Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penanganan Covid-19, Pakar Ini Tawarkan Pengendalian Non-Obat

Efektivitas pengendalian non-obat sangat tergantung pada beberapa faktor. Misalnya ketegasan pemerintah serta kedisiplinan masyarakat.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 23 Mei 2021  |  13:12 WIB
Ilustrasi - Petugas gabungan melintas di sekitar bus sekolah yang digunakan untuk mengangkut pemudik positif Covid-19 berdasarkan hasil tes usap antigen di Terminal Kalideres, Jakarta Barat, Selasa (18/5/2021). - Antara
Ilustrasi - Petugas gabungan melintas di sekitar bus sekolah yang digunakan untuk mengangkut pemudik positif Covid-19 berdasarkan hasil tes usap antigen di Terminal Kalideres, Jakarta Barat, Selasa (18/5/2021). - Antara

Bisnis.com, YOGYAKARTA – Penanganan Covid-19 dengan metode pengendalian non-obat bisa menjadi pilihan di Indonesia.  

Pakar Statistika Universitas Gadjah Mada Dedi Rosadi menyebutkan pengendalian kasus Covid-19 lewat metode non-pengobatan terbukti efektif dalam meminimalkan munculnya kasus baru.

Menurut Rosadi keberhasilan tersebut dapat dilihat di China, Australia, dan Selandia Baru. “Sampai saat ini, memang secara global fokus masih di pengendalian non-obat,” jelasnya.

Dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, , Sabtu (22/5/2021), Rosadi mengungkapkan tingkat efektivitas pengendalian non-obat dalam menekan kasus baru masih sangat beragam.

“Efektivitasnya beragam, ada yang sudah sampai multi-waves, namun banyak juga yang masih single wave seperti di Indonesia, Maroko, Paraguay, Uruguay,” paparnya.

Efektivitas pengendalian non-obat, menurut Rosadi, sangat tergantung pada beberapa faktor. Misalnya ketegasan pemerintah serta kedisiplinan masyarakat.

Meskipun demikian, Rosadi yakin apabila pengendalian non-obat dapat dilakukan secara global dan terus menerus, hal tersebut dapat mencegah terjadinya endemi.

“Saya yakin ini akan sangat sulit, sehingga endemik wilayah atau global sangat mungkin akan terjadi. Tapi kalau ini [pengendalian non-obat] bisa dilakukan efektif secara global, kejadian endemik tidak akan terjadi,” jelas Rosadi.

Kejadian endemi merujuk pada sebaran suatu penyakit. Apabila tidak ditangani dengan serius, kasus Covid-19 berpotensi tetap terjadi di beberapa wilayah. Pasalnya, saat ini sebaran Covid-19 sudah berada pada tahap pandemi atau menyeluruh.

Rosadi mengungkapkan akan sulit mengakhiri pandemi Covid-19 apabila tidak ada langkah strategis yang diambil. Pengendalian Covid-19 yang saat ini telah dilakukan berbagai negara, menurutnya, belum menampakkan hasil maksimal.

Beberapa negara memang dilaporkan berhasil meminimalkan kasus baru. Namun, negara-negara lain justru memperlihatkan lonjakan kasus yang signifikan. Hal tersebut mendasari kesimpulan Rosadi bahwa pandemi Covid-19 bakal berakhir menjadi penyakit endemik.

Sebelumnya, Satgas Penanganan Covid-19 melaporkan penambahan kasus harian pada Sabtu (22/5/2021) di tingkat nasional mencapai 5.296 kasus. Angka tersebut mencatat rekor, pasalnya telah 3 hari berturut-turut penambahan kasus berada di angka 5.000-an.

Sementara itu, varian Covid-19 asal India dilaporkan telah sampai di Jawa Tengah. Hal tersebut seiring dengan datangnya belasan awak kapal asing di Cilacap.

Untuk mengantisipasi penyebaran yang lebih luas, Satgas Penanganan Covid-19 di Kabupaten Cilacap bakal melakukan isolasi bagi tenaga kesehatan dan karyawan RSUD Cilacap yang terkonfirmasi positif.

Tracing, testing, dan treatment (3T) juga akan dilakukan bagi semua kontak erat dari tenaga kesehatan dan karyawan yang terkonfirmasi positif,” jelas Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pengendalian Covid-19 pandemi corona
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top