Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Wabah Virus Corona : Wisata Merapi yang Kini 'Sunyi'

Lava tour di sekitar kawasan wisata Gunung Merapi itu mulai ramai sejak 2012. Dalam 8 tahun terakhir, peminat wisata ini cukup banyak.
Stefanus Arief Setiaji
Stefanus Arief Setiaji - Bisnis.com 31 Maret 2020  |  16:17 WIB
Wisatawan menikmati sensasi wisata jelajah kawasan Gunung Merapi menggunakan armada jip. Saat ini, kawasan wisata itu ditutup sejak pandemi virus corona. - Bisnis
Wisatawan menikmati sensasi wisata jelajah kawasan Gunung Merapi menggunakan armada jip. Saat ini, kawasan wisata itu ditutup sejak pandemi virus corona. - Bisnis

Kabar24.com, YOGYAKARTA — Sudah 1 tahun terakhir, Heri memiliki pinjaman di satu bank milik pemerintah. Jumlah pinjamannya sebesar Rp100 juta dengan jangka waktu cicilan selama 5 tahun.

Pria yang tinggal di sekitar lereng Gunung Merapi, Sleman, Yogyakarta itu harus menyisihkan uang Rp2,87 juta per bulan untuk membayar angsuran. Pinjaman dari bank itu dipakainya untuk membeli satu unit mobil jip.

Mobil jip tersebut digunakan sebagai sarana melayani wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata Merapi untuk menikmati sensasi menjelajah kawasan itu atau dikenal dengan lava tour.

Lava tour di sekitar kawasan wisata Gunung Merapi itu mulai ramai sejak 2012. Dalam 8 tahun terakhir, peminat wisata ini cukup banyak. Tarif sewa satu jip untuk wisata itu berkisar Rp350.000—Rp550.000 saat hari biasa. Kalau akhir, pekan tarifnya bisa lebih tinggi lagi.

Sejak 21 Maret 2020, kawasan wisata Gunung Merapi tutup menyusul adanya imbauan dari pemerintah daerah untuk mengantisipasi penyebaran pandemi virus corona (COVID-19).

Praktis, semua aktivitas yang menyangkut kepariwisataan di sekitar kawasan wisata itu terhenti, tidak terkecuali layanan lava tour seperti yang ditekuni Heri sehari-hari.

“Kalau bulan ini masih ngangsur. Tabungan di base camp yang biasanya baru dicairkan pas puasa atau Lebaran, kemarin diambil dulu. Enggak tahu nanti bulan-bulan selanjutnya. Ini sampai kapan juga tidak tahu,” ceritanya.

Base camp yang dimaksud Heri adalah wadah keanggotaan penyedia jip yang tergabung dalam Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi (AJWLM).

Heri mengaku keuntungan yang dikantongi setiap sekali sewa sekitar Rp100.000 per jip. Saat hari biasa, jip miliknya bisa di sewa hingga dua kali, sedangkan saat akhir pekan  sampai empat kali. Dia sendiri memiliki dua unit jip.

Pukul rata saja, kalau efektif operasional jip selama 30 hari, paling sedikit dia mengantongi Rp6 juta per bulan dari layanan jip untul lava tour itu.

Jika Heri masih bisa membayar angsuran Maret 2020, lain cerita dengan Slamet. Dia menuturkan belum membayar angsuran pinjaman yang semestinya jatuh tempo pada 24 Maret lalu.

“Takut ke bank, enggak bawa uang. Udah lewat juga sekarang ini,” kata Slamet.

Sama seperti Heri, Slamet memiliki dua unit jip untuk layanan wisata di kawasan Gunung Merapi itu.

Dia meminjam uang Rp60 juta untuk membeli jip miliknya dengan tenor selama 4 tahun dan cicilan per bulan Rp1,6 juta.

“Inginnya ya seperti imbauan Pak Presiden, ada keringanan selama 1 tahun ini dulu,” katanya.

Menurut Ketua AJWLM Bambang Sugeng jumlah armada jip yang dikelola oleh warga yang tergabung dalam asosiasi itu sebanyak 800—900 unit armada.

Dari aktivitas itu, setidaknya memberikan dampak ekonomi bagi 5.000 warga di sekitar lereng Merapi itu.

Sejak 21 Maret, kegiatan pariwisata di kawasan itu terhenti. “Ada satu komunitas kemarin yang membatalkan 1.800 jip, ada juga yang membatalkan 1.100 jip,” katanya.

Anggota asosiasi itu, katanya selama ini mengelola jip secara swadaya. “Dari mulai 80 jip, sekarang sudah sampai 900 jip. Memang belakangan, banyak yang pinjam ke bank untuk membeli jip,” jelasnya.

Dia berharap upaya pemerintah untuk membantu masyarakat kecil terkait dengan fasilitas kredit, dapat benar-benar menjangkau semua lapisan termasuk pelaku usaha jip di kawasan lereng Gunung Merapi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

merapi gunung merapi Virus Corona
Editor : Stefanus Arief Setiaji
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top