Bisnis - Triawanda Tirta Aditya
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menyoroti ketertinggalan Indonesia dengan beberapa negara lain seperti China dan Malaysia dalam hal riset.

Hal itu disampaikan Luhut saat menjadi pembicara dalam acara Silaturahmi Nasional Desa (Silatnas) 2022 Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI).

Sebagai pembicara, Menko Luhut menyampaikan beberapa poin penting terkait penanganan pandemi Covid-19, pemulihan ekonomi, dan transformasi ekonomi. Secara khusus, dia juga menyampaikan mengenai perlunya transformasi ekonomi di desa. 

“Penanganan ekonomi di desa adalah peran anda yang semua hadir di sini. Desa menjadi signifikan, karena jika dalam skala mikro sudah bagus, maka secara nasional kita juga pasti akan jadi lebih bagus,” ujar Luhut dalam paparannya kepada seluruh anggota APDESI, Selasa (29/3/2022).

Lebih lanjut, Luhut menyatakan bahwa ada dua hal yang penting yang perlu dikerjakan oleh seluruh pemerintah desa di wilayah Indonesia, yaitu adanya pengembangan sumber daya manusia yang berada di desa dan juga adanya tranformasi ekonomi desa. 

“Untuk riset kita akui kita masih kalah dengan Malaysia atau Tiongkok, tetapi bukan berarti kita tidak bisa kejar, justru kita kejar dengan berbagai bukti inovasi produk buatan dalam negeri karya anak-anak kita dari berbagai perguruan tinggi yang contohnya seperti ruang isolasi, prototipe masker N95, mobile lab BSL-2, dan juga karya-karya dari para UKM/UMKM dari masing-masing daerah yang juga menjadi produk inovasi,” ujar Luhur.

Terkait transformasi ekonomi desa, Luhut menyatakan pengembangan sumber daya manusia sangat penting. Untuk itu kepala desa harus mencari orang-orang yang bisa disekolahkan agar nantinya mampu menaikkan daya ekonomi dari desa tersebut.

“Untuk teman-teman di desa, bantu desa kalian dengan mengembangkan sumber daya manusia, agar terjadi inovasi dan juga industri di desa kalian. Sekolahkan mereka, karena itu akan mampu menaikkan kesejahteraan dan perekonomian desa,” tegasnya.

Mayoritas dari penduduk pedesaan memiliki data lebih dari 80 persen tenaga kerjanya berada di sektor pertanian dan hanya lulusan SMA/SLTP. Untuk itu, Luhut menilai tingkat pendidikan desa perlu dinaikkan agar mendorong kualitas sumber daya manusia dan juga menaikkan kesejahteraan desa.

Dalam upaya mendorong hal tersebut, Luhut menyatakan dana desa yang sudah terus meningkat sejak 2015 perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dalam peningkatan kondisi ekonomi desa. 

Selain memaparkan terkait sumber daya manusia dan transformasi ekonomi desa, Luhut tidak lupa menyampaikan adanya kesempatan emas bagi Indonesia dalam memanfaatkan gejolak Covid-19 dan Perang Rusia-Ukraina dalam meningkatkan perekonomian.

“Di masa yang penuh gejolak ini, Indonesia harus mampu memainkan perannya dengan baik. Kita melihat adanya berbagai pertumbuhan ekonomi yang justru semakin naik, kemudian inovasi di bidang kesehatan, bahkan adanya perbaikan dalam industri dalam negeri melalui hilirisasi industri. Ini menjadi bukti, bahwa Indonesia dapat memainkan perannya dengan baik walaupun dalam kondisi yang penuh gejolak,” ungkapnya.

Pernyataan Luhut dibuktikan dengan berbagai catatan penting tentang pengendalian Covid-19 yang baik, berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mampu mencetak rekor tertinggi terkait kinerja pasar saham. Terjadinya pengembangan industri besi dan baja di berbagai wilayah di Indonesia khususnya di wilayah timur yang sebelumnya di dominasi wilayah barat Indonesia.

Kemudian yang juga menjadi bukti, adanya digitalisasi berbagai sektor industri untuk meningkatkan efisiensi misalnya seperti National Logistic Ecosystem (NLE) yang bertujuan untuk digitalisasi sistem ke pelabuhanan, Sistem Informasi Mineral dan Batubara (SIMBARA), hingga adanya E-Katalog meningkatkan pembelian Produk Dalam Negeri (PDN).

Luhut menjelaskan sekarang ini Indonesia sudah berbeda dari yang dulu, Indonesia sudah mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Tidak ada masalah yang tidak bisa diatasi. Saat ini, Indonesia fokus kepada tantangan pasca pandemi untuk mencapai visi Indonesia Maju 2045.

“Kita harus kompak, bersatu, dan memfokuskan pikiran untuk kemajuan bangsa kita,” ucap Luhut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china malaysia Luhut Pandjaitan
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top