Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Malaysia Tangkap 688 Pelanggar Protokol Covid-19, Termasuk Imigran Gelap

Penangkapan itu menyusul 50.000 kali inspeksi di tempat bisnis, pemerintah dan swasta yang dilakukan oleh sekitar 11.000 personel keamanan.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 25 Oktober 2020  |  17:38 WIB
Suasana jalan raya kosong di Jalan Tun Razak di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (18/3/2020). Sejumlah jalan raya di Malaysia menjadi sepi setelah pemerintah mengumumkan lockdown nasional selama dua minggu. - Bloomberg/Samsul Said
Suasana jalan raya kosong di Jalan Tun Razak di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (18/3/2020). Sejumlah jalan raya di Malaysia menjadi sepi setelah pemerintah mengumumkan lockdown nasional selama dua minggu. - Bloomberg/Samsul Said

Bisnis.com, JAKARTA - Pihak berwenang Malaysia menangkap 688 orang karena melanggar protokol kesehatan Covid-19. 

Mereka, menurut Menteri Senior Ismail Sabri Yaakob, melanggar protokol kesehatan Covid-19 berdasarkan Peraturan Pembatasan Pergerakan Bersyarat (CMCO)

Pengabaian atas jarak fisik dan masker wajah menjadi dua pelanggaran teratas meskipun pemerintah berulang kali menyerukan kepada masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan di tengah lonjakan tajam kasus Covid-19 per hari.

Dari jumlah tersebut, 678 orang langsung dijebloskan ke sel tahanan, sedangkan sisanya dipidanakan.

“Di antara pelanggaran tersebut adalah tidak mempraktikkan jarak fisik (213 orang), tidak memakai masker (211 orang), tidak menggunakan perlengkapan kesehatan yang memenuhi syarat (136 orang), melakukan perjalanan antarkabupaten/negara bagian (37 orang), dan lainnya (91 orang),” kata Ismail dalam sebuah pernyataan seperti dikutip MalayMail.com, Minggu (25/10.2020).

Penangkapan itu menyusul 50.000 kali inspeksi di tempat bisnis, pemerintah dan swasta yang dilakukan oleh sekitar 11.000 personel keamanan.

Aparat keamanan juga menangkap 10 imigran yang diduga tidak memiliki dokumen perjalanan yang sah sebagai bagian dari "Operasi Benteng".

Pengetatan perbatasan dilakukan karena yang dianggap sebagai pemicu gelombang baru penularan.

Ismail berulang kali mengatakan bahwa "migran tidak berdokumen" positif Covid-19 harus disalahkan sebagai penyebab gelombang ketiga pandemi.

Sebagian besar dari sekitar lima ribu kasus baru yang dilaporkan sejak awal bulan ini berada di pusat-pusat penahanan, meskipun aktivis hak asasi berpendapat bahwa pihak berwenang seharusnya menguji semua tahanan baru terlebih dahulu sebelum menempatkan mereka di sel yang sempit.

Banyak dari fasilitas penahanan ini berada di Sabah yang sekarang menjadi episentrum baru pandemi.

Wilayah itu ditempatkan di bawah CMCO yang lebih ketat dibandingkan dengan di wilayah Lembah Klang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

malaysia Covid-19

Sumber : MalayMail.com

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top