Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Satgas Covid-19: Hati-Hati Klaster Kegiatan Keagamaan

Kasus yang pernah terjadi menunjukkan sejumlah kegiatan keagamaan terkait dengan penularan Covid-19.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 25 November 2020  |  19:39 WIB
Ilustrasi - Peserta Ijtima Dunia 2020 Zona Asia di Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan./Antara/HO - Int
Ilustrasi - Peserta Ijtima Dunia 2020 Zona Asia di Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan./Antara/HO - Int

Bisnis.com, JAKARTA –Satgas Penanganan Covid-19 mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati ketika melakukan kegiatan keagamaan.

Kehati-hatian diperlukan jika kegiatan keagamaan tersebut menyebabkan kerumunan dan berpotensi menjadi sumber penularan dan menimbulkan klaster baru Covid-19.

Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah mengatakan penularan virus Corona termasuk di kegiatan keagamaan berawal karena banyaknya orang yang berkumpul dalam satu waktu, satu ruangan, dan muncul kerumunan sehingga sulit jaga jarak.

“Kemudian mencuci tangan dan memakai masker juga tidak dilakukan, sehingga terjadi potensi penularan dari orang yang terinfeksi tapi enggak ada gejala. Sekitar 60 hingga 80 persen orang terinfeksi Covid-19 adalah tidak bergejala atau gejala ringan,” jelasnya pada dialog Covid Dalam Angka, Rabu (25/11/2020).

Dewi menyebutkan pada masa awal pandemi banyak terjadi klaster kegiatan keagamaan, mulai dari acara perkumpulan sampai dengan asrama dan pesantren.

Pertama Sidang GBIP di Bogor pada Februari 2020, yang melahirkan 24 kasus dan menyebar ke 5 provinsi.

Namun, berdasarkan penelusuran 60 persen kasus justru dari keluarga atau kerabat yang bahkan tidak ikut hadir ke acara, tapi tertular dari kerabat atau keluarga yang ikut acara tersebut.

Kedua, seminar bisnis tanpa riba di Bogor pada akhir Februari dengan jumlah 200-an peserta. Dari seminar tersebut ditemukan 24 kasus, tersebar di 7 provinsi dan menyebabkan 3 kematian.

Ketiga, pertemuan di Lembang pada awal Maret yang dihadiri 637 peserta. Dari acara tersebut terdapat 262 kasus yang muncul.

“Dari sini kita meng-highlight bahwa ketika terjadi pertemuan yang jumlah pesertanya banyak akan lebih mudah infeksi menyebar. Dari pertemuan ini teridentifikasi bahwa penularan karena ada kegiatan jabat tangan dari pemuka agamanya ke peserta acara,” jelas Dewi.

Selanjutnya, kasus di Gowa, yang dihadiri kurang lebih 8.761 orang. Meskipun acaranya batal, orang sudah terlanjur berkumpul. Dari pertemuan ini, ditemukan sampai 1.248 kasus yang tersebar di 20 provinsi dan menyebabkan 27 orang meninggal.

“Semua 1.200-an orang itu lagi-lagi bukan dari peserta, melainkan tertular dari beberapa orang yang ikut acara tersebut, kemudian pulang dan menularkan ke orang sekitarnya. Kemungkinan menular ke orang yang rentan sehingga menimbulkan kematian,” jelas Dewi.

Ada pula beberapa klaster lainnya, seperti di pesantren di Jawa Timur yang menimbulkan 193 kasus. Namun seluruhnya ditemukan pada awal pandemi ketika masyarakat belum menyadari pentingnya pelaksanaan 3M.

Saat ini, ketika pemerintah sudah gencar melakukan kampanye, diharapkan tidak ada lagi klaster Covid-19 dari kegiatan keagamaan.

Dewi mengimbau meskipun tak bisa jaga jarak, setidaknya pastikan tangan selalu bersih dan tidak memegang wajah.

“Laksanakan protokol kesehatan, di rumah ibadah pastikan ada fasilitas tempat cuci tangan dan sabun, hand sanitizer, dan 3M dilaksanakan. Di Masjid sudah ada tanda tempat solat. Ini cara yang baik untuk dlakukan,” imbuh Dewi.

Selain 3M, akan jauh lebih baik ketika ada petugas untuk mengingatkan orang yang lupa. Kemudian intesifkan disinfeksi, perhatikan ventilasi, dan waktu penggunaan ruangan bersama.

Dewi mengatakan walaupun sudah dibersihkan semua bukan berarti protokol kesehatan bisa longgar.

Bagi masyarakat, gunakan alat ibadah sendiri, sehingga tidak ada tukar menukar. Sementara untuk pengadaan acara, apabila bisa dilakukan secara daring, lebih baik diadakan daring.

“Kan ada kegiatan yang bisa daring, misalnya seminar, ibadah, pengajian. Kegiatan agama yang memungkinkan daring tetap dilakukan daring, yang takziah atau tahlilan bisa batasi orang yang datang, ada banyak cara utnuk menunjukkan keprihatinan, dan tetap melakukan ibadah kita. Menghindari mudharat itu jauh lebih baik,” ujar Dewi.

Dia juga menegaskan agar masyarakat berhati-hati dengan keamanan semu, harus ada iktiar dan usaha untuk tetap terlindung dari Covid-19.

“Jangan karena kemarin ikut acara lalu tetap sehat atau negatif Covid-19 lalu terus merasa aman untuk ikut aktivitas dengan kerumunan. Jangan, harus ada iktiar!” tegasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Covid-19 Protokol Pencegahan Covid-19
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top