Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Studi : Membuka Sekolah Terlalu Dini dapat Mempercepat Penyebaran Covid-19

Sebuah studi baru dari World Economic Forum menemukan bahwa membuka kembali sekolah terlalu dini di negara berkembang dapat merusak keuntungan yang diperoleh sejauh ini dalam upaya menekan penyebaran virus corona.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 11 Agustus 2020  |  14:15 WIB
Siswa-siswi di Aceh mengikuti upacara Hari Pendidikan Nasional - Antara/Rahmad
Siswa-siswi di Aceh mengikuti upacara Hari Pendidikan Nasional - Antara/Rahmad

Bisnis.com, JAKARTA – Berdasarkan data dari UNESCO, lebih dari 100 negara saat ini tengah menerapkan penutupan sekolah secara nasional karena pandemi Covid-19. Ini berpengaruh terhadap lebih dari 60 persen siswa yang terdaftar di dunia.

Di sisi lain, topik pembukaan kembali sekolah dasar dan menengah menjadi salah satu yang banyak dibahas. Menyangkut kebingungan antara menjaga kesehatan dan menjaga prose belajar mengajar yang kondusif, khususnya di negara-negara berkembang.

Sebuah studi baru dari World Economic Forum menemukan bahwa membuka kembali sekolah terlalu dini di negara berkembang dapat merusak keuntungan yang diperoleh sejauh ini dalam upaya menekan penyebaran virus corona.

Studi tersebut menggunakan model ekonomi yang mencerminkan bagaimana negara berkembang berbeda dari negara maju dalam hal jumlah populasi yang lebih mudah, lebih banyak kontak kantara orang di rumah, sektor informal yang besar, kapasitas fiskal yang lebih sedikit, dan kapasitas perawatan yang lebih sedikit.

Dilansir dari laman resminya, World Economic Forum mencatat alasan umum membuka kembali sekolah adalah kecenderungan anak yang lebih kecil untuk meninggal dunia karena Covid-19. Akan tetapi, di negara berkembang anak-anak biasanya tinggal dengan orang tua seperti ayah-ibu hingga kakek-nenek.

Berdasarkan data PBB, proporsi lansia yang tinggal dengan setidaknya satu anak di bawah 20 tahun lebih dari 10 persen di sebagian besar negara Afrika, berbanding jauh dengan angka kurang dari 1 persen di negara Eropa dan Amerika Serikat.

“Hal ini meningkatkan risiko anak tertular virus di sekolah dan menularkannya ke orang tua dan kakek nenek di rumah,” tulis laporan World Economic Forum dalam situs resminya,

Studi tersebut juga membandingkan beberapa skenario untuk melihat pengaruh pembukaan kembali sekolah pada tingkat infeksi Covid-19 dan kematiannya di Nigeria, yang merupakan negara terpadat di Afrika.

Meskipun bersifat spekulatif, simulasi ini bisa menjadi alat untuk membandingkan dampak berbagai tindakan kebijakan di negara berkembang yang besar. Selain itu, prediksi keseluruhan dapat diterapkan di banyak negara berpenghasilan rendah lainnya, yang memiliki ciri khas keluarga besar yang tinggal di bawah satu atap, dengan kontak yang sering antara anggota rumah tangga yang lebih muda dan yang lebih tua.

Secara keseluruhan, WEF mengkalibrasi model ekonomi berdasarkan tingkat kematian yang diperkirakan dalam laporan Imperial College yang terkenal dan sebuah penelitian di Spanyol, yang menunjukkan bahwa anak-anak terinfeksi COVID-19 pada sekitar dua per tiga tingkat orang dewasa.

Hasilnya menunjukkan bahwa pembukaan kembali sekolah dalam waktu dekat akan menyebabkan infeksi yang besar. Sementara, skenario lain mensimulasikan efek penundaan pembukaan sekolah hingga Januari 2021. Hasilnya menunjukkan kurva yang jauh lebih datar.

WEF menemukan bahwa opsi kebijakan yang paling efektif untuk mengendalikan tingkat infeksi sambil menghindari penguncian wilayah adalah dengan menunda pembukaan sekolah kembali hingga Januari 2021 mendatang.

Selain model pembukaan tersebut, WEF juga memprediksi kematian berdasarkan kelompok umur terkait pembukaan kembali sekolah di masa pandemi. Model ini memprediksi kurang dari 0,1 persen kematian dalam skenario apa pun.

Membuka sekolah meningkatkan kematian di antara orang dewasa yang lebih tua dan orang lanjut usia. Adapun, dengan menutup sekolah lebih lama, akan dapat menyelamatkan sekitar 175.000 nyawa dibandingkan dengan tidak melakukan apa-apa.

“Studi kami memprediksi bahwa menunda pembukaan sekolah dapat menjadi kekuatan ampuh untuk menyelamatkan nyawa, dengan mengurangi risiko anak-anak terinfeksi di sekolah dan pada gilirannya menyebarkan virus di dalam rumah tangga mereka,” tulis WEF.

Meskipun penelitian ini tidak membahas semua masalah yang terkait dengan pembukaan kembali sekolah selama pandemi, WEF berpendapat bahwa bukti penyebaran virus di rumah tangga perlu dipertimbangkan oleh pemerintah ketika memutuskan untuk membuka kembali sekolah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sekolah Virus Corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top