Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekonom ADB: Remitansi Global Bisa Ciut US$109 Miliar

Menurut subregional, pengiriman uang ke Asia Selatan diperkirakan akan jatuh paling parah di angka US$28,6 miliar (24,7 persen dari penerimaan 2018), diikuti oleh pengiriman ke Asia Tengah sebesar US$3,4 miliar (23,8 persen), dan Asia Tenggara sebesar US$11,7 miliar (18,6 persen).
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 03 Agustus 2020  |  12:30 WIB
Karyawan berada di dekat logo Asian Development Bank Indonesia di Jakarta, Rabu (8/4/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan berada di dekat logo Asian Development Bank Indonesia di Jakarta, Rabu (8/4/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Pengiriman uang global dapat turun hingga US$108,6 miliar pada 2020 jika diperlukan satu tahun untuk mengendalikan pandemi dan membuka kembali ekonomi. Angka itu setara dengan penurunan sebesar 18,3% dibandingkan dengan proyeksi tanpa dampak pandemi.

Dilansir Bloomberg, Senin (3/8/2020), ekonom Bank Pembangunan Asia (ADB) James Villafuerte dan Aiko Kikkawa Takenaka mengatakan pekerja migran adalah di antara kelompok yang paling terpukul karena sedikitnya keamanan kerja dan akses terbatas ke bantuan sosial.

"Pemerintah perlu bertindak cepat untuk melindungi yang paling rentan di masyarakat dari hilangnya pendapatan vital ini," tulis ekonom ADB dalam blog resminya.

Sementara itu, pengangguran skala besar dan pengurangan upah di kalangan pekerja migran mengancam rumah tangga di Asia-Pasifik, di mana penerimaan remitansi bisa terpangkas hingga US$54,3 miliar tahun ini.

Menurut subregional, pengiriman uang ke Asia Selatan diperkirakan akan jatuh paling parah di angka US$28,6 miliar (24,7 persen dari penerimaan 2018), diikuti oleh pengiriman ke Asia Tengah (US$3,4 miliar, 23,8 persen), Asia Tenggara (US$11,7 miliar, 18,6 persen), dan Timur Asia, bekas Republik Rakyat China dan Jepang (US1,7 miliar, 16,2 persen). Pengiriman uang ke Pasifik juga akan turun (US$267 juta, 13,2 persen).

Mayoritas pemangkasan aliran remitansi ke wilayah ini dikontribusikan oleh penurunan US$22,5 miliar remitansi dari Timur Tengah yang merupakan 41,4 persen dari total kerugian remitansi di Asia. Hal ini diikuti oleh penurunan US$20,5 miliar dalam pengiriman uang dari Amerika Serikat, (37,9 persen dari total).

Penurunan remitansi dari UE dan Inggris menyumbang 6,3 persen dari total atau US$3,4 miliar. Penurunan dari Federasi Rusia berjumlah US$2,1 milyar, dimana US$2 miliar mencerminkan penurunan pengiriman uang ke Asia Tengah.

Secara persentase, Timur Tengah dan Federasi Rusia mengalami penurunan paling tajam — lebih dari sepertiga — terutama mencerminkan efek dari rendahnya permintaan dan harga minyak terhadap pengiriman uang.

Pengiriman uang ke Asia Pasifik yang berjumlah US$315 miliar pada 2019 merupakan sumber pendapatan penting bagi keluarga dan membantu meningkatkan pembiayaan eksternal negara penerima. Pemerintah di wilayah tersebut dapat membantu mengelola dampak dengan memperluas layanan sosial sementara dan memberikan dukungan pendapatan kepada keluarga penerima miskin, di antara kebijakan lain, tulis para penulis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

remitansi ADB

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top