Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bentrok China-India Bisa Rugikan Pebisnis di Dua Negara

Konflik ini meningkatkan risiko gangguan bagi perusahaan-perusahaan seperti Alibaba Group Holding Ltd., Xiaomi Corp., dan Tata Motors Ltd. yang memiliki pelanggan di dua negara tersebut.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 18 Juni 2020  |  10:30 WIB
Tata Motors - Reuters/Vivek Prakash
Tata Motors - Reuters/Vivek Prakash

Bisnis.com, JAKARTA - Bentrok mematikan pertama antara pasukan India dan China dalam lebih dari empat dekade menambah lapisan ketidakpastian bagi perusahaan-perusahaan yang telah pulih dari pandemi virus Corona di kedua sisi perbatasan.

Bentrokan yang menewaskan 20 tentara India dan korban dari China yang tidak diketahui jumlahnya terjadi setelah tujuh minggu bentrokan militer antara kedua kekuatan bersenjata nuklir.

Konflik ini meningkatkan risiko gangguan bagi perusahaan-perusahaan seperti Alibaba Group Holding Ltd., Xiaomi Corp., dan Tata Motors Ltd. yang memiliki pelanggan dan investor di dua ekonomi terbesar di dunia itu. Meski demikian, India dalam sebuah pernyataan mengatakan pihaknya tetap berkomitmen untuk perdamaian di perbatasan dengan China.

"Sejumlah perusahaan yang mengimpor bagian atau modal dari China harus menemukan sumber alternatif dengan cepat jika ketegangan meningkat," kata Aneesh Srivastava, kepala investasi di Star Health and Allied Insurance Co., dilansir Bloomberg, Kamis (18/6/2020).

Banyak perusahaan mungkin harus memperbaiki strategi bisnisnya. Sejumlah pelaku bisnis India yang mengandalkan bahan baku dari China kekurangan pasokan pada awal masa pandemi.

Gangguan-gangguan lain selanjutnya dapat memperpanjang pemulihan dalam perekonomian India yang diperkirakan akan mengalami kontraksi tahunan pertamanya dalam lebih dari empat dekade.

India dan China yang bersama-sama menyumbang populasi melebihi 2,7 miliar, adalah pasar utama bagi perusahaan satu sama lain. Berikut adalah beberapa perusahaan yang ingin memperluas jejak mereka di kedua negara.

Alibaba mengoperasikan pusat data di India dan UC Browser menjadi mesin pencari seluler populer di Negeri Bollywood. Sementara itu, Xiaomi, adalah merek smartphone teratas di India dengan pangsa pasar 29 persen.

Sedangkan Huawei Technologies Co., raksasa jaringan nirkabel China yang diblokir penjualan peralatannya di AS, mendapat persetujuan dari pemerintah India tahun lalu untuk menyediakan peralatan 5G di pasar nirkabel nomor dua dunia.

Tata Motors, induk dari Jaguar Land Rover, minggu ini mengatakan pihaknya melihat permulaan dari rebound permintaan di China ketika ekonomi terbesar kedua di dunia itu terbuka.

Keberhasilan JLR sangat penting bagi Tata, yang sedang berjuang bangkit dari kemerosotan penjualan di India yang dimulai bahkan sebelum Covid-19 menghapus permintaan.

Di sektor e-commerce, adanya kewajiban terbitnya izin bagi investor China sebelum menanamkan uangnya, akan mengurangi arus uang mengalir ke perusahaan India. Banyak perusahaan e-commerce India, termasuk startup Ola dan layanan pengiriman makanan Swiggy, bergantung pada perusahaan China termasuk Alibaba, Tencent Holdings Ltd. dan dana seperti Fosun Capital sebagai investor mereka.

Selain itu, ketegangan juga dapat dapat merusak rencana India untuk memanfaatkan peluang ekonomi karena pemerintah dari AS, Eropa, Jepang dan Australia tengah berupaya mengurangi ketergantungan rantai pasokan pada China.

Produsen obat termasuk Dr Reddy's Laboratories Ltd. dan Aurobindo Pharma Ltd. membeli beberapa bahan dari China, atau mengekspor produk akhir, sementara pembuat peralatan termasuk Voltas Ltd. dan Bajaj Electricals Ltd. mengimpor komponen yang dibuat di sana.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china india tata motors xiaomi

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top