Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bukti Gletser Mencair, Jumlah Danau Glasial Meningkat Pesat di Dunia

Citra satelit menunjukkan jumlah danau glasial naik sekitar 53 persen antara 1990 dan 2018.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 02 September 2020  |  07:26 WIB
Danau glasial terbentuk karena gletser di pegunungan mencair. - Guardian
Danau glasial terbentuk karena gletser di pegunungan mencair. - Guardian

Bisnis.com, JAKARTA – Danau glasial telah berkembang pesat di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir. Hal ini terlihat dari citra atau gambar satelit, yang menunjukkan dampak peningkatan air lelehan telah mengeringkan gletser.

Danau glasial adalah danau yang terbentuk dari aktivitas gletser. Biasanya, ketika gletser mengikis tanah dan kemudian meleleh, mengisi depresi yang diciptakan oleh gletser.

Dilansir dari The Guardian, Rabu (2/9) para ilmuwan menganalisis lebih dari seperempat juta citra satelit untuk menilai bagaimana danau yang terbentuk oleh pencairan gletser telah dipengaruhi oleh pemanasan global dan proses lainnya.

Gambar-gambar tersebut menunjukkan jumlah danau glasial naik sekitar 53 persen antara tahun 1990 dan 2018, memperluas jumlah tutupan danau di Bumi sekitar 51 persen. Berdasarkan survei, 14.393 danau glasial tersebar di hampir 9.000 kilometer persegi permukaan planet ini.

Berdasarkan angka tersebut, para peneliti memperkirakan volume danau glasial dunia tumbuh sebesar 48 persen bila dibandingkan periode yang sama dan sekarang diyakini menampung sekitar 156,5 km kubik air.

Stephen Harrison, profesor perubahan iklim dan lingkungan di Exeter University, mengatakan bahwa temuan mereka menunjukkan seberapa cepat sistem permukaan bumi merespons perubahan iklim dan sifat globalnya.

“Lebih penting lagi, hasil temuan ini membantu mengisi celah dalam sains karena hingga sekarang, tidak diketahui berapa banyak air yang tertahan di danau glasial dunia,” tandasnya.

Danau glasial merupakan sumber air tawar yang penting bagi banyak orang miskin di dunia, terutama di pegunungan Asia dan sebagian Amerika Selatan. Namun danau juga menghadirkan ancaman yang besar dari luapan banjir yang dapat menghancurkan wilayah sekitarnya.

Danau yang tumbuh paling cepat berada di Skandinavia, Islandia, dan Rusia, yang memiliki luas lebih dari dua kali lipat selama periode penelitian. Karena banyak danau relatif kecil, peningkatan volumenya tidak signifikan pada tingkat global.

Di tempat lain, seperti di Patagonia dan Alaska, danau glasial tumbuh lebih lambat yakni sekitar 80 persen tetapi banyak danau di wilayah ini sangat luas, membuat peningkatan mutlak volume air menjadi besar.

Menurut laporan yang diterbitkan di Nature Climate Change, tiga danau terbesar di Patagonia tumbuh dengan kecepatan yang jauh lebih lambat, tetapi masih mencapai 3.582 km persegi pada tahun 2018, naik sekitar 27 km persegi sejak tahun 1990.

Di wilayah lain, gambarannya lebih bervariasi. Di utara Greenland, danau glasial berkembang pesat sejalan dengan pemanasan global yang semakin ekstrim di Arktik. Di Greenland barat daya, beberapa danau glasial telah menyusut, tetapi seringkali hal ini karena telah dikeringkan.

Meskipun air lelehan sangat penting bagi banyak komunitas yang tinggal di lembah di bawah gletser, semburan tiba-tiba dari danau glasial bisa sangat merusak.

Para ilmuwan menyoroti ancaman khusus terhadap pembangkit listrik tenaga air di Himalaya, pipa Trans-Alaska, yang melintasi pegunungan yang menampung danau glasial dan jalan utama seperti jalan raya Karakoram antara Cina dan Pakistan, koridor yang membawa barang miliaran dolar setiap tahun.

Harrison mengatakan saat danau membesar, ada lebih banyak air di dalamnya yang mengalir dengan cepat dan menghasilkan luapan banjir glasial. Ini merupakan bahaya nyata di banyak lembah yang terkait dengan surutnya gletser di beberapa bagian dunia.

“Banjir luapan danau glasial seperti itu, telah menewaskan puluhan ribu orang selama seabad terakhir dan menghancurkan infrastruktur berharga seperti skema pembangkit listrik tenaga air. Ini adalah masalah yang kompleks,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

danau kutub utara
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top