Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

14 Cecurut Jenis Baru Ditemukan di Sulawesi Selatan

Badan Riset Nasional dan Inovasi (BRIN) menemukan 14 jenis cecurut jenis baru di Sulawesi Selatan. Penemuan tersebut menambah jenis baru cecurut yang kini berjumlah 21.
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 20 Desember 2021  |  13:15 WIB
Anang S. Achmadi, Peneliti Pusat Riset Biologi Badan Riset Nasional dan Inovasi (BRIN) bersama dengan Jake Esselstyn, ahli mamalia dari Lousiana State University (LSU), Amerika Serikat dan Kevin C. Rowe, ahli mamalia dari Museum Victoria Australia menemukan 14 jenis baru cecurut di Sulawesi. - Dok.BRIN
Anang S. Achmadi, Peneliti Pusat Riset Biologi Badan Riset Nasional dan Inovasi (BRIN) bersama dengan Jake Esselstyn, ahli mamalia dari Lousiana State University (LSU), Amerika Serikat dan Kevin C. Rowe, ahli mamalia dari Museum Victoria Australia menemukan 14 jenis baru cecurut di Sulawesi. - Dok.BRIN

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Riset Nasional dan Inovasi (BRIN) menemukan 14 jenis cecurut jenis baru di Sulawesi Selatan. Penemuan tersebut menambah jenis baru cecurut yang kini berjumlah 21 sejak diidentifikasi pada tahun 1916.

“Penemuan ini menambah keanekaragaman cecurut Sulawesi menjadi tiga kali lebih banyak daripada yang diketahui dari pulau lain mana pun,” kata Anang S. Achmadi selaku salah satu penulis yang juga menjabat sebagai  Plt. Kepala Pusat Riset Biologi BRIN dalam keterangan tertulis, Senin (20/12/2021).

Dalam melakukan penelitian ini, Anang berkolaborasi dengan Jake Esselstyn, ahli mamalia dari Lousiana State University (LSU), Amerika Serikat dan Kevin C. Rowe, ahli mamalia dari Museum Victoria Australia. Mereka bertiga melakukan penelitian selama kurang lebh satu dekade mengungkap 14 jenis cecurut baru tersebut.

Menurut Anang, penemuan 14 cecurut di Sulawesi ini menjadi sangat penting sebagai langkah untuk terus mendapatkan informasi dan inventarisasi jenis fauna, khususnya mamalia di Indonesia.

“Penemuan ini terungkap saat kami bersama tim memeriksa hampir 1400 spesimen cecurut secara intensif. Melalui konfirmasi data molekular dan morfologi spesimen baru yang dikoleksi sejak tahun 2010 dan 2018 dengan spesimen lama yang  dikoleksi sejak tahun 1916,” jelasnya.

Saat ini peneliti masih terus melakukan penelitian dan mendeskripsikan jenis baru dari kelompok mamalia.

“Dengan penemuan ini, yang sesungguhnya dapat merefleksikan kekayaan hayati yang berasal dari kelompok fauna kecil atau mikroskopis yang belum terungkap, menjadi tantangan tersendiri bagi peneliti BRIN di masa depan,” imbuhnya.

Esselstyn mengakui, bahwa penemuan ini sangat menarik, walaupun terkadang membuat frustrasi.

“Biasanya, kami menemukan satu jenis baru pada satu waktu dan mendapatkan suatu sensasi yang luar biasa dari penemuan tersebut. Tetapi, dalam kasus ini  menjadi luar biasa, karena selama beberapa tahun pertama, kami tidak dapat mengungkapkan berapa banyak spesies sebenarnya yang telah kita peroleh,” ujar profesor dari  Departemen Ilmu Biologi LSU tersebut.

Esselstyn menjelaskan, taksonomi berfungsi sebagai ilmu dasar dari begitu banyak penelitian biologi dan upaya konservasi.

“Ketika kita tidak mengetahui berapa banyak jenis yang ada atau di mana mereka hidup, kemampuan kita untuk memahami dan melestarikan kehidupan sangat terbatas. Sangat penting bagi kami untuk mendokumentasikan dan mengungkap keanekaragaman tersebut,” ungkapnya.

Penemuan ini merupakan tonggak utama dalam penelitian Esselstyn. Dia tertarik untuk menguji hipotesis secara ekologi dan evolusi yang mungkin dapat menjelaskan keragaman cecurut di Indonesia.

Bersama dengan Achmadi, Esselstyn memulai penelitian kelompok tikus di pulau Sulawesi sejak tahun 2010. Ternyata, mereka menyadari terlalu banyak jenis yang belum terungkap untuk menguji hipotesis tersebut.

Cecurut adalah kelompok mamalia yang sangat beragam. Sejauh ini 461 spesies telah teridentifikasi. Fauna ini memiliki distribusi yang sangat luas dan mendunia. Hewan pemakan serangga ini adalah kerabat dekat dari landak dan moles daripada jenis mamalia lainnya.

Beberapa tim lain yang juga terlibat dalam ekspedisi penelitian ini adalah Heru Handika, mahasiswa Doktoral LSU, Mark Swanson alumnus dari LSU, dan Thomas Giarla dari Siena College New York.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sulawesi selatan Badan Riset dan Inovasi Nasional-BRIN
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top