Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Udara Panas dan Gerah di Kota Besar Sepekan Terakhir, Berikut Penjelasan BMKG  

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal menjelaskan cuaca panas dan gerah yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Nancy Junita
Nancy Junita - Bisnis.com 27 Mei 2020  |  05:14 WIB
Ilustrasi cuaca panas dna gerah. - bmkg
Ilustrasi cuaca panas dna gerah. - bmkg

Bisnis.com, JAKARTA - Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal menjelaskan cuaca panas dan gerah yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Dikutip dari situs www.bmkg.go.id, Rabu (27/5/2020), suasana gerah secara meteorologis disebabkan suhu udara yang panas disertai kelembapan udara yang tinggi.

Kelembapan udara yang tinggi menyatakan jumlah uap air yang terkandung pada udara. Semakin banyak uap air yang dikandung dalam udara, maka akan semakin lembap udara tersebut, dan apabila suhu meningkat akibat pemanasan matahari langsung karena berkurangnya tutupan awan, suasana akan lebih terasa gerah.

Laporan pencatatan meteorologis suhu maksimum udara (umumnya terjadi pada siang atau tengah hari) di Indonesia dalam 5 hari terakhir ini berada dalam kisaran 34 - 36°Celsius.

Beberapa kali suhu udara >36°C tercatat terjadi di Sentani, Papua. Di Jabodetabek, pantauan suhu maksimum tertinggi terjadi di Soekarno/Hatta 35°C, Kemayoran 35°C, Tanjung Priok 34,8°C, dan Ciputat 34,7°C.

Demikian juga wilayah lain di Jawa, siang hari di Tanjung Perak suhu udara terukur 35°C.

Wilayah perkotaan terutama di kota besar umumnya memiliki suhu udara yang lebih panas dibandingkan bukan wilayah perkotaan.

Sementara itu, ujar Herizal, catatan kelembapan udara menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kisaran >80 persen – 100 persen, yang termasuk berkelembapan tinggi.

“Fenomena udara gerah sebenarnya adalah fenomena biasa pada saat memasuki musim kemarau. Untuk Jabodetabek, periode April-Mei adalah bulan-bulan di mana suhu udara secara statistik berdasarkan data historis memang cukup tinggi, selain periode Oktober-November,” jelasnya.

Pada musim kemarau suhu udara maksimum di Jakarta umumnya berada pada rentang 32-36°C. Udara panas gerah juga lebih terasa bila hari menjelang hujan, karena udara lembap melepas panas laten dan panas sensibel yang menambah panasnya udara akibat pemanasan permukaan oleh radiasi matahari.

 Herizal menyebut perkembangan musim kemarau hingga pertengahan Mei 2020 menunjukkan bahwa sebanyak 35 persen wilayah zona musim (ZOM) sudah memasuki musim kemarau, di antaranya: sebagian besar wilayah di NTT dan NTB, sebagian Jawa Timur bagian selatan, sebagian Jawa Tengah bagian utara dan timur, sebagian Jawa Barat bagian utara dan timur serta Bekasi bagian utara, Jakarta bagian utara, dan sebagian daerah Papua dan Maluku.

Oleh karena itu, tambah Herizal, masyarakat dihimbau tidak panik dengan suasana gerah yang terjadi, tetapi tetap perlu menjaga kesehatan dan stamina, sehingga tidak terjadi dehidrasi dan iritasi kulit.

Banyak minum dan makan buah segar sangat dianjurkan, termasuk memakai tabir surya, sehingga tidak terpapar langsung sinar matahari yang berlebih dan lebih banyak berdiam dirumah pada saat pemberlakuan PSBB.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BMKG Cuaca Indonesia
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top