Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekonomi Jepang Diprediksi Pulih pada 2020, Lebih Cepat dari Perkiraan

Efek pandemi diprediksi berumur pendek sehingga pemulihan ekonomi bisa berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Kinerja pasar saham ke tingkat sebelum Covid disebut sebagai pertanda bahwa dampak pandemi tidak lebih besar dari guncangan ekonomi pada 2009.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 27 Agustus 2020  |  09:46 WIB
Seorang warga Jepang berdiri di sudut jalan di kota Tokyo. Ekonomi Jepang dinilai dapat kembali ke tingkat sebelum pandemi jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak analis jika vaksin tersedia.  - Bloomberg
Seorang warga Jepang berdiri di sudut jalan di kota Tokyo. Ekonomi Jepang dinilai dapat kembali ke tingkat sebelum pandemi jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak analis jika vaksin tersedia. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonomi Jepang dinilai dapat kembali ke tingkat sebelum pandemi jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak analis jika vaksin tersedia.

Seorang ekonom terkemuka yang pernah menjadi kandidat favorit untuk Gubernur Bank of Japan, Takatoshi Ito melihat pemulihan berbentuk kurva U.

"Itu tergantung pada vaksin, tapi Jepang bisa kembali ke posisi semula, sebelum 2022," katanya, dilansir Bloomberg, Kamis (27/8/2020).

Sejumlah analis sebelumnya memperkirakan pemulihan Jepang akan memakan waktu hingga empat tahun. Ito mengakui bahwa dia termasuk di antara ekonom yang lebih optimistis.

Namun dia menunjuk kembalinya pasar saham ke tingkat sebelum Covid sebagai tanda investor setuju bahwa pengobatan virus dapat membuat krisis global saat ini berumur pendek dibandingkan dengan guncangan terakhir pada 2009.

"Angka kuartal kedua mengejutkan, tetapi dibandingkan dengan krisis keuangan, efek pandemi mungkin lebih tajam, tetapi dalam jangka waktu yang lebih pendek," katanya.

Dia mencatat bahwa pemulihan di berbagai sinyal data Jepang sudah bangkit kembali dari titik terendah Mei. Diketahui, Ito diapresiasi karena telah membantu meyakinkan Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda untuk melihat manfaat dari penargetan inflasi.

Mengenai respons Jepang terhadap krisis sejauh ini, Ito mengatakan dia melihat stimulus dari pemerintahan Abe dan BOJ pada dasarnya cukup.

Namun, dia mendesak pemerintah untuk melangkah lebih jauh dengan menghabiskan dana cadangan sekitar 10 triliun yen (US$94 miliar) untuk berbagai hal termasuk pengembangan vaksin dalam negeri, sehingga Jepang tidak bergantung pada pembelian dari luar negeri.

Dia juga mengatakan Kuroda tidak boleh mempertimbangkan untuk mundur dari BOJ bahkan jika Shinzo Abe mengundurkan diri karena kesehatan yang memburuk.

Kunjungan Abe ke rumah sakit dalam beberapa hari terakhir telah memicu spekulasi tentang perdana menteri, terutama mengingat sejarahnya pernah mengundurkan diri dari jabatan perdana menteri karena sakit.

"Kecuali jika ada alasan serius yang menghalangi dia untuk melakukan pekerjaannya, Gubernur BOJ tidak boleh mundur. Itu akan mengancam independensi bank sentral di masa depan," kata Ito.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang vaksin
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top