Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mozaik Hijau dari Tepi Citarum

Sungai Citarum adalah salah satu yang terpanjang di Indonesia. Wilayah ini menjadi sumber air baku bagi 15 juta penduduk hingga irigasi untuk ratusan ribu hektare sawah warga di sembilan kabupaten-kota.
Anggara Pernando
Anggara Pernando - Bisnis.com 31 Desember 2020  |  21:00 WIB
Ilustrasi - Sejumlah warga mengkampanyekan kepedulian untuk menjaga Sungai Citarum. - Antara / Fahrul Jayadiputra.
Ilustrasi - Sejumlah warga mengkampanyekan kepedulian untuk menjaga Sungai Citarum. - Antara / Fahrul Jayadiputra.

Bisnis.com, KARAWANG - Petak-petak sepanjang tiga puluh langkah orang dewasa berjejer lurus. Di atas 20 banjar itu berpacu hijau rawit 'setan', terung ungu, jagung, kacang panjang, bayam hingga singkong. Di sisi kiri dan kanan membentang ladang pisang belum berbuah. 

Menyusur jauh ke ujung ladang, menganga lebar Sungai Citarum. Air keruh mengalir di atasnya. 

“Sebelumnya di sini tanah kosong. Dipenuhi semak belukar dan ilalang, tak banyak yang mau ke sini karena sering banjir saat Citarum meluap,” ujar Enur Jaya, salah satu warga Desa Tanjung Mekar, Karawang, Sabtu, (18/12/2020) lalu. 

Menurut petani yang juga Ketua Rukun Warga (RW) 02 itu, Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang masuk ke wilayah Tanjung Mekar, pernah berada di titik terburuk. Tak ada lagi pohon tegakan, penghadang banjir di kala sungai meluap. 

Warga juga pernah sangat tidak peduli. Citarum dipunggungi. Dijadikan halaman belakang, tempat semua kotoran dan sampah dibuang. Hiruk pikuk jalan raya, membuat tak ada yang memandang penting peran Citarum. 

Padahal, menurut Enur, zaman dahulu, Citarum merupakan halaman. Banyak pohon yang berdiri yang melindungi desa dari erosi. "Dulu sisi Citarum penuh pohon tegakan, sekarang tidak ada lagi," katanya. 

Hari berganti, kondisi memburuk. Saat Citarum disebut-sebut masuk dalam daftar 10 sungai terburuk di dunia, warga mulai terpanggil. Gerakan untuk memulihkan daerah pinggiran sungai pun bangkit. Salah satunya dengan mengolah tanah kosong menjadi ladang palawija, agar Citarum tak lagi terlupa. 

Citarum harum

Ennur Jaya melakukan panen cabai rawit di ladang yang terdapat di pinggir Sungai Citarum./Bisnis - Anggara.  

Menurut Enur, keberadaan ladang di bibir Citarum merupakan upaya menjaga kemandirian pangan. Lahan daerah aliran sungai (DAS) ini diolah secara bersama-sama. Sedangkan rimba ilalang dibiarkan karena tak masuk lagi wilayah Tanjung Mekar.

Untuk menjaga keberlangsungan ladang hijau, warga membangun rumah hijau yang menjadi tempat persiapan bibit. Rumah hijau berada di tepi lapangan di ujung kampung yang jadi pemisah pemukiman warga dan daerah aliran sungai. Di rumah hijau, terdapat bibit tanaman yang disemai, lainnya pohon berbuah seperti sukun tersebar memanjang menghadap Citarum. 

Gelombang penyelamatan itu menjalar. Rupanya tak hanya di Tanjung Mekar. Terpisah oleh sungai, di seberangnya, warga Desa Kedungwaringin, Kecamatan Kedungwaringin Kab. Bekasi juga bergerak menjaga Citarum. 

Di Kampung Kedungwaringin, pembangunan pusat pengolahan sampah menjadi pilihan pertama. Sungai bukan lagi tempat buangan. Kebiasaan sebagian masyarakat yang menumpuk limbah ke dalam plastik untuk dibuang ke Citarum dikikis secara bersama. 

Sampah bernilai ekonomis disisihkan. Limbah organik diolah menjadi pupuk tanaman. 

Indra Jaya, Penggerak Lingkungan di Desa Kedungwaringin menyebutkan selain mengurus sampah, para penggerak juga mendorong warga menanam pohon tegakan. Posisi kampung di tepi Citarum membuat setiap langkah hijau menjadi sangat berarti. 

"Permasalahan-permasalahan Citarum ini, masyarakat masih gemar membuang sampah ke sungai, salah satunya Citarum. Di sinilah ecovillage berperan, bagaimana kesadaran bersama muncul. Bagaimana masyarakat memilah sampah sesuai jenisnya masing-masing. Organik, anorganik maupun residu," kata Indra. 

Hal yang sama disampaikan oleh Rodiah, penggerak lingkungan dari Tanjung Mekar. Untuk menjahit mozaik hijau di pinggir Citarum dibutuhkan kerja semua elemen. 

"
Lebih dari 15 juta orang hidup di sisi Citarum, dan sebagian besar dari mereka menggunakannya sebagai persediaan air"

Bergerak Bersama

Kerja menjaga Citarum dari kampung-kampung ini kembali menjadi perbincangan setelah viral video dua kakak beradik warga Perancis, Gary dan Sam Bencheghib, mendayung kayak terbuat dari botol plastik. 

Kakak beradik yang dibesarkan di Bali ini memvideokan aksi bersampan menyusuri Citarum. Melihat tumpukan plastik yang dijumpainya dalam perjalanan menggunakan perahu kayak itu, mereka menyebut Citarum sebagai sungai terkotor di dunia. 

"Lebih dari 15 juta orang hidup di sisi Citarum, dan sebagian besar dari mereka menggunakannya sebagai persediaan air," kata Gery dalam videonya di Youtube yang diunggah lewat kanal Make A Change pada Agustus 2017 lalu. 

Kesadaran pentingnya Citarum harum tentu bukan hanya disuarakan warga Perancis ini. Berbagai cara telah dilakukan silih berganti dari kepala daerah ke kepala daerah jauh sebelum video beredar.  Meski begitu, video viral ini menggerakkan Kepala Negara yakni Presiden Joko Widodo turun langsung memimpin pembersihan Citarum untuk menghilangkan hambatan sektoral. 

Apalagi Sungai Citarum yang terbentang sepanjang 297 kilometer dengan hulu di Situ Cisanti, kaki Gunung Wayang, Kabupaten Bandung dan bermuara di Pantai Utara Pulau Jawa, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi merupakan sumber air baku kota yang dilewati termasuk wilayah Jakarta.

Selain menjadi sumber air baku untuk air minum, DAS Sungai Citarum yang melintasi sembilan kabupaten dan kota juga menjadi sumber air irigasi untuk ratusan ribu hektare sawah. Siapa tidak kenal Karawang sebagai lumbung beras. 

Air citarum juga menjadi sumber pembangkit listrik untuk Pulau Jawa dan Bali. Sepanjang bentangnya, terdapat tiga waduk di sungai ini, yaitu Waduk Saguling, Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur yang dipasangi turbin pembangkit listrik.

Melalui inisiasi Citarum Harum, gerakan tidak lagi parsial titik per titik. Pembenahan dilakukan dengan instrumen lintas kebijakan yang dipandu langsung Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. 

Kampung Berseri Astra

Indra Jaya, Penggerak KBA Ecovillage KDW Beriman di tepi Sungai Citarum, Bekasi./Dok. Istimewa

Jika gerakan besar dilakukan pemerintah, bersamaan dengan itu, Astra International juga bergerak dari tepi. Astra turun ke kampung-kampung di sisi Citarum, melakukan pembinaan dan menjadikannya Kampung Berseri Astra (KBA). Pada 2020 ini, ada lima KBA baru di sisi Citarum. KBA itu mulai dari hulu yakni Ecovillage Institut Gunung Wayang dan terus menghilir menjadi Ecovillage  Berlina, Ecovillage Penjaga Alam, Ecovillage KWD Beriman, dan Ecovillage Tanjung Mekar Berhias. Tahun sebelumnya, perusahaan menetapkan  KBA Bintang Alam yang berada di sisi Danau Bintang Alam juga di sisi Citarum. 

Seperti halnya program KBA umumnya, di kedua KBA -- Ecovillage Tanjung Mekar Berhias dan KWD Beriman, Kedung Gede-- saat ini masyarakat juga terus bergerak untuk melakukan pembenahan di berbagai aspek seperti kewirausahaan, pendidikan, kesehatan, dan tentu lingkungan.

Menumbuhkan penggerak lokal menjadi andalan agar program dapat berjalan dalam jangka panjang. Rodiah dan Indra Jaya adalah salah dua para penggerak itu. 

Riza Deliansyah Chief Of Corporate Affairs PT Astra International Tbk. (ASII) menyebutkan sebagai perusahaan pihaknya ingin menjadi entitas yang menebar manfaat bagi Indonesia. Lewat program Kampung Berseri Astra (KBA) dan Desa Berseri Astra (DSA), pihaknya juga siap berkontribusi membangun Indonesia dari pinggiran. 

"Kami dari Astra mendorong desa-desa ini menjadi role model bagi desa sekitarnya," kata Riza dalam Virtual Kick Off Desa Sejahtera Astra beberapa waktu lalu. 

Bagi warga kampung Tanjung Mekar dan Kedung Gede, kehadiran Astra ke kampung mereka menjadi penyemangat untuk bisa mengubah wajah Citarum. Indra dan Rodiah sepakat , meski baru seumur jagung, gerak bersama seluruh warga melalui KBA mereka bisa mewujudkan asa menuju Citarum yang menghidupkan. Citarum harum. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

astra sungai citarum
Editor : Anggara Pernando
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top