Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Survei Capres 2024: Prabowo Harus Hati-Hati Hadapi 'Pengganggu'

Selain faktor nasib, Prabowo juga harus menghitung sejumlah nama yang berpotensi menjadi pengganggu jalan dia menuju kursi Indonesia satu.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 23 Mei 2021  |  17:15 WIB
Prabowo Subianto saat bersiap menyampaikan konferensi pers terkait perolehan hitung cepat pemilihan presiden 2019 di Jalan Kertanegara, Jakarta, Rabu (17/4/2019). - Antara/Galih Pradipta
Prabowo Subianto saat bersiap menyampaikan konferensi pers terkait perolehan hitung cepat pemilihan presiden 2019 di Jalan Kertanegara, Jakarta, Rabu (17/4/2019). - Antara/Galih Pradipta

Bisnis.com, JAKARTA – Pilpres 2024 di atas kertas dapat menjadi momen kemenangan bagi Prabowo Subianto. Paling tidak begitu yang tersirat dari hasil survei yang dilakukan Puspoll Indonesia.

Tapi hitung-hitungan di atas kertas bisa jadi berbeda dari fakta yang sebenarnya terjadi, kelak. Selain faktor nasib, Prabowo juga harus menghitung sejumlah nama yang berpotensi menjadi pengganggu jalan dia menuju kursi Indonesia satu.

Jika gagal melapangkan jalan, Prabowo harus legawa menerima kenyataan hanya sebagai capres yang diunggulkan survei.

Sejauh ini, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sugiono tegas menyatakan bahwa partainya masih akan meminta Prabowo Subianto untuk maju kembali mencalonkan diri sebagai Calon Presiden (Capres) 2024. 

Hal itu disampaikan Sugiono dalam paparan hasil Survei Puspoll Indonesia, Minggu (23/5/2021). 

“Kami masih menginginkan Prabowo sebagai Capres. Karena prosesnya belum mulai, kita belum melakukan satu langkah. Karena ini hasil keputusan kongres adalah harus dibicarakan dalam satu forum yang khusus untuk ambil keputusan,” ujarnya. 

Hasil survei Puspoll Indonesia, ujar Sugiono, jadi alat untuk menganalisa peluang PRabowo.

“Survei ini bisa jadi tools yang sangat berarti bagi kami. Ini jadi bahan analisa di mana kita mengetahui keinginan dan harapan masyarakat dan catatan yang tadi disampaikan juga jadi bahan buat kami untuk menentukan langkah ke depan sehingga nanti Prabowo bukan hanya digandrungi generasi tua dan mewakili semua lapisan dan unsur masyarakat,” ujarnya. 

Dukungan Pemilih Beragama Islam

Prabowo Subianto saat mencoba kendaraan perintis buatan PT Pindad (persero)-Dok. Twitter @prabowo

Pada Pilpres 2019, Prabowo yang berpasangan dengan Sandiaga Uno mendapat dukungan kuat  dari kelompok Islam. Lantas bagaimana prospek 2024? Mungkinkan Prabowo akan membangun koalisi dengan perpol Islam?

Sugiono menegaskan Gerindra sangat terbuka. Di sisi lain ia menyebutkan bahwa yang harus menjadi agenda adalah pesan atau program yang tidak sektoral, tapi yang nasionalis dan perbaikan bagi hajat hidup orang banyak.

“Saya kira ini PR buat kita semua, bahwa masyarakat belum merasakan atau menikmati hasil kerja keras parpol dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi sehari-hari. Agenda yang harus kita kedepankan bukan membagi atau mengkotak-kotakkan diri kita dalam asosiasi berdasarkan kelompok-kelompok maupun unsur-unsur tertentu,” imbuhnya. 

Berdasarkan hasil survei Puspoll Indonesia pada April 2021 untuk tingkat Popularitas dan Akseptabilitas Capres 2024, Prabowo mendapatkan 93,8 persen responden mengenal dan 79,9 persen suka.  

Untuk tingkat kepantasan menjadi Calon Presiden, Prabowo menempati urutan teratas dengan 66,2 persen. Untuk tingkat elektabilitas dari 22 nama yang diuji, Prabowo Subianto tertinggi dengan capaian 20,9 persen. 

Hambatannya, meski memiiliki elektabilitas tinggi, Prabowo tidak cukup mewakili generasi muda. Berdasarkan survei tersebut, yang cukup mewakili generasi muda adalah Anies Baswedan 16,6 persen, Sandiaga Uno 15,8 persen, Ganjar Pranowo 12,8 persen. Sedangkan Prabowo hanya meraih elektablitas 12,5 persen.

Pilih Megawati atau Anies Baswedan

Foto Arsip - Megawati Soekarnoputri (kiri depan) dan Prabowo Subianto (kanan depan)./Reuters

Di luar para pesaing muda yang mengintip, Prabowo juga harus mempertimbangkan popularitas Megawati Soekarnoputri.

Sebanyak 87,3 persen responden mengaku mengenal Megawati dan 58,6 persen menyukai Ketua Umum PDI Perjuangan.

Dengan kata lain, Megawati memiliki banyak pemilih yang bisa dipengaruhi. Komando dari Megawati bisa membuat suara pendukung Prabowo tersaingi. Bisa juga suara dukungan untuk Prabowo bisa bertambah jika kembali ada diplomasi nasi goreng tahap kedua yang menandai koalisi Gerindra dan PDIP.

Jika itu yang terjadi, tentu harga nasi goreng buatan Megawati kali ini harus dibayar dengan pantas oleh Prabowo dan Partai Gerindra. 

Pilihan bagi Prabowo selain berkoalisi dengan PDIP adalah menggandeng Anies Baswedan sebagai cawapres.

Survei menunjukkan Anies Baswedan memiliki popularitas 86,4 persen dan potensi elektabilitas Anies yang disukai 72,6 persen responden.

Prabowo bisa memilih apakah menambah basis massa pendukung dengan merangkul PDIP atau mengandalkan massa non-PDIP dengan memanfaatkan popularitas Anies Baswedan.

Meski tidak memiliki keanggotaan resmi di satu partai politik pun, Anies Baswedan memiliki kemampuan membangun jaringan politik yang penting. Dukungan mantan wapres Jusuf Kalla kepada Anies saat Pilgub DKI menyiratkan kemapuan Anies membangun koneksi dengan figur politik penting di Tanah Air. 

Di sisi lain, Sandiaga Uno dinilai paling pantas menjadi Wakil Presiden dengan hasil survei 54,4 persen, disusul Anies Baswedan 48,7 persen, dan Ganjar Pranowo 40 persen. 

“Nama-nama yang populer adalah nama kepala daerah meskipun mereka sudah mengatakan tidak akan mencalonkan sekalipun,” kata Muslimin Tanja, Direktur Eksekutif Puspoll Indonesia, pada paparan hasil survei Puspoll Indonesia, Minggu (23/5/2021). 

Jika pilpres dilakukan hari ini, elektabilitas Prabowo Subianto mencapai 20,9 persen, Anies Baswedan 15,4 persen, Ganjar Pranowo 13,8 persen, Sandiaga Uno 7,1 persen, dan Ridwal Kamil 4,9 persen. 

Tak pelak, hasil Survei Puspoll dengan metode multi step random sampling terhadap 1.600 orang responden yang tersebar di 34 provinsi secara proporsional itu menjadi bahan penting bagi Prabowo dan Gerindra.

Satu hal yang pasti, Prabowo dan Gerindra harus menghitung dengan presisi dinamika yang terjadi dalam riil politik di luar potret sebuah survei. Jika terlalu yakin atau ge-er, kejadian pada Pilpres 2019 bisa terulang.

Faktor Golkar

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga (kiri), yang saat ini juga menjabat Menko Perekonomian, menghadiahkan sebuah topi berwarna hitam kepada Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, yang juga menjabat Menteri Pemerintahan di Kabinet Pemerintahan Presiden Jokowi. - Twitter/airlangga

Hasil survei yang dirilis lembaga Akar Rumput Strategic Consulting (ARSC) menempatkan empat menteri Kabinet Indonesia Maju  (KIM) Sandiaga Uno, Prabowo Subianto, Airlangga Hartarto, Tri Rismaharini memiliki elektabilitas tertinggi. Mereka dinilai dipercaya masyarakat bisa menjadi calon presiden tahun 2024.

"Sandiaga Uno memperoleh elektabilitas 25,26 persen, Prabowo Subianto 19,17 persen dan Airlangga Hartarto 9,79 persen serta Tri Rismaharini 7,69 persen," kata peneliti ARSC Bagus Balghi di Jakarta, Sabtu (22/5/2021).

Survei yang dirilis ARSC tersebut dilaksanakan pada 26 April hingga 8 Mei 2021, dan melibatkan 1.200 responden di 34 provinsi dengan usia terendah 17 tahun atau sudah memenuhi syarat sebagai pemilih.

Survei dilakukan melalui telepon dengan metode penarikan sampel acak bertingkat dengan batas kesalahan "margin of error" kurang lebih 2,9 persen dan tingkat kepercayaan mencapai 95 persen.

Menanggapi hasil survei tersebut, Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPP Partai Golkar, Maman Abdurahman mengatakan faktor pandemi Covid-19 memengaruhi penilaian publik terhadap pemilihan figur yang akan menjadi calon pemimpin di masa depan.

Oleh karena itu, menurut Maman, publik akan melihat siapa yang benar-benar serius dan mengatasi pandemi Covid-19, serta upaya pemulihan ekonomi yang dilakukan.

Hingga saat ini, Airlangga Hartarto masih fokus dalam penanganan dan pengendalian Covid-19 serta pemulihan ekonomi Indonesia. Partai Golkar, ujarnya, dari tingkat atas sampai paling bawah belum bergerak secara optimal.

Hal itu dikarenakan masih melakukan konsolidasi internal di tubuh partai. "Kami belum bergerak, ibarat-nya masih di gigi satu karena kita masih fokus konsolidasi internal partai," ujarnya.

Menurut Maman, seorang calon presiden tidak dapat hanya dilihat dari faktor elektabilitas dan popularitas saja. Juga, rekam jejak dan kemampuan untuk menyelesaikan persoalan bangsa.

Sementara itu, pengamat politik Airlangga Pribadi mengatakan, dalam pemilihan sebelumnya, Partai Golkar kerap menjadi salah satu penentu dalam kontestasi politik. "Golkar bisa jadi sebagai King Maker dalam konteks politik. Ini perlu dipertimbangkan karena masih awal," ujarnya.

Kandidat Alternatif

Zulkieflimansyah/Istimewa


Sementara itu, terkait Pilpres 2024 pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Voxpol Center Research & Consulting Pangi Syarwi Chaniago menyebutkan soal fenomena munculnya atau dimunculkannya capres alternatif.

Menurut Pangi, capres alternatif di luar nama-nama mainstream yang beredar di kalangan publik dan survei, cukup menarik untuk  menambah pilihan masyarakat.

"Capres alternatif sebenarnya bisa membuat kompetisi pilpres lebih menarik karena calon tidak didominasi oleh tokoh tokoh dari Pulau Jawa dan para ketua umum partai," kata Pangi ketika dihubungi Bisnis, Minggu (23/5).

Dia menambahkan semakin banyak calon presiden maka semakin baik untuk demokrasi. Ditanya peluang kepala daerah di luar Pulau Jawa untuk maju  menjadi  capes, Pangi mengatakan cukup   menarik bila muncul kepala daerah seperti dari wilayah timur Indonesia.

Dia mencontohkan nama Gubernur Nusa Tenggara  Barat Zulkiflimansyah cukup menarik meski mengaku belum memiliki data soal elektabilitas kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut. Bahkan bisa juga ditampilkan tokoh dari Papua untuk capres, ujarnya.

"Jangan sampai Pilpres 2024 mendatang hanya dua calon, supaya tidak lagi ada gesekan atau keterbelahan publik seperti pilpres yang lalu,” ujar Pangi.

Klaster Penghasil Capres

Prabowo Subianto berjabat tangan dengan Jokowi saat debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30-3-2019).-Antara-Hafidz Mubarak A

Lebih jauh Pangi mengatakan pada dasarnya ada tiga klaster penghasil capres. Klaster pertama adalah para ketua umum atau tokoh partai. Klaster kedua para menteri cabinet, dan klaster ketiga unsur kepala daerah berprestasi.

“Gubernur NTB Zulkiflimansyah masuk kepada klaster kepala daerah dari wilayah Indonesia Timur,” ujarnya. Apalagi dari hasil riset Voxpol saat ini masyarakat menginginkan capres lebih dari dua calon.

Menurut catatan, selain  cukup populer dari Indonesia Timur, Zulkiflimansyah juga dikenal oleh Masyarakat Banten karena pernah  maju di pemilihan gubernur selain pernah jadi Anggota DPR.

Segala kemungkinan masih bisa terjadi, kita akan melihat apakah Prabowo jadi maju kembali sebagai calon presiden. Bagaimana Prabowo dan Gerindra menghadapi pesaingnya, mungkinkah Prabowo melenggang ke Istana yang dua periode ditempati Joko Widodo?


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

megawati Anies Baswedan prabowo subianto Pilpres 2024
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top