Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Terbanyak dalam 20 Tahun, Ada 26 Gempa Bumi Merusak di 2021

Badan Geologi membukukan 26 kejadian gempa bumi merusak sepanjang 2021. Jumlah tersebut merupakan yang paling banyak sejak 20 tahun terakhir.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 05 Januari 2022  |  00:28 WIB
Terbanyak dalam 20 Tahun, Ada 26 Gempa Bumi Merusak di 2021
Rumah warga di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, rusak karena getaran gempa bumi yang mengguncang dengan kekuatan Magnitudo 6,7 di Barat Daya Kabupaten Malang, Sabtu (10/4/2021). - Antara\\r\\n
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Geologi membukukan 26 kejadian gempa bumi merusak sepanjang 2021. Jumlah tersebut merupakan yang paling banyak sejak 20 tahun terakhir.

Koordinator Mitigasi Gempa Bumi, Pusat Vulkanologi, dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Supartoyo mengatakan bahwa selama 2000–2021 telah terjadi 5–26 kali gempa bumi merusak.

Kejadian gempa bumi tersebut umumnya juga mengakibatkan adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan, baik milik warga maupun fasilitas umum, hingga kerusakan lingkungan dan harta benda.

Dia menjelaskan, kejadian gempa bumi merusak di 2021 diawali dengan gempa bumi di Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah pada 4 Januari 2021, dan diakhiri oleh kejadian gempa bumi Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku pada 30 Desember 2021.

Kejadian gempa bumi merusak tersebut mengakibatkan korban jiwa 119 orang meninggal, dan 6.803 orang luka-luka.

“Selama 2021 kejadian gempa bumi yang mengakibatkan dampak besar adalah gempa bumi Mamuju pada 15 Januari 2021 dengan magnitudo M 6,2 pada kedalaman 10 kilometer,” katanya dalam keterangan resmi, Selasa (4/1/2022).

Kejadian tersebut, lanjutnya, mengakibatkan 105 orang meninggal dunia, dan 6.489 orang luka-luka. Selain itu, Kantor Gubernur Sulawesi Barat mengalami rusak berat. Gempa juga menciptakan gerakan tanah cukup masif yang menutup jalur Trans-Sulawesi di daerah Tapalang.

Kemudian juga terdapat satu kejadian gempa bumi merusak yang memicu terjadinya tsunami, yaitu gempa bumi Teluk Taluti, Kabupaten Maluku Tengah pada 16 Juni 2021.

Tsunami dipicu oleh gerakan tanah akibat guncangan gempa bumi dengan magnitudo M 6,1 pada kedalaman 10 kilometer. Tsunami teramati di Pelabuhan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah, dengan tinggi rendaman atau flow depth sekitar 1 meter.

Selanjutnya, terjadi gempa bumi swarm pada 23 Oktober hingga awal November 2021. Kejadian itu mengakibatkan kerusakan bangunan di daerah Ambarawa, Kabupaten Semarang.

Menurut BMKG kejadian gempa bumi swarm tersebut diakibatkan oleh sesar aktif berarah utara-selatan. Sesar aktif itu sebelumnya belum teridentifikasi.

Sementara itu, sebagian besar gempa pada 2021 bersumber dari sesar aktif, dan beberapa yang bersumber dari zona penunjaman. Dari kejadian, terdapat beberapa gempa bumi yang sumbernya belum teridentifikasi sebelumnya.

Beberapa di antaranya seperti gempa bumi Tehoru, Maluku Tengah (16 Juni 2021), gempa Mamasa (22 Juli 2021), gempa Tojo-Una-Una (26 Juli 2021 dan 28 Agustus 2021), gempa Brebes (28 September 2021), gempa Bangli-Karangasem (16 Oktober 2021), gempa Ambarawa (23 Oktober 2021), gempa Seram Utara (4 November 2021), dan gempa Kepulauan Selayar pada 14 Desember 2021.

Supartoyo mengingatkan, kegiatan penyelidikan gempa bumi harus terus dilakukan guna mengetahui karakteristik sumber-sumber gempa bumi yang belum teridentifikasi.

“Peta Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi berguna untuk mendukung kegiatan mitigasi gempa bumi dan masukan pada revisi penataan ruang. Hanya dengan upaya mitigasi, risiko dari kejadian gempa bumi yang mungkin akan terulang di kemudian hari akan dapat diminimalisir,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gempa bumi badangeologi
Editor : Lili Sunardi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top