Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Tiga Tantangan Transformasi Ketenagakerjaan Era 4.0

Tiga tantangan itu adalah perubahan keterampilan, jenis pekerjaan, dan sosial. Untuk menghadapi tantangan itu, dibutuhkan inovasi. Pemerintah akan mengutamakan pelatihan vokasi, ketimbang pendidikan vokasi.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 28 Februari 2020  |  20:23 WIB
Ilustrasi logo revolusi industri 4.0. - Reuters/Wolfgang Rattay
Ilustrasi logo revolusi industri 4.0. - Reuters/Wolfgang Rattay

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Ida Fauziyah, mengatakan ada tiga tantangan  transformasi ketenagakerjaan sebagai dampak revolusi industri  (RI) 4.0. Pertama, skills transformation, atau transformasi keterampilan. Kedua, job transformation atau transformasi pekerjaan dan terakhir society transformation atau transformasi sosial.

"Untuk menghadapi tiga tantangan tersebut, maka diperlukan inovasi dalam penyiapan kompetensi tenaga kerja; regulasi ketenagakerjaan yang fleksibel; jaminan sosial terhadap peningkatan kompetensi; dan jaminan sosial terhadap pendapatan masyarakat, " kata Menaker Ida Fauziyah di acara, Conference 2045 : Education to Ignite The Creative Industry" di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Jumat (28/2/2020).

Menurutnya, ketiga transformasi ketenagakerjaan itu akan berdampak dalam sejumlah pekerjaan. Misalnya, pekerjaan yang berulang-ulang, rutin, dan kurang interpersonal akan hilang. Sementara pekerjaan yang tidak berulang, tidak rutin, interpersonal akan bertahan.

Sedangkan, orang-orang dengan pekerjaan keterampilan tinggi akan lebih mungkin bertahan dan mendapatkan lebih banyak pendapatan. 

"Kemudian, orang-orang dengan pekerjaan keterampilan menengah lebih mungkin akan diubah oleh robot dan artificial intelligence. Sementara orang dengan pekerjaan dengan keterampilan rendah (membersihkan, memasak, dll.) masih akan bertahan, tetapi dengan upah yang sangat rendah, " kata Ida.

Menurutnya, lembaga pendidikan dan pelatihan (diklat) tidak hanya bertugas untuk mendidik dan melatih saja. Tetapi lembaga diklat harus mampu menjadi wadah ekosistem peningkatan ekonomi di wilayahnya.

"Caranya, berkolaborasi dengan berbagai jenis pemangku kepentingan. Mulai dari pendanaan, kepakaran akademisi, peluang kerja, komunitas, dan pengalaman dari dunia usaha untuk menciptakan nilai tambah bagi ekonomi wilayahnya, " katanya.

Menaker mengungkapkan dalam konteks diklat vokasi revolusi industri 4.0 memberi empat dampak. Yakni perubahan tujuan pendidikan dan pelatihan vokasi yang awalnya adalah untuk mendapat pekerjaan menjadi  entrepreneur, misalnya di jenis perusahaan start-up.

Kedua, perubahan kebutuhan keterampilan dari spesialisasi menjadi konvergensi (multi-skill). Ketiga, perubahan kurikulum pendidikan dan pelatihan vokasi yang semakin individualis dan berorientasi menciptakan produk.

Keempat, perubahan sasaran diklat vokasi dari kaum muda menjadi kaum rentan-terpinggirkan.

Pemerintah saat ini, lanjut Ida, berfokus kepada peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui diklat vokasi. Untuk jangka pendek, pelatihan vokasi akan berperan sentral, karena dampaknya yang relatif lebih cepat bisa dirasakan masyarakat dibanding pendidikan vokasi.

"Saya meyakini, transformasi diklat vokasi di Indonesia, menjadi kunci dalam penyiapan SDM Indonesia menghadapi era digital ini, " ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ida menyambut positif hadirnya vokasi kreatif (vokraf) menjadi bagian penting dari industri kreatif. Selain dibutuhkan oleh anak-anak muda sekarang, vokraf juga menjadi penyeimbang ekonomi di Indonesia lebih baik lagi.

"Semua murid vokraf bisa menggunakan kesempatan dengan baik, dan teruslah maju. Jangan berhenti belajar. Bersama vokraf, saya yakin, kalian akan mendapat masa depan yang lebih baik, " kata Ida.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Revolusi Industri 4.0
Editor : Andya Dhyaksa
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top