Agama Menjadi Ancaman Pancasila, Ini Klarifikasi Kepala BPIP

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Yudian Wahyudi, menjelaskan soal pernyataannya tentang agama menjadi ancaman terbesar terhadap Pancasila.
Cahyadi Kurniawan
Cahyadi Kurniawan - Bisnis.com 13 Februari 2020  |  14:22 WIB
Agama Menjadi Ancaman Pancasila, Ini Klarifikasi Kepala BPIP
Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi (kiri) didampingi istri, menerima ucapan selamat dari Ketua Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarnoputri (kanan) seusai dilantik di Istana Negara, Jakarta, Rabu (5/2/2020). - Antara

Bisnis.com, YOGYAKARTA — Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Yudian Wahyudi, menjelaskan soal pernyataannya tentang agama menjadi ancaman terbesar terhadap Pancasila. Pernyataan yang muncul dalam video dialog yang dirilis sebuah media nasional tersebut menjadi polemik baru.

Yudian menjelaskan pernyataannya bahwa yang dimaksud ancaman terbesar Pancasila adalah oknum yang memakai agama secara sempit dan ekstrem. Mereka adalah minoritas yang mengaku mayoritas.

Menurut dia, Pancasila jika dilihat dari sumber dan tujuannya bersifat religius. Artinya, kelima sila yang dikandungnya juga ada dalam kitab suci enam agama yang diakui konstitusi Indonesia. Sebagai contoh, perintah berketuhanan dan perintah persatuan juga ada dalam ajaran agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, maupun Konghucu.

“Sumber dan tujuan Pancasila itu bukan manusia melainkan nilai-nilai keagamaan. Tapi, untuk mewujudkannya butuh sekularitas bukan sekularisme,” kata dia, saat ditemui wartawan di Gedung Rektorat Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Rabu (12/2/2020).

Yudian Wahyudi mencontohkan maksud sekularitas itu dengan turnamen sepak bola untuk persatuan. Jika menggelar turnamen sepak bola, maka membutuhkan panitia, pemain, anggaran hingga waktu dan tempat.

Panitia dan pemain, misalnya seharusnya terdiri atas campuran dari lintas iman. Tim juga jangan berisi pemain dari pulau yang sama. “Ini sekularitas [bukan sekularisme]. Kalau sekularisme itu [contohnya] jangan salat, jangan haji, jangan bermain bola,” terang dia.

Tak hanya itu, Pancasila merupakan konsensus atau ijma’ dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nikmat Pancasila ini bisa menjadi bencana jika tidak dikelola dengan benar. Sebab, hingga kini masih ada oknum-oknum yang tidak menerima konsensus atau Pancasila.

“Oknum itu adalah mereka yang menggunakan agama secara sepihak. Oknum itu juga memahami agama secara sempit dan ekstrem. Ada kelompok kecil yang mengaku mayoritas tapi ternyata minoritas. Maksudnya, kelompok yang tidak mau mengakui ijma’. Ini kalau dibiarkan bisa jadi musuh terbesar,” ujar Yudian.

Pria yang juga menjabat Rektor UIN Sunan Kalijaga itu mengajak semua orang untuk kembali kepada konsensus. Secara sederhana, artinya kembali ke guyub rukun. Kata “guyub” berasal dari bahasa Arab artinya mahagaib.

“Artinya, setiap individu diajak melepaskan subjektivitas atau egoismenya hingga pada titik netral lalu kembali ke rukun. Jadi, agama jadi ancaman Pancasila ini bukan berarti Islam vs Pancasila dalam arti teorinya. Tapi, ini kalau tidak bisa dikelola apapun itu termasuk agama bisa menjadi laknat [bencana],” tutur Yudian.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pancasila

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR




Top