Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Vaksin Covid-19 untuk Anak, Indikator: Masyarakat Terbelah

Vaksin Covid-19 untuk anak usia 6-12 tahun yang diwajibkan pemerintah tidak sepenuhnya didukung oleh orang tua.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 20 Februari 2022  |  22:38 WIB
Seorang anak memperlihatkan kartu vaksinasi usai mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Kediri, Jawa Timur, Selasa (14/12/2021). Pemerintah akan menggunakan 6,4 juta dosis vaksin Sinovac untuk anak hingga akhir Desember 2021. ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani -
Seorang anak memperlihatkan kartu vaksinasi usai mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Kediri, Jawa Timur, Selasa (14/12/2021). Pemerintah akan menggunakan 6,4 juta dosis vaksin Sinovac untuk anak hingga akhir Desember 2021. ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani -

Bisnis.com, JAKARTA – Vaksin Covid-19 yang menyasar anak-anak tidak sepenuhnya didukung oleh orang tua.

Lembaga survei Indikator Politik Indonesia yang melakukan sigi dengan tema “Sikap Publik terhadap Omicron, Vaksin Booster, Pembelajaran Tatap Muka, dan Protokol Kesehatan”  mencatat masyarakat terbelah terkait program pemerintah tersebut. 

Peneliti Senior Indikator Rizka Halida mengatakan bahwa ada 10,4 persen publik yang sangat tidak setuju dengan pemberian vaksin bagi anak usia 3 tahun sampai 12 tahun. Tidak setuju ada 34,6 persen.

Sedangkan mereka yang setuju ada 42,4 persen dan sangat setuju 6,2 persen. Masyarakat yang tidak menjawab ada 6,3 persen.

“Kalau dijumlah, sekitar 45 persen tidak setuju dan 48,6 persen setuju. Kami melihat ada pembelahan pendapat warga terkait vaksin bagi anak usia 3 tahun sampai 12 tahun,” katanya pada pemaparan survei, Minggu (20/2/2022).

Di sisi lain, mayoritas publik setuju dengan adanya vaksin ketiga sebagai booster untuk menciptakan kekebalan tubuh terhadap Covid-19. Rizka menjelaskan bahwa mereka yang setuju ada 50,7 persen dan sangat setuju 10,8 persen.

Ada 6,4 persen publik sangat tidak setuju dan 25,8 persen tidak setuju. Sementara yang tidak menjawab 6,3 persen.

“Mayoritas atau 61,5 persen masyarakat cenderung setuju. Cukup banyak yang tidak setuju tapi mayoritas setuju dengan program vaksin booster ini,” jelasnya.

Indikator melakukan survei pada 15 Januari sampai 17 Februari 2022. Target populasi survei adalah warga negara Indonesia yang berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah dan memiliki akses internet lewat telepon pintar, sekitar 69 persen dari total populasi nasional.

Dari populasi tersebut, diperoleh sampel secara acak sebanyak 626 responden yang mengisi kuesioner secara online atau computer assisted web interviewing.

Dengan asumsi metode simple random sampling, ukuran sampel 626 responden memiliki toleransi kesalahan atau margin of error sekitar 4 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Proses survei online terdiri dari empat tahapan utama, yakni random recruitment, pemberian kode akses yang unik, screening, dan web interviewing.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Covid-19 Vaksin Covid-19
Editor : Anggara Pernando

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top