Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Corona, Kepastian, dan Pilihan Sulit

Inilah kondisi kita sekarang. Bergulat dengan virus corona. Tanpa kepastian. Seperti cerita Kafka, kita berhadapan dengan dua pilihan. Menunggu dalam waktu yang tak pasti hingga mati di depan gerbang. Atau membiarkan pintu gerbang itu tertutup lalu mencari pintu gerbang lainnya.
Maria Yuliana Benyamin
Maria Yuliana Benyamin - Bisnis.com 20 Maret 2020  |  11:41 WIB
Petugas melakukan penyemprotan disinfektan di ruang publik di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis (19/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Petugas melakukan penyemprotan disinfektan di ruang publik di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis (19/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Mendadak, saya teringat film pendek Before the Law, adaptasi karya Franz Kafka.

Kafka bercerita tentang seorang pria yang meninggalkan desanya dan berangkat menuju suatu gerbang. Dia berjalan bermil-mil di tengah udara yang ekstrem.

Di perjalanan, sempat terpikir olehnya, bahwa dia tak akan menemui kesulitan berarti. Dia optimistis. Dengan mudah, dia akan menembus gerbang itu.

Namun, setibanya di gerbang, pria itu bertemu dengan seorang penjaga. Berjaket bulu tebal dengan tongkat di tangannya.

Pria itu lantas meminta izin untuk masuk. Tidak, kata sang penjaga lantang.

Dia mengacuhkan sang penjaga, lalu mencoba untuk menembus gerbang itu. Beberapa kali. Namun, tetap saja, dia tak bisa menembus gerbang tersebut.

Sang penjaga memanggil pria itu. Menasihatinya. Kamu bisa mencoba lagi. Akan tetapi, ingatlah. Aku bukan satu-satunya yang menjaga gerbang ini.

Dari balik tangan sang penjaga, si pria melihat beberapa lapis gerbang. Masing-masing dijagai satu penjaga.

Maka, dia memutuskan untuk menunggu di luar gerbang hingga diizinkan masuk. Selama penantian, si pria terus mengambil hati sang penjaga dengan berbagai cara. Namun, upayanya sia-sia.

Waktu berlalu. Berbagai musim telah dilewati. Si pria menjadi renta. Dia memanggil penjaga dengan suara yang tersisa. Setengah berbisik. Bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun, tidak ada orang yang datang untuk masuk ke gerbang itu, kecuali saya?

Sang penjaga menjawab. Gerbang ini hanya ditujukan untukmu. Dan, sekarang akan saya tutup. Si pria hanya menatap kosong. Ke arah gerbang. Kepastian hukum. Dia mati sebelum mendapatkan kepastian hukum.

Inilah kondisi kita sekarang. Bergulat dengan virus corona. Tanpa kepastian. Seperti cerita Kafka, kita berhadapan dengan dua pilihan. Menunggu dalam waktu yang tak pasti hingga mati di depan gerbang. Atau membiarkan pintu gerbang itu tertutup lalu mencari pintu gerbang lainnya.

Sampai kemarin, Kamis (19/3) sore, virus corona atau COVID-19 telah memakan korban hingga 308 orang. Sebanyak 25 di antaranya meninggal. 15 Sudah dinyatakan sembuh. Tersisa 268 kasus aktif. Angka yang cukup tinggi.

Semula kita berpikir, kita kebal. Ketika negara lain tengah pusing menghadapi corona, kita masih bisa santai. Seolah-olah virus itu tak mampu menjangkiti kita. Seolah-olah pola makan yang kita lakoni selama ini makan gorengan campur plastik atau makan bakso dengan kandungan formalin/boraks bisa membuat virus itu jauh dari tubuh kita.

Maka ketika virus itu pertama kali terdeteksi pada pasien 1 dan 2, semua kaget. Seperti tak terima. Pasien pun jadi korban. Seperti sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Demikianlah nasib mereka. Tak hanya menanggung rasa takut akan virus itu, mereka pun harus berhadapan dengan berbagai tudingan masyarakat. Yang ini jelas jauh lebih menakutkan. Ah, rasanya ini tak perlu dibahas lagi. Keduanya toh sudah sembuh.

Anda boleh sepakat atau tidak. Kita terlambat merespons COVID-19. Sebenarnya kita punya waktu yang cukup panjang untuk mempersiapkan banyak hal, sejak virus ini mulai menulari negara tetangga.

Sayangnya, kita tidak melakukan itu.

Ketika negara-negara mulai menutup akses masuk di negaranya, tidak demikian dengan kita. Wisatawan masih melenggang dengan bebasnya. Pun untuk akses masuk. Pemandangan di bandara pada awalnya cukup membuat gemas. Seperti sedang membentang karpet merah untuk corona.

Respons pemerintah terhadap penyebaran yang kian meluas di negara lain pun aneh bin ajaib. Promosi pariwisata dengan mengguyur aneka insentif. Seperti Hansel & Gretel, kita tengah menyebar ‘remah-remah’ virus ke mana-mana. Beruntung beberapa insentif sudah dibatalkan.

Masih ada sederet kebijakan ‘salah langkah’ yang diambil. Namun, rasanya tak bijak lagi untuk menyoal kesalahan-kesalahan yang telah lewat. Yang penting saat ini adalah melawan corona. Memutus mata rantainya.

Soal melawan dan memutus rantai corona, tentu tidak mudah. Namun, kita akhirnya belajar dari hal-hal yang paling kecil. Sederhana. Termasuk soal cuci tangan. Kita seperti masuk dalam peradaban baru, tahu bagaimana mencuci tangan dengan benar.

Pada kenyataan sebelumnya, kita mungkin bangsa yang jorok. Batuk dan bersin tanpa etika. Dalam beberapa pekan saja, kita pun belajar hal baru, bagaimana bersin dan batuk sesuai dengan etika.

Demikian pula soal jarak. Tidak biasa ada aturan soal jarak antarmanusia. Selalu semrawut. Tak beraturan. Suka berkontak fisik. Bahkan, dalam kondisi ekstrem menjadi pemangsa bagi yang lain. Namun, dalam seketika semua berpikir tentang pentingnya menciptakan jarak.

Yang terakhir soal social distancing atau pembatasan sosial. Ketika hanya berupa imbauan, rasanya hal ini masih sulit dilakukan. Buktinya, masih ada saja yang melanggar. Corona pun akhirnya dibenturkan dengan iman. Soal ini, diskusi menjadi rumit. Panjang. Tak berujung.

Padahal, jika dijalankan dengan sungguh-sungguh dan penuh kepatuhan, kita bisa memberikan kesempatan kepada negara untuk berjalan hingga ke ujung, mencari carrier baru yang bisa menambah panjang rantai corona.

Berdiam di rumah, itu lebih bijak, daripada bepergian dan memperpanjang rantai sebaran. Sembari itu, biarkan negara melakukan rapid test. Agak susah memang meyakinkan masyarakat untuk berdiam di rumah, tanpa ada aturan yang jelas.

Kalau sudah begini, negara pun akhirnya susah menemukan tujuan, dan ujungnya akan berakhir seperti labirin. Tanpa pintu. Tanpa jalan keluar.

Maka tak ada jalan lain: karantina wilayah secara terbatas. Saya coba tak menggunakan kata lockdown. Kendati sama, kata ini terlihat begitu menyeramkan oleh sebagian besar masyarakat.

Karantina wilayah memang bukan pilihan gampang. Ada sejumlah konsekuensi yang harus ditanggung. Namun, membiarkan kondisi ini tanpa kepastian pun, tentu bukan pilihan tepat pula. Dua-duanya punya konsekuensi. Utamanya ke ekonomi.

Lihat kondisi sekarang. Pasar dihantui ketidakpastian. Pergerakan nilai tukar rupiah ditutup melemah tajam 690 poin atau 4,53% ke level Rp15.913 per dolar AS. Ini level terendah dalam 22 tahun terakhir dan kinerja harian terburuk rupiah sejak Agustus 2013.

Adapun, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup turun tajam 5,20% atau 225,25 poin ke level 4.105,42. Dalam beberapa hari terakhir, sudah beberapa kali perdagangan dihentikan sementara (trading halt).

Belum lagi di sektor riil. Banyak yang sudah berteriak, seperti tak tahan dengan kondisi saat ini. Insentif memang sudah bergulir. Akan tetapi, di tengah ketidakpastian saat ini, insentif sebesar apapun bisa jadi tak begitu efektif. Yang diharapkan, kondisi kembali seperti semula. Sebelum corona mewabah. Dunia usaha tentu butuh kepastian soal bagaimana dan kapan pandemi ini berakhir.

Sebetulnya kita bisa belajar banyak hal dari China. Juga Italia, Filipina, Prancis, Denmark, Irlandia, Polandia, Arab Saudi, Malaysia, dan lainnya. Tak hanya keberhasilan China menangani secara cepat virus tersebut hingga kini tak ada lagi kasus baru dari negerinya sendiri. Pun kita bisa memetik pembelajaran penting dari arti keterlambatan menghadapi situasi gawat.

Pemahaman dan penggambaran yang telah terang benderang itu harusnya sudah cukup untuk mengubah realitas.

Parahnya, di tengah kondisi ini, masih ada saja yang subjektif. Subjektivitas yang dibangun dari paranoia lawan politik ini hendaklah dihentikan. Mari ciptakan situasi yang objektif. Karena objektivitas, pada akhirnya berbuah menjadi sebuah kepastian.

Objektivitas diperlukan untuk melihat kondisi saat ini dengan jeli, sehingga kita dapat membedakan antara soal kemanusiaan dari kejatuhan satu demi satu manusia sehat karena pandemi dan soal perekonomian.

Objektivitas juga diperlukan untuk melihat yang pasti dan yang tidak pasti. Yang pasti, dari hari ke hari, akan semakin banyak manusia sehat yang terpapar. Yang tidak pasti adalah perekonomian. Namun, bangsa yang sehat akan bisa memulihkan kembali perekonomiannya dengan cepat.

Pilihan ada pada kita. Segera membuka pintu gerbang, agar pria dalam cerita Kafka, tidak mati di depan pintu. Atau?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top