Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dokter Tirta Sebut Indikasi Konspirasi dalam Vaksin Covid-19

Calon vaksin yang akan diandalkan Indonesia mengendalikan penyebaran virus di dalam negeri disebut bagian konspirasi.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 18 Oktober 2020  |  13:36 WIB
Botol vaksin CoronaVac SARS-CoV-2 Sinovac ditampilkan di acara media di Beijing, China, pada 24 September.  - Bloomberg
Botol vaksin CoronaVac SARS-CoV-2 Sinovac ditampilkan di acara media di Beijing, China, pada 24 September. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Tirta Mandira Hudi atau akrab disebut Dokter Tirta mengulas konspirasi Covid-19 melalui akun Twitternya. Dia menyebut Bill Gates, China, dan calon vaksin yang akan diandalkan Indonesia mengendalikan penyebaran virus di dalam negeri.

“Ingatlah drmana virus ini berasal : china. Virus Dibawa ke indo oleh turis china. Dan kita beli vaksin dari china,” mengutip Tirta melalui akun Twitter miliknya @tirta_hudi, Minggu (18/10/2020).

Secara singkat dia menjelaskan bahwa WHO memproduksi dan mendistribusikan vaksin lewat gerakan bernama COVAX. Gerakan ini dilakukan di bawah naungan dua organisasi kesehatan, GAVI dan CEPI. Dalam cuitannya, Tirta menyertakan bukti bahwa GAVI dibentuk Bill Gates melalui Gates Foundation.

Sementara itu Pasal 7 Perpres 99/2020 mengenai vaksin di Indonesia menyebut salah satu pengadaan vaksin akan dilakukan melalui kerja sama dengan lembaga atau badan internasional, yakni CEPI, GAVI, dan lembaga lainnya.

Seperti diketahui, saat ini Indonesia juga tergabung dalam 170 negara yang ikut serta dalam gerakan COVAX. Gerakan ini menjanjikan, vaksinasi bagi setidaknya 20 persen populasi penduduk di suatu negara dan mengakhiri fase akut dari pandemi dan membangun ekonomi.

Tirta pun mengkritisi langkah pemerintah yang menjanjikan 270 juta dosis vaksin yang akan mulai divaksinasi pada November 2020. Pasalnya belum ada satupun vaksin, yang disebut oleh pemerintah telah berkomitmen masuk ke Indonesia, lolos uji klinis tahap 3.

Pun menurut Tirta apabila uji klinis tahap 3 rampung pada November 2020, prosesnya terlalu cepat. Virus sejenis SARS-COV-2 penyebab Covid-19, yakni SARS dan MERS sampai saat ini belum memiliki vaksin. Padahal SARS telah terdeteksi sejak 2003 di China dan MERS sejak 2021 di Timur Tengah.

“Logikanya meneliti vaksin virus dalam 8 bulan Itu terlalu susah. Kecuali dia sendiri yg ngebuat virusnya wkwkwkwwkwkw,” kata Tirta melalui akun Twitternya.

Adapun sebelumnya I Gede Ari Astina atau Jerinx sempat menyuarakan Covid-19 sebagai konspirasi elit global. Penabuh drum Superman Is Dead ini aktif mengkampanyekan hal tersebut melalui media sosial Instagram miliknya.

Saat ini Jerinx atau JRX tengah dalam proses persidangan karena diduga mencemarkan nama baik Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Sebelum ditangkap, dia menyebut IDI sebagai kacung dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

JRX menilai IDI bertanggung jawab atas sejumlah ibu yang hendak melahirkan ditolak rumah sakit dan kemudian meninggal dunia. Rumah sakit melakukan penolakan berdasarkan hasil tes Covid-19 yang menunjukan hasil positif.

“Gara-gara bangga jadi kacung WHO IDI dan rumah sakit mewajibkan semua orang yang melahirkan dites Covid-19. Sudah banyak bukti jika hasil tes sering ngawur kenapa dipaksakan? Kalau hasil tesnya bikin stres dan menyebabkan kematian pada bayi/ibu, siapa yang tanggung jawab?" ujar Jerinx dalam unggahannya di Instagram.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Vaksin Covid-19
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top