Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pecat Pengawas Internal Deplu, Trump 'Digoyang' Kubu Demokrat

Para politisi Partai Demokrat di Kongres Amerika Serikat mengumumkan penyelidikan terhadap manuver Presiden Donald Trump memecat pengawas internal Deplu.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 17 Mei 2020  |  10:25 WIB
President Donald Trump saat berkunjung ke Honeywell International Inc. produsen masker N95 di Phoenix pada 5 Mei 2020. - Bloomberg/Brendan
President Donald Trump saat berkunjung ke Honeywell International Inc. produsen masker N95 di Phoenix pada 5 Mei 2020. - Bloomberg/Brendan

Bisnis.com, WASHINGTON - Mendekati pemilihan umum di Amerika Serikat yang tinggal beberapa bulan lagi, manuver politik semakin tampak ke permukaan.  

Perseteruan antara kubu Republikan yang diwakili Presiden Donald Trump dan kubu Demokrat di Kongres masih terus berlangsung.

Paling akhir, pada Sabtu (16/5/2020), para politisi Partai Demokrat di Kongres Amerika Serikat mengumumkan penyelidikan terhadap manuver Presiden Donald Trump.

Langkah Trump memecat pengawas internal Departemen Luar Negeri dituding kubu Demokrat sebagai cara Presiden AS itu melawan setiap pengawasan terhadap pemerintahannya.

Trump mengumumkan pemecatan yang sudah direncanakan terhadap Inspektur Jenderal Steve Linick dalam satu surat kepada Ketua DPR Nancy Pelosi pada Jumat malam. Pemecatan itu menjadikan Linick sebagai irjen pemerintah yang dipecat dalam beberapa pekan terakhir di bawah presiden dari Partai Republik.

Para politisi penting Partai Demokrat di Komisi Hubungan Luar Negeri DPR dan Senat mempersoalkan waktu dan motivasi pemecatan itu sebagai "pencopotan yang belum pernah terjadi sebelumnya".

"Kami pasti menentang pemecatan bermotif politik terhadap para irjen dan tindakan mengacak-acakan posisi-posisi genting yang dilakukan presiden," ujar ketua panel DPR Eliot Engel dan Senator Bob Menendez, politisi senior Demokrat pada panel Hubungan Luar Negeri Senate, dalam satu pernyataan pengumuman penyelidikan itu.

Dua anggota Demokrat itu mengatakan mereka mengetahui bahwa Menlu Mike Pompeo secara pribadi merekomendasikan pemecatan Linick karena irjen itu "telah menyelidiki penyimpangan yang dilakukan oleh Menlu Pompeo."

Ditanya tentang penyelidikan itu, seorang pejabat Gedung Putih, yang tak mau membuka identitas diri, mengatakan "Menlu Pompeo menganjurkan pemecatan itu dan Trump setuju."

Jubir Deplu membenarkan bahwa Linick sudah dicopot tapi tak berkomentar tentang penyelidikan Demokrat atau peran Pompeo dalam pemecatan itu. Deplu mengatakan Stephen Akard, direktur Kantor Misi Luar Negeri, akan mengambil alih jabatan pengawas itu.

Linick, yang diangkat menduduki jabatannya pada 2013 oleh presiden Obama, merupakan irjen keempat yang dicopot Trump sejak awal April setelah Trump pada Februari bebas dari pemakzulan dalam sidang Senat yang dipimpin politisi Partai Republik.

Pelosi mengatakan pemecatan terhadap Linick itu merupakan akselerasi "pola balas dendam yang berbahaya."

Pemilu AS

Dikutip dari Wikipedia, disebutkan bahwa pemilihan umum presiden Amerika Serikat 2020, yang dijadwalkan pada Selasa, 3 November 2020, akan menjadi pemilihan umum Presiden AS empat tahunan yang ke-59.

Para pemilih akan memilih elektoral kepresidenan yang pada gilirannya pada 14 Desember 2020, akan memilih presiden dan wakil presiden baru atau memilih kembali petahana.

Jika tidak ada kandidat yang memperoleh minimum 270 suara elektoral yang diperlukan untuk memenangkan pemilihan umum, Dewan Perwakilan Amerika Serikat akan memilih presiden dari tiga kandidat yang memperoleh suara elektoral paling banyak, dan Senat Amerika Serikat akan memilih wakil presiden dari kandidat yang memperoleh dua total tertinggi.

Serangkaian pemilihan pendahuluan dan kaukus kepresidenan kemungkinan akan diadakan selama enam bulan pertama tahun 2020.

Jejak Politik Trump

Presiden AS saat ini, Donald Trump, memiliki jejak politik yang unik terkait afiliasinya. Pada 1987 Trump terdaftar sebagai politisi Republikan di Manhattan. Selanjutnya, Trump tercatat berpindah afiliasi politik paling tidak hingga 5 kali.

Pada 1999 Trump mengubah affiliasi politiknya dengan tampil sebagai kubu Independen di New York. Pada Agustus 2001, Trump masuk ke dalam kubu Demokrat. Namun, pada September 2009, Trump kembali menjadi bagian dari kubu Republikan.

Pada Desember 2011 Trump tampil dari kubu independen sebelum pada April 2012 kembali ke dalam pelukan Republikan.

Pada Pemilu AS tahun ini, Trump diperkirakan akan menghadapi lawan tangguh untuk bisa kembali memimpin Ameriksa Serikat. Kubu Demokrat sedang mendorong Joe Bidden untuk maju dalam kontestasi.

Jika Bidden lolos dari isu pelecehan seksual yang belakangan menyerang citranya, Trump pun harus bersiap dengan berbagai cara untuk mengalahkan mantan wakil presiden di era Barack Obama tersebut.  


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat Donald Trump

Sumber : Antara/Reuters

Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top