3 Skenario Terburuk untuk Ekonomi Global akibat Virus Corona

Morgan Stanley meyakini bahwa pertumbuhan untuk China dan ekonomi global pada bulan Februari dan Maret akan terpengaruh akibat penyebaran virus Corona, khususnya segmen manufaktur dan perdagangan.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 12 Februari 2020  |  15:10 WIB
3 Skenario Terburuk untuk Ekonomi Global akibat Virus Corona
Logo perusahaan Morgan Stanley kantor di San Diego, California. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA-Morgan Stanley memperkirakan pertumbuhan global pada kuartal pertama tahun ini dapat melambat 15 sampai 75 basis poin (bps) akibat industri manufaktur China yang terdampak wabah virus corona.

Dalam riset terbarunya, Morgan Stanley meyakini bahwa pertumbuhan untuk China dan ekonomi global pada bulan Februari dan Maret akan terpengaruh akibat penyebaran virus Corona, khususnya segmen manufaktur dan perdagangan.

Dengan asumsi bahwa dampak ekonomi dari wabah virus corona memuncak pada bulan Februari, lembaga riset tersebut melihat pertumbuhan global akan kembali pulih mulai dari triwulan II/2020.

Namun, Morgan Stanley melihat perlunya kewaspadaan terkait dengan seberapa cepat pengendalian atas penyebaran wabah virus Corona dapat dilakukan dan kapan produksi serta transportasi bahan pokok kembali normal.

Ada tiga skenario perhitungan yang disampaikan Morgan Stanley dalam risetnya. Pertama, jika pemulihan dampak virus corona di negara tersebut dapat berjalan cepat, pertumbuhan ekonomi global pada kuartal pertama tahun ini hanya akan terpengaruh sekitar 15-30 bps.

Kedua, jika penanganan pemulihan berjalan secara gradual, pertumbuhan ekonomi global dalam tiga bulan pertama tahun ini akan terpengaruh sebesar 35 bps hingga 50 bps. Ketiga, jika puncak krisis dari virus corona ini terjadi pada April 2020, pertumbuhan ekonomi China akan tertekan sebesar 50- 75 bps.

Bahkan, Morgan Stanley memperkirakan pertumbuhan ekonomi Negeri Panda ini pada semester pertama tahun ini dapat turun sebesar 35-50 bps.

Mengacu pada skenario kedua, Kepala Ekonom Global Morgan Stanley Chetan Ahya melihat pekerja migran di China akan terkendala untuk kembali bekerja dan pemulihan distribusi logistik akan memerlukan waktu lebih lama.

Menurutnya, virus corona dapat menekan pertumbuhan ekonomi global melalui dua sisi, permintaan domestik China dan pasokan global.

Morgan Stanley menilai permintaan domestik di China akan terpengaruh oleh penyebaran virus corona yang kian meluas. Ketika konsumsi China terdampak, maka tren perdagangan dunia akan tertekan. Pasalnya, permintaan impor China otomatis akan ikut melambat.

Pembelian mobil dan barang elektronik akan terpengaruh dari kondisi tersebut, sementara hiburan dan restauran mungkin tidak akan terdampak signifikan.

Dari sisi pasokan global, aktivitas bisnis akan terganggu dan berdampak pada produksi manufaktur di China. Ahya mengungkapkan kondisi ini akan mempengaruhi kegiatan produksi global sehingga memberikan dampak lanjutan pada rantai pasokan global.

Saat ini, dia yakin pasokan persediaan barang masih dapat dikelola dengan baik.

"[Namun] Semakin lama gangguan ini berlangsung, semakin berat gangguan rantai pasokan," tegas Ahya dalam laporan tersebut, Rabu (12/2/2020).

Di antara dua sisi tersebut, dia meyakini potensi kehilangan dari konsumsi domestik masih dapat pulih kembali pada kuartal mendatang. Namun, China tidak bisa mengelak penurunan konsumsi domestik ini akan membawa disrupsi bagi ekonomi Negeri Panda tersebut dalam jangka pendek.

Dari sisi pertumbuhan global, Morgan Stanley memandang dampak virus corona dari China akan meluas. Ahya melihat aktivasi kegiatan manufaktur dan transportasi di Hubei, China, menjadi hal yang paling diwaspadai.

"Jika [penyebaran virus corona] berlangsung selama lebih dari 4-6 minggu, maka gangguan manufaktur akan memiliki dampak yang jauh lebih luas pada ekonomi global karena rantai pasokan yang sangat terintegrasi, terutama di Asia," ungkap Ahya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
virus corona

Editor : Hadijah Alaydrus
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top