Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemulihan Aktivitas Pabrikan China Tak Dibarengi Penguatan Permintaan

Kekhawatiran yang muncul pun terkait dengan overproduksi yang akan mengakibatkan pabrikan China terus memangkas harga produk mereka.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 01 Juni 2020  |  10:34 WIB
Manufaktur China - Bloomberg
Manufaktur China - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Pabrikan di China mulai kembali beroperasi, tetapi yang menjadi kekhawatiran saat ini adalah permintaan pasar yang masih lemah.

Dilansir dari Bloomberg, Senin (1/6/2020), Justin Yu, Manager Sales Pinghu Mijia Child Product Co., mengatakan order mulai mengalami peningkatan dibandingkan dengan saat masih diterapkan lockdown, tetapi masih di bawah level normal. Perusahaan ini memproduksi mainan skuter untuk perusahaan ritel Amerika Serikat.

"Kami akan mendapatkan order yang lebih banyak pada bulan ini seiring dengan mendekati musim normal kami," kata Yu. Namun, dia menambahkan jika order yang datang masih 40 persen hingga 50 persen di bawah permintaan tahun lalu.

Saat ini, kapasitas produksi perusahaan tersebut berada di kisaran 70 persen dan 80 persen.

Pemulihan kembali aktivitas produksi industri China dengan permintaan yang belum sinkron tersebut ditunjukkan pada data kenaikan persediaan, walaupun telah terjadi perlambatan.

Kekhawatiran yang muncul pun terkait dengan overproduksi yang akan mengakibatkan pabrikan China terus memangkas harga produk mereka, memperparah deflasi global dan memperburuk tensi perdagangan, sebelum pada akhirnya memangkas produksi dan jumlah pekerja.

"Normalisasi produksi telah melebihi permintaan," kata Yao Wei, ekonom China dari Societe Generale SA.

Data purchasing manager index (PMI) pada Mei 2020 menggarisbawahi perlambatan pemulihan, dengan proyeksi indeks manufaktur turun dari 50,8 ke 50,6 pada bulan lalu, berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Statistik Nasional China pada Minggu (31/5/2020).

Dengan outlook ekspor yang masih lemah, pabrikan seperti Fujian Strait Textile Technology Co. mengalihkan bisnis model mereka untuk menyasar pasar domestik. Sebelumnya, perusahaan ini menjual 60 persen produknya ke pasar Eropa dan Amerika Serikat sebelum virus corona menyebabkan penjualan anjlok.

Vice President Fujian Strait Textile Technology Dong Liu menyatakan perusahaannya saat ini mencari peluang di pasar lokal.

"Para eksekutif perusahaan kami mulai mengunjungi pasar lokal untuk mengenalkan produk kami ke lebih banyak calon klien," katanya.

Sejak 26 Mei, perusahaan tersebut telah menerapkan produksi 24 jam dengan kapasitas penuh. Persediaan hasil produksi diklaim telah habis terjual.

Namun, pengalihan bisnis ke pasar domestik ini bukan berarti tak ada halangan. Pasalnya, masyarakat China tidak akan menghabiskan belanja seperti sebelum adanya virus corona.

Pada April 2020, penjualan ritel di Negara Tira Bambu tersebut turun 7,5 persen, lebih dalam dari proyeksi yang sebesar 6 persen. Sektor restoran pun turun anjlok 31,1 persen dibandingkan tahun lalu, setelah terkoreksi dalam sebesar 46,8 persen pada Maret 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur china manufaktur china

Sumber : Bloomberg

Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top