Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PPKM Darurat: Tes Covid-19, Pilih Paket Hemat atau Paket Khusus?

Dalam situasi seperti saat ini, layanan swab PCR dan antigen menjadi kebutuhan. Masyarakat butuh memastikan dirinya bebas dari paparan Covid-19.
PPKM Darurat: Tes Covid-19, Pilih Paket Hemat atau Paket Khusus?
Ilustrasi - Petugas medis di RSUD Loekmono Hadi Kudus, Jawa Tengah, tengah melayani pemeriksaan tes swab PCR. - Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 di Indonesia terus mengganas. Tambahan kasus positif  menyentuh angka 20.000-an dalam beberapa hari terakhir.

Pemerintah pun berencana menerapkan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa Pemberlakuam Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat akan segera diterapkan sebagai respons atas lonjakan signifikan kasus positif nasional.

“Hari ini ada finalisasi kajian karena lonjakan yang sangat tinggi dan kita harapkan selesai karena diketuai oleh Pak Airlangga, Pak Menko Ekonomi, untuk memutuskan diberlakukannya PPKM Darurat,” kata Presiden dalam acara Munas VIII Kadin di Kendari, Sulawesi Tenggara dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (30/6/2021).

PPKM Darurat akan diberlakukan di Pulau Jawa dan Bali yakni di 44 kabupaten/kota di 6 provinsi.

Dalam situasi seperti saat ini, layanan swab PCR dan antigen pun menjadi kebutuhan. Selain meningkatkan kapasitas tes secara nasional, tes swab dilakukan masyarakat guna memastikan dirinya terbebas dari Covid-19.

Sejauh ini laboratorium dan rumah sakit swasta maupun pemerintah telah menyediakan layanan tes PCR dan antigen dengan harga bervariasi.

Di Laboratorium Arcadia Clinic, Daan Mogot, misalnya biaya tes PCR dipatok seharga Rp850.000.

Dengan harga tersebut hasil tes diumumkan paling lambat 10 jam.

“Pelayanannya cukup baik, dan orang yang akan dites pun diminta untuk jaga jarak,” tutur Aji.

Dia juga pernah melakukan PCR di RS Mitra Keluarga Kalideres dengan biaya Rp748.000. Dengan harga tersebut hasil didapat sehari setelah tes PCR dilakukan.

Selain PCR, Aji juga pernah melakukan tes rapid antigen di Arcadia Clinic Daan Mogot dengan biaya Rp150.000. “Hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk mengetahui hasil tesnya,” tambah dia.

Harga tes Covid-19 untuk daerah Jabodetabek, seperti terdapat di aplikasi Halodoc, memang bervarias.

Harga tes cepat antigen berkisar antara Rp150.000 – Rp250.000. Sementara untuk tes PCR harganya jauh berlipat antara Rp700.000 – Rp900.000.

Variasi harga juga bergantung kecepatan pasien menerima hasil tes dan kebijakan di kliniknya. Sejumlah sumber tenaga kesehatan di beberapa rumah sakit mengatakan harga tes juga termasuk untuk membiayai alat pelindung diri para tenaga kesehatan.

Layanan Tes PCR ke Rumah

Selain layanan tes di rumah sakit atau klinik, ada juga layanan tes Covid-19 ke rumah pengguna. Layanan tersebut misalnya ditawarkan Klinik L’Melia.

“Layanan ini merupakan kerja sama kami dengan Lab dari Jepang yang di Indonesia sudah memperoleh izin (legal) operasional,” ujar General Manager Klinik L'Melia, Dr Erik Tapan, MHA.

Perusahaan dimaksud adalah Toyota Tsusho Corporation (TTC) dan Health Science Research Institute, Inc. (HSRI).

Ilustrasi - Tes Covid-19/Bumame Farmasi

Disebutkan Erik layanan tes PCR ke rumah dikenai biaya Rp875.000. Khusus untuk warga DKI Jakarta dengan lokasi wajar, tidak akan dikenai tambahan biaya transportasi.

Masyarakat yang berminat menggunakan jasa Klinik L’Melia cukup mengirim data berisi nama, alamat lengkap, rencana tes PCR  serta nomor WA yang aktif ke  nomor WhatsApp milik  L’Melia.

“Kirimkan data tersebut selambat-lambatnya 2 x 24 jam ke WA 08111-399-899,” tambah Erik.

Selanjutnya,  mereka akan dihubungi untuk mendapat pemberitahuan lebih lanjut atau  janji pemeriksaan.

“Hasil tes PCR disampaikan secara paperless melalui WA  dalam bahasa Inggris, lengkap dengan CT Value jika positif,” ujar Erik.

Tak Ramah Kantong

Soal biaya tes PCR yang tak sedikit menjadi keluhahan kelompok masyarakat yang cost sensitive.

Hal itu misalnya disampaikan di akun twitter @sixxcar yang sempat viral di media social.

Pemilik akun tersebut menulis bahwa di masa pandemi, alih-alih tak bisa menabung karena nongkrong di kafe atau beli barang mahal, milenial tak bisa menabung karena harus sering-sering tes Covid-19, baik swab antigen maupun PCR.

“Tidak semua milenial uangnya habis untuk ngopi. Beberapa orang uangnya habis untuk swab antigen,” tulisnya, Minggu (27/6/2021).

Cuitan tersebut viral, di retwet 4.437 kali, dan disukai sampai 13.300-an orang. Cuitan tersebut juga dibenarkan sejumlah warganet.

“Udah kalo antigen positif terus disuruh lanjut PCR, harganya tiga kali lipatnya antigen, padahal hasilnya ya sama-sama positif,” tulis akun @hannynovida, membalas cuitan sebelumnya.

Harga tes Covid-19 masih menjadi masalah bagi kebanyakan masyarakat karena cukup mahal. Terlebih saat kasus Covid-19 terus melonjak, ketika badan terasa tak sehat yang pertama kali dilakukan harus tes Covid-19.

Ilustrasi - Calon penumpang kereta api menyerahkan kantong tes deteksi Covid-19 dengan metode GeNose C19 kepada petugas kesehatan untuk diperiksa di Stasiun Pasar Turi, Surabaya, Jawa Timur, Senin (15/2/2021)./Antara

Salah satu inovasi negeri untuk menanggulangi masalah biaya ini adalah GeNose C-19. Tes Covid yang cukup melalui tiupan udara dari mulut ini hanya menelan biaya sampai Rp30.000 saja.

Namun, sejumlah ahli justru meragukan validitas Genose. Sebelumnya, Ahli Biologi Molekuler Ahmad Utomo meminta penggunaan GeNose dihentikan  terutama untuk syarat perjalanan jauh.

“Mohon sangat, setop penggunaan Genose untuk verifikasi perjalanan kembalikan ke tes standar baku, kecuali sudah ada bukti validasi Genose dari minimal 3 kampus merdeka,” ujar Ahmad melalui akun @PakAhmadUtomo, Senin (21/6/2021).

Hal serupa juga dikhawatirkan sejumlah warganet yang telah membutktikan dirinya tetap negatif saat swab PCR setelah hasil GeNose positif. Ada pula yang hasil tes PCR-nya positif setelah hasil GeNosenya negatif.

Namun, tak sedikit warganet yang menolak GeNose dihapuskan, lantaran harganya yang terjangkau.

Seperti diungkap akun Twitter @fidbecks_ untuk kembali ke alat tes terstandar baku, pemerintah harus memastikan harganya bisa sama atau semurah GeNose.

“Saya bukan akademisi yang pinter pak, tapi apa ada tes lain semurah Genose? Apa setiap orang bepergian harus bayar tes 100rb-an? Daripada mikirin efektif atau enggaknya Genose? Pakar senior ga mikir apa gimana caranya gratisin tes yg lebih efektif,” ujarnya.

Konsistensi Prokes

Di luar layanan penanganan Covid yang ditawarkan berbagai tempat,  kualitas  layanan dan disiplin rumah sakit juga menjadi perhatian mayarakat.

Kasus yang dihadapi Novia Dewi, seorang ibu rumah tangga yang bermukim di Kawasan perumahan BSDCity Serpong bisa menjadi contoh.

Dia mengaku heran dengan implementasi persyaratan swab antigen bagi pasien rumah sakit yang berbeda-beda. Begitu juga dengan harga swab antigen maupun PCR yang tidak sama. 

Novia Dewi mencontohkan ketika suaminya akan mencabut gigi di Puskesmas Kelurahan Rawa Buntu, Serpong. Saat itu tidak ada pemeriksaan swab antigen bagi pasien yang akan mendapat tindakan medis selain mengukur suhu tubuh.

Saat pendaftaran, petugas mengingatkan akan ada swab antigen terlebih dahulu. Kenyataan, suami Novia Dewi tetap bisa menjalani pencabutan gigi tanpa swab terlebih dahulu.

Sebelumnya, dia membayangkan di Puskesmas tersebut protokol kesehatan akan berjalan ketat. Dia juga sempat membayangkan suaminya akan membayar sekitar Rp150.000 untuk swab antigen.

Ilustrasi/diagnos.co.id

Kondisi itu berbeda ketika ibu rumah tangga tersebut menjadi pasien di RIS Hospital yang berjarak sekitar dua kilometer dari Puskesmas Rawa buntu.

Rumah sakit itu mensyaratkan pasien yang akan dirawat harus menjalani swab antigen di tempat. Novia Dewi pun membayar sekitar Rp135.000 untuk swab antigen sebelum menjalani perawatan atas penebalan dinding rahim yang dialaminya beberapa bulan terakhir.

Tapi, Novia heran dengan suasana di rumah sakit tersebut yang terkesan tidak terlalu ketat dengan protokol kesehatan.

Beberapa kali suaminya bolak-balik bisa masuk rumah sakit untuk mendampingi dirinya tanpa ada pemeriksaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Covid-19 swab test PPKM Darurat
Editor : Saeno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top