Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pelonggaran PSBB, Pengamat: Pemerintah Belum Mempertimbangkan Bukti Ilmiah

Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagyo mengatakan tanpa bukti ilmiah akan sulit bagi pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang tepat, khususnya untuk menanggulangi pandemi virus corona.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 23 Juni 2020  |  17:25 WIB
Warga berolahraga saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi di kawasan Jalan Sudirman Jakarta, Minggu (21/6/2020). ANTARA FOTO - Galih Pradipta
Warga berolahraga saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi di kawasan Jalan Sudirman Jakarta, Minggu (21/6/2020). ANTARA FOTO - Galih Pradipta

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah diminta mempertimbangkan bukti ilmiah dalam setiap pengambilan kebijakan terkait dengan penanganan pandemi Covid-19.

Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagyo mengatakan tanpa bukti ilmiah akan sulit bagi pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang tepat, khususnya untuk menanggulangi pandemi virus corona.

Keputusan yang diambil saat ini, imbuhnya, belum mempertimbangkan bukti ilmiah. Menurutnya, alasan ekonomi menjadi pertimbangan yang paling kuat bagi pemerintah untuk melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kendati risiko besar masih mengintai.

"Dasarnya apa? Itu yang saya katakan dari awal. Saya paham persoalan ekonomi sudah menyeret latar belakang dalam pengambilan keputusan. Persoalannya dari awal lama sekali atau ragu-ragu," kata Agus kepada Bisnis, Selasa (23/6/2020).

Namun demikian, imbuhnya, pemerintah harus memiliki bukti yang dapat menjadi dasar keputusan untuk melonggarkan PSBB. Pasalnya, setelah dilakukan pelonggaran, kemungkinan kasus baru masih bisa terjadi.

"Bukti apa saja yang dianggap bukti secara ilmiah, sehingga pemerintah mengambil keputusan itu pas. Menurut saya sampai saat ini belum ada bukti itu," katanya.

Apalagi, menurutnya, tes swab virus corona belum mencapai target. Beberapa minggu memang sudah mengalami peningkatan, atau bisa mencapai 12.000 tes. Kendati begitu, masih ada persoalan yang masih memunculkan pertanyaan. "Tapi tidak ada yang menjelaskan apakah itu tes yang [gelombang] pertama, kedua, atau ketiga," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

covid-19
Editor : Nurbaiti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top