Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Cegah Pandemi Baru di Masa Depan, Ilmuwan Sarankan Hal Ini!

Satu langkah yang sangat perlu digalakan umat manusia untuk mencegah terbentuknya pandemi di masa mendatang adalah menjaga alam.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 08 April 2020  |  22:10 WIB
Petugas medis bersiap memeriksa masyarakat di Michigan Health Professionals Covid-19 melalui fasilitas pengujian di Millennium Medical Group di Farmington Hills, Michigan, Amerika Serikat, Selasa (7/4/2020). Menurut data departemen kesehatan kota menunjukkan jumlah kasus virus corona yang dikonfirmasi dari Detroit terus meningkat lebih dari 5.500 pasien dan 221 diantaranya meninggal. Bloomberg - Emily Elconin
Petugas medis bersiap memeriksa masyarakat di Michigan Health Professionals Covid-19 melalui fasilitas pengujian di Millennium Medical Group di Farmington Hills, Michigan, Amerika Serikat, Selasa (7/4/2020). Menurut data departemen kesehatan kota menunjukkan jumlah kasus virus corona yang dikonfirmasi dari Detroit terus meningkat lebih dari 5.500 pasien dan 221 diantaranya meninggal. Bloomberg - Emily Elconin

Bisnis.com, JAKARTA - Sebelum virus corona merebak ke seluruh dunia awal tahun ini, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO terakhir kali mengeluarkan status pandemi pada April 2009 ketika virus novel influenza A (H1N1) menjalar dari Amerika Serikat.

Saat itu setidaknya 575.400 nyawa melayang karena pandemi tersebut. WHO baru mencabut status pandemi pada Agustus 2010.

Sejumlah ahli memperingatkan bahwa pandemi virus corona atau Covid-19 yang kini masih terus memakan korban, belum akan menjadi yang terakhir jika umat manusia tetap mempertahankan pola perilakunya.

Lee Hannah, ilmuwan senior di Conservation International menjelaskan tiga langkah kritis penanganan pandemi, yakni pasokan masker dan respirator yang cukup, infrastruktur pengujian memadai, serta pelarangan perdagangan satwa liar secara global.

Hannah melanjutkan, untuk mencegah terbentuknya pandemi di masa mendatang, ada satu langkah yang terdengar tidak masuk akal tetapi sangat perlu digalakkan oleh umat manusia, yakni menjaga alam.

"Kita perlu memberi tahu orang-orang bahwa ada serangkaian hal yang perlu kita lakukan setelah kita keluar dari kekacauan ini untuk memastikan hal itu tidak pernah terjadi lagi," kata Hannah, seperti dilansir Bloomberg, Rabu (8/4/2020).

Menurut penelitian yang diterbitkan oleh tim peneliti One Health Institute di University of California, Davis, risiko limpahan virus dari satwa liar ke manusia meningkat ketika kontak antara keduanya meningkat.

Hampir setengah dari penyakit baru yang berasal dari hewan dan berpindah ke manusia (disebut patogen zoonosis) setelah 1940 dapat ditelusuri karena perubahan penggunaan lahan, pertanian, atau perburuan satwa liar. SARS, Ebola, West Nile, Lyme, MERS, dan wabah lainnya disebabkan karena hal itu. Diperkirakan ada 10.000 virus mamalia yang berpotensi berbahaya bagi manusia.

"Manusia mengacaukan sistem alami dengan cara tertentu yang dapat membuatnya jauh lebih berbahaya daripada yang seharusnya. Hilangnya keanekaragaman hayati adalah salah satunya. Perubahan iklim adalah hal lain," kata Richard Ostfeld, ahli ekologi penyakit di Cary Institute of Ecosystem Studies.

Dalam tinjauan pengetahuan keanekaragaman hayati dan kesehatan manusia 2015 oleh PBB, para ilmuwan menulis bahwa pendekatan ekologis terhadap penyakit akan memberikan pemahaman yang lebih kaya.

Penelitian terbaru juga mendukung gagasan bahwa perlindungan keanekaragaman hayati di satu bagian dunia dapat mencegah penyakit baru muncul dan melompat ke tempat lain. Sains menyatakan bahwa dalam ekosistem yang beragam dan terpisah dari tempat tinggal manusia, virus yang membahayakan tidak akan memiliki celah untuk menginfeksi penduduk dunia.

Namun, ketika orang-orang mulai melanggar prinsip keberlangsungan alam, perlindungan itu mulai rusak. Ekosistem yang terganggu cenderung kehilangan predator terbesar mereka terlebih dahulu, dan yang mereka tinggalkan adalah makhluk kecil yang hidup cepat, bereproduksi dalam jumlah besar, dan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih mampu membawa penyakit. Ketika hanya ada beberapa spesies yang tersisa, mereka akan membawa penyakit dan berkembang di dekat manusia.

"Pendapatan dari pembukaan hutan baru sangat tinggi. Namun, biaya untuk sistem kesehatan masyarakat juga naik karena Anda mendapatkan penyakit yang sangat umum seperti malaria," kata William Karesh, wakil presiden eksekutif di EcoHealth Alliance.

Meskipun pemerintah dan lembaga terkait selama bertahun-tahun telah mengupayakan hal ini, hal yang sama tidak dilakukan oleh perusahaan dan pelaku industri. Banyak perusahaan besar telah berjanji untuk menghentikan deforestasi, pendorong terbesar hilangnya keanekaragaman hayati, melalui inisiatif seperti Forum Barang Konsumen, Prakarsa Lingkungan Perbankan dan Compact Komoditas Lunak mereka.

Hannah dari Conservation International, bekerja untuk memastikan bahwa alasan untuk mengkampanyekan keanekaragaman hayati, termasuk potensi patogennya, sejajar dengan risiko perubahan iklim.

Pada Februari lalu, Hannah dan rekannya mengumumkan temuan tentang upaya yang mungkin dilakukan untuk menahan perubahan iklim dan menjaga konservasi.

Dengan menggunakan data pada 290.000 spesies, ekosistem dapat diselamatkan dari kepunahan massal jika negara-negara melestarikan 30 persen habitat alami dan memenuhi batas PBB untuk pemanasan global.

Komunitas internasional didesak untuk melakukan aksi nyata. Salah satunya melalui The Convention on Biological Diversity. Konvensi ini menyatukan upaya 196 negara untuk melindungi kekayaan hayati, memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan, dan berbagi manfaat dari inovasi genetik yang terjadi secara alami di lingkungan. (AS dan Vatikan bukan anggota).

Fase berikutnya dari perjanjian yang masih dalam bentuk draft ini yakni ini, setidaknya 30 persen daratan dan lautan dilestarikan, naik dari 17 persen pada babak sebelumnya.

Jika pemerintah menyetujui target itu, maka negara dan ilmuwan konservasi harus mengambil langkah rumit untuk mencari tahu 30 persen mana yang paling penting untuk dilindungi dan bagaimana melakukannya.

"Kita bisa melakukan pekerjaan yang jauh lebih baik untuk mendapatkan barang-barang di tempat yang tepat. Akan ada tempat yang tepat untuk pengendalian penyakit dan mereka mungkin sebagian besar tumpang tindih tempat yang tepat untuk keanekaragaman hayati," kata Hannah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

internasional Virus Corona

Sumber : Bloomberg

Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top