Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengamat: Penurunan Harga PCR Harus Diikuti dengan Pasokan yang Memadai

Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai penurunan harga polymerase chain reaction (PCR) perlu diikuti ketersediaan pasokan yang memadai.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 30 Oktober 2021  |  15:34 WIB
Petugas mengambil sampel lendir saat Tes PCR di Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Undip Semarang, Rabu (22/4 - 2020). Foto: Istimewa
Petugas mengambil sampel lendir saat Tes PCR di Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Undip Semarang, Rabu (22/4 - 2020). Foto: Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai penurunan harga polymerase chain reaction (PCR) perlu diikuti ketersediaan pasokan yang memadai.

Associate Researcher Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Andree Surianta menyebutkan bahwa saat ini permintaan untuk tes PCR terus meningkat, sehingga upaya menekan harganya harus diikuti dengan memastikan pasokan yang mencukupi untuk memenuhi permintaan pasar.

“Kebijakan mematok harga hanya akan efektif kalau pasokan berlimpah dan semua komponen biaya diketahui oleh pemerintah. Terlalu tingginya harga patokan dapat membatasi jumlah konsumen, tetapi kalau harga terlalu rendah akan membuat supplier bisa mundur, sehingga terjadi kelangkaan atau bahkan terbentuknya pasar gelap,” tuturnya, Sabtu (30/10/2021).

Lebih lanjut, dia menjelaskan, karena Indonesia tidak memproduksi alat tes PCR sendiri dan ketersediaan PCR sepenuhnya berasal dari impor, maka perlu ditinjau apakah kondisi tingginya harga terjadi karena jumlah importir yang terlalu sedikit.

Dia melanjutkan, jika selama ini importasi alat PCR didominasi swasta, maka pelibatan BUMN sebagai importir bisa saja dilakukan untuk mengendalikan harga. Namun, hal tersebut bukan solusi terbaik karena perseroan harus mengikuti harga patokan pemerintah.

Menurutnya, pengambilalihan importasi alat PCR oleh BUMN juga dapat meningkatkan risiko disrupsi dan bottleneck karena jalur masuk pasokan menjadi sempit.

“Harga bisa saja kelihatan murah, tetapi tiba-tiba tidak ada stok kalau jalur yang cuma satu itu terdisrupsi. Malah kita perlu lebih banyak importir untuk mengurangi risiko disrupsi dan menekan harga,” ujarnya.

Andree menyebut, pemerintah perlu terbuka tentang komponen yang ada di dalam harga, karena ketiadaan informasi yang jelas tentang hal itu akan mempersulit penilaian efektivitas kebijakan tersebut.

Untuk itu, pemerintah harus memperhatikan reaksi pasar setelah mengeluarkan kebijakan mengenai harga tes PCR. Jika setelah harga dipatok malah banyak lab yang tidak menawarkan PCR lagi atau terjadi kelangkaan PCR, berarti harga tersebut tidak bisa menutupi biaya lab.

Solusi paling aman adalah menambah pasokan dengan memperbanyak jalur impor. Untuk jangka menengah dan panjang, solusi yang dibutuhkan adalah menarik investasi pada manufaktur alat kesehatan dalam negeri.

Menarik minat investasi pada sektor tersebut, sebagaimana sektor lainnya juga perlu diikuti oleh reformasi regulasi dan birokrasi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

PCR
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top