Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Seni Terdampak Pandemi Covid-19, Pemerintah Inggris Bertindak

Pemerintah Inggris membantu para aktivis seni yang terdampak pandemi Covid-19 sejak Maret lalu.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 06 Juli 2020  |  21:05 WIB
Royal Albert Hall di London. - Wikiwand
Royal Albert Hall di London. - Wikiwand

Bisnis.com, LONDON – Pemerintah Inggris akan menyuntikkan dana sebesar hampir US$2 miliar ke sektor seni untuk membantu penyelenggaraan penampilan kebudayaan dengan tetap menerapkan pembatasan sosial.

Upaya tersebut dilakukan sebagai bantuan untuk membantu sektor kalangan atas yang terdampak berat oleh pandemi virus corona jenis Covid-19 itu.

Industri seni merupakan ekspor Inggris yang terkenal dan digemari di kalangan turis dan penduduk lokal, meliputi teater-teater di area West End London, gedung-gedung opera dan perusahaan balet yang menampilkan pertunjukan beranggaran besar di berbagai area di seluruh negeri.

Namun, perhelatan-perhelatan seni itu kehilangan penonton langsung sejak lockdown diberlakukan pada Maret lalu.

"Saya ingin semua institusi kebudayaan kita untuk kembali normal," ujar Menteri Kebudayaan, Media, dan Olahraga Inggris Oliver Dowden pada Sky News pada Senin (6/7/2020).

"Saya berharap secepatnya kita dapat memberikan izin untuk pertunjukan di luar ruangan dan pada musim panas nanti (diharapkan) dapat ada pertunjukan-pertunjukan dengan pembatasan sosial."

Pemerintah Inggris mengatakan bahwa investasi 1,57 miliar pound sterling (Rp28 triliun) itu merupakan yang terbesar yang pernah ada bagi sektor kebudayaan negara tersebut.

Pada akhir pekan lalu, Inggris mengambil langkah terbesar dalam upaya untuk kembali ke kehidupan normal saat bar, restoran, dan salon kembali diizinkan untuk beroperasi, yang terbantu dengan perubahan kebijakan pembatasan sosial pemerintah dari jarak 2 meter menjadi 1 meter lebih.

Meski demikian, belum jelas bagaimana hal tersebut dapat diimplementasikan di berbagai tempat kebudayaan yang bergantung pada kapasitas yang hampir penuh untuk mendapatkan keuntungan.

Royal Albert Hall, yang merupakan lokasi berbagai pertunjukan, termasuk konser musik klasik yang berlangsung selama 8 pekan dan dikenal sebagai BBC Proms, mengingatkan pada bulan lalu bahwa pihaknya akan kehabisan dana tunai pada awal 2021 akibat hilangnya pemasukan dan tiket-tiket yang dikembalikan.

Pada Senin, pengelola Royal Albert Hall menyambut baik suntikan dana tunai pemerintah bagi sektor tersebut, yang mencakup hibah serta pembiayaan yang dibayar kembali.

"Ini benar-benar merupakan penyelamat hidup bagi kami," kata Direktur Utama Royal Albert Hall, Craig Hassall. "Hingga nanti kami dapat buka kembali, kami tidak tahu sejauh mana uang akan bertahan, membuka lokasi dan menentukan untuk apa uang digunakan, akan menjadi prioritas utama bagi kami."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

inggris seni budaya Virus Corona

Sumber : Antara/Reuters

Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top