Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Orangtua Belum Melek Manfaat Sekolah Menengah Kejuruan

Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Wikan Sakarinto menyebutkan bahwa di manapun, salah satu pilar utama negara maju adalah vokasi yang maju.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 11 Agustus 2020  |  10:43 WIB
Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud Wikan Sakarinto membuka acara media gathering dan kunjungan ke SMK 27 Jakarta, Selasa (11/8/2020). JIBI - Bisnis/Mutiara Nabila
Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud Wikan Sakarinto membuka acara media gathering dan kunjungan ke SMK 27 Jakarta, Selasa (11/8/2020). JIBI - Bisnis/Mutiara Nabila

Bisnis.com, JAKARTA – Orangtua di Indonesia dinilai belum "melek" akan gunanya SMK untuk menyalurkan minat dan bakat anak dan untuk memajukan Indonesia.

Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Wikan Sakarinto menyebutkan bahwa di manapun, salah satu pilar utama negara maju adalah vokasi yang maju. 

"Kalau Indonesia mau maju, vokasinya harus maju," ungkap Wikan, Selasa (11/8/2020).

Salah satu kelebihan SMK, kata Wikan, adalah bisa menyalurkan passion anak. Hal bisa membuat anak belajar dengan lebih bahagia dan tanpa keterpaksaan.

"Sepertinya, kita masih harus menyadarkan orang tua siswa SMP se-Indonesia kalau satu-satunyanya jalan untuk sukses di Indonesia adalah masuk SMA favorit, padahal di SMK bisa juga, apalagi kalau di SMK dia belajar sesuai passion," terang Wikan.

Di SMK, industri juga ikut mengajar, standar-standar industrinya disamakan dengan standar internasional. Dia mengimbau agar anak SMP sebelum lanjut ke jenjang sekolah berikutnya untuk ditanya apa minatnya

"Kalau sukanya mikir, berhitung, analisis, silakan ke SMA, jangan masuk SMK. Kalau anak itu suka hands on tapi tetap ada pengetahuan dan analisa sampai ke merancang finansialnya juga maka masuk SMK, itu passion," jelas Wikan.

Dia menegaskan, jangan dipikir lulusan SMK nanti hanya jadi tukang. Namun, lulusan SMK bisa jadi profesional dan bisa kerja di negara manapun.

"Lulus SMK tetap bisa kuliah, jadi lulusan sarjana terapan atau D4. Bisa juga lanjut S2 terapan. Kita sudah MoU dengan universitas di Jerman untuk bisa menyediakan S2 terapan di Jerman," ungkapnya.

Sebagai salah satu upaya dan wujud komitmen, Wikan juga menyebutkan bahwa Kementerian Pendidikan sudah membentuk sejumlah direktorat khusus untuk mengurus link and match antara sekolah dan dunia industri.

Saat ini jumlah SMK swasta di Indonesia ada 508 atau 87 persen sedangkan sekolah Negeri ada 73 atau 13 persen. Sementara itu, jumlah peserta didik sebanyak 24 persen dari SMK Negeri dan 76 persen dari SMK Swasta.

Adapun, sepanjang 2020 sudah ada 58.514 siswa yang melakukan sertifikasi. Pada 2021 ditargetkan jumlah siswa yang tersertifikasi sebanyak 75.118.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pendidikan kemendikbud vokasi
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top