Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Pengolahan dan Pariwisata Kunci Bangkitkan Jateng dari Pandemi Covid-19

Strategi mitigasi dan akselerasi di sektor ekonomi unggulan Jawa Tengah jadi kunci membangkitkan pertumbuhan ekonomi yang tergerus akibat Covid-19.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 03 Juli 2020  |  18:30 WIB
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo mencoba tempat cuci tangan yang disediakan di kawasan Pantai Parangtritis, Sabtu (13/6/2020). - JIBI/Ujang Hasanudin
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo mencoba tempat cuci tangan yang disediakan di kawasan Pantai Parangtritis, Sabtu (13/6/2020). - JIBI/Ujang Hasanudin

Bisnis.com, JAKARTA - Strategi mitigasi dan akselerasi di sektor ekonomi unggulan Jawa Tengah, jadi kunci membangkitkan pertumbuhan ekonomi, yang pada 2020 jelas akan tergerus akibat Covid-19.

Hal ini diungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Soekowardojo mengatakan pemerintah daerah perlu memperhatikan dua sektor utama untuk langkah mitigasi dalam jangka pendek, yakni manufaktur dan pariwisata.

"Kalau berbicara Jawa Tengah, karena manufaktur itu bagian terbesar dari Jawa Tengah, baik dari struktur ekonominya, maupun kontribusinya terhadap pangsa ekonomi yang hampir 35 persen. Serta banyak pekerja yang menggantungkan dirinya dari sektor manufaktur baik langsung maupun tidak langsung," katanya dalam webinar Jurus-Jurus Menjinakkan Dampak Ekonomi bersama OJK Jateng, DJP Jateng, dan Bisnis Indonesia, Jumat (3/6/2020).

Menurutnya, sektor manufakfur perlu didahulukan dan harus cepat terealisasi pada 2020. Sementara itu, sektor pariwisata harus sudah mulai dibangkitkan pada tahun ini dengan target hingga 2021.

Pasalnya, pariwisata juga menjadi salah satu kunci pendapatan devisa yang cepat, lebih cepat dari manufaktur yang harus berproduksi dan ekspor terlebih dahulu.

"Kedua, tergantung bagaimana kita memulihkan dan memitigasi sektor pariwisata. Dampaknya besar sekali baik dari akomodasi, penginapan-hotel, makanan-minuman, transportasi, UMKM wisata, dan perdagangan," tambah Soeko.

Namun demikian, masih ada satu hal lagi yang dalam periode jangka panjang atau hingga 2024, harus berjalan beriringan dengan akselerasi di sektor wisata dan industri pengolahan, yaitu digitalisasi UMKM.

Dia menuturkan untuk kondisi di Jawa Tengah saat ini, dari 36 juta penduduk, warga yang berusia kerja berkisar 28 juta jiwa. Adapun, dari usia kerja 15 tahun ke atas itu, penduduk yang sudah bekerja berkisar 17,5 juta. Dari angka itu, dia mengatakan hampir 6,5 juta itu bergelut di sektor UMKM.  jelasnya.

Menurutnya, cara baru mengkonsumsi dan membayar harus dipersiapkan dan disiasati betul oleh UMKM. Pasalnya, Covid-19 bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik masyarakat, tetapi pada pola perilaku atau mindset, dimana orang semakin ingin menghindari kontak fisik serta penularan beragam penyakit.

Apabila ketiga hal ini direalisasikan, dia optimistis pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang pada 2020 diproyeksi hanya 1,4 sampai 2,4 persen serta terdongkrak ke angka 5,2 sampai 6,2 persen.

"UMKM kita tidak bisa lagi menggunakan cara lama. Kita harus mendorong mereka merubah cara menjual dan promosi. Tidak bisa lagi dijual langsung ke pasar atau diantar sendiri misalnya, harus mulai kita dorong menggunakan marketplace atau secara online," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata umkm Virus Corona
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top