Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penularan Virus Corona di Tempat Makan Lebih Berbahaya, Kenapa?

Rumah Makan Rawon Nguling di Probolinggo, pemiliknya positif Covid-19 dan menularkan juga ke anaknya sehingga meninggal.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 15 September 2020  |  15:22 WIB
Ilustrasi - Rumah Makan Sederhana - ciputraentrepreneurship.com
Ilustrasi - Rumah Makan Sederhana - ciputraentrepreneurship.com

Bisnis.com, JAKARTA – Klaster tempat makan mulai bermunculan di Indonesia. Klaster ini bisa jadi lebih berbahaya karena berkaitan erat dengan gaya hidup dan klaster-klaster lainnya, seperti klaster keluarga.

Berdasarkan studi @pandemictalks, klaster tempat makan bisa menyebabkan minimal tiga klaster tambahan, yaitu klaster keluarga pengunjung, klaster keluarga staf tempat makan, dan klaster tempat makan itu sendiri.

Seperti yang terjadi pada kasus klaster di Rumah Makan Rawon Nguling di Probolinggo, Jawa Timur misalnya, di mana pemiliknya yang terpapar Covid-19 menularkan juga ke anaknya sehingga menyebabkan meninggal dunia.

Selain itu, dari klaster tersebut, ada 13 staf lainnya yang juga ikut terinfeksi Virus Corona.

Kasus yang terjadi di klaster tempat makan ini umumnya tak langsung terdeteksi karena tracingnya lemah. Tidak semua tempat makan melakukan pendataan pengunjung sehingga tidak bisa dilakukan pelacakan secara menyeluruh.

Selain itu, menurut studi CDC Amerika Serikat juga mencatat bahwa banyak pasien Covid-19 tercatat makan di restoran sebelum sakit.

Dari 314 orang dewasa yang dites Covid-19 pada Juli lalu, CDC menemukan 154 di antaranya dinyatakan positif setelah makan di restoran, pergi ke bar, kedai kopi, atau ke pusat kebugaran.

CDC mengungkapkan berdasarkan tingkatan risikonya, tempat makan dibagi empat. Risiko rendah dari tempat makan yang berlayanan drive thru, pesan antar, dan bawa pulang.

Risiko sedang dari tempat makan yang memiliki area makan di luar ruangan dan kapasitasnya dikurangi dengan jarak antarpengunjung 1,8 meter.

Kemudian, risiko tinggi berada di tempat makan yang seluruhnya di dalam ruangan tertutup dengan kapasitas dikurangi atau berjarak setidaknya 1,8 meter.

Sementara risiko tertinggi berada di tempat makan di dalam ruangan dengan tempat duduk yang tidak diberi jarak.

“Selain karena melepas masker saat makan, penularan juga bisa terjadi karena virus menempel di alat makan yang digunakan pengunjung karena tidak rutin didisinfeksi, termasuk di pembungkus makanan, uang, dan mesin kasir,” tulis Firdza Radiany, inisiator Instagram @pandemictalks beberapa waktu lalu.

Ke depan, agar tak menimbulkan klaster ini baiknya penyedia tempat makan memastikan penerapan protokol VDJ (Ventilasi, Durasi, dan Jarak) dengan membuka semua jendela yang ada di tempat makan agar pertukaran udara lebih baik, pastikan durasi pengunjung misalnya maksimal 1 jam, dan pastikan seluruh pengunjung menjaga jarak.

Selain itu, pemilik rumah makan juga harus memastikan menerapkan aturan protokol kesehatan secara kestat terhadap pengunjung, dan mendata pengunjung untuk melakukan tracing kontak erat.

Pemilik restoran bisa menunjuk salah satu staf untuk melakukan pengawasan penerapan protokol kesehatan dan VDJ.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top