Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Akhir 2020, PHK Industri Penerbangan Global Bisa Capai Setengah Juta Karyawan

Seiring dengan kenaikan kasus positif Covid-19 dan pembatasan aktivitas masyarakat, jumlah penumpang penerbangan terus menurun dan berdampak pada tenaga kerja di sektor ini.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 01 September 2020  |  23:46 WIB
Pesawat milik maskapai Scoot, Singapore Airlines, dan Silk Air terlihat di Bandara Changi, Singapura, Selasa (14/8/2018). - Reuters/Edgar Su
Pesawat milik maskapai Scoot, Singapore Airlines, dan Silk Air terlihat di Bandara Changi, Singapura, Selasa (14/8/2018). - Reuters/Edgar Su

Bisnis.com, JAKARTA - Industri penerbangan global telah memangkas lebih dari 350.000 tanaga kerja dalam kurun waktu enam bulan terakhir.

Pemangkasan karyawan di industri ini diperkirakan masih berlanjut sebagai dampak dari pandemi virus corona (Covid-19).

Dilansir Bloomberg, Selasa (1/9/2020), total pemangkasan tenaga kerja di industri aviasi bisa mendekati setengah juta setelah memasukkan sekitar 25.000 PHK di sektor pabrikan kedirgantaraan dan pengelola bandara.

Sebanyak 95.000 tenaga kerja lainnya terancam PHK, berdasarkan studi Rowland Hayler, Co-Founder dari grup konsultan Five Aero.

Adapun, maskapai penerbangan global tercatat telah mengurangi 220.700 karyawan, kemudian pabrikan pesawat sebanyak 60.200 karyawan, layanan penerbangan sekitar 46.400 tenaga kerja, dan pengelola bandara sebanyak 29.700 karyawan.

Perusahaan penerbangan Asia dan bandara di seluruh negara berusaha menekan jumlah PHK dengan mengurangi gaji karyawan atau setidaknya tidak mengumumkan pemangkasan tenaga kerja, kata Hayler.

Sementara itu, maskapai penerbangan memangkas lebih dari 200.000 pekerja setelah berbulan-bulan larangan terbang memukul pendapatan mereka, bahkan mengancam kelangsungan hidup beberapa perusahaan.

Seiring dengan kenaikan kasus positif Covid-19 dan pembatasan aktivitas masyarakat, jumlah penumpang pun terus menurun.

Produsen pesawat terbang, seperti Airbus SE dan Boeing Co. selalu menolak untuk memangkas produksi karena masalah biaya dan kompleksitas dari lini produksi yang melambat dan juga risiko merugikan para pemasok suku cadang jika produksi dikurangi.

Lebih dari 80 persen PHK di industri penerbangan diumumkan di kawasan Eropa dan Amerika Utara, walaupun kedua wilayah ini hanya mengenggam pangsa pasar 49 persen dari total jumlah penumpang, demikian laporan studi Hayler.

Perusahaan-perusahaan penerbangan Asia dinilai lebih menahan pemangkasan tenaga kerja, tetapi tidak adanya data dari China dan negara lain menjadi masalah besar, kata Hayler.

Maskapai penerbangan utama di Asia seperti Cathay Pacific Airways Ltd. dan Singapore Airlines Ltd. juga belum merilis rencana resmi terkait pengurangan jumlah tenaga kerja.

"Krisis pandemi ini menyebabkan kerusakan besar untuk industri penerbangan dalam jangka panjang. Mengingat pentingnya sektor ini dalam mendukung semua jenis bisnis lain, kehilangan pekerjaan juga bencana bagi ekonomi yang lebih luas," jelas Hayler.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri penerbangan phk maskapai penerbangan

Sumber : Bloomberg

Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top