Pilkada Solo: PDIP Hanya Tes Gibran dan 'Puguh', Calon Lain masih Pede

Sejumlah pendaftar calon wali kota dan calon wakil wali kota (cawali-cawawali) Pilkada Solo 2020 via PDIP masih percaya diri (pede) dan tetap menyimpan harapan meski belum dipanggil untuk menjalani fit and proper test di DPP partai tersebut di Jakarta.
Kurniawan
Kurniawan - Bisnis.com 11 Februari 2020  |  07:54 WIB
Pilkada Solo: PDIP Hanya Tes Gibran dan 'Puguh', Calon Lain masih Pede
Pasangan Puguh (Achmad Purnomo, Teguh Prakosa) dan Gibran Rakabuming, sebelum fit and proper test di DPP PDIP, Senin (10/2 - 2020).Foto: Antara

Bisnis.com, SOLO - Sejumlah pendaftar calon wali kota dan calon wakil wali kota (cawali-cawawali) Pilkada Solo 2020 via PDIP masih percaya diri (pede) dan tetap menyimpan harapan meski belum dipanggil untuk menjalani fit and proper test di DPP partai tersebut di Jakarta.

Sebagaimana diberitakan, DPP PDIP sejauh ini hanya memanggil tiga calon, yakni pasangan cawali-cawawali yang diusulkan DPC PDIP Solo, Achmad Purnomo-Teguh Prakosa (pasangan Puguh), serta cawali yang mendaftar via DPD PDIP Jateng, Gibran Rakabuming Raka. Nama yang disebut terakhir merupakan putra Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Para calon yang belum dipanggil itu masih menyimpan harapan bakal dipanggil juga nantinya untuk mengikuti tes yang sama pada gelombag berikutnya. Hal itu seperti diungkapkan Ketua DPC PPP Solo, Edy Jasmanto, saat diwawancarai Solopos.com melalui telepon seluler (ponsel), Senin (10/2/2020).

Banyak Kasus Kekerasan Seksual Pada Anak di Wonogiri, Jekek Sentil Tokoh Masyarakat

“Sebelum surat rekomendasi ditandatangani dan diumumkan, masih ada harapan. Karena sejak awal saya punya keyakinan yang menggerakkan hati manusia hanya Allah SWT. Seperti saat Gus Yasin dulu ditelepon Bu Megawati di last minutes,” ujar dia.

Harapan Edy juga mendasarkan kepada konsep ideal figur pasangan cawali-cawawali Solo. Menurut dia, pasangan ideal cawali-cawawali Solo tidak hanya diisi kader PDIP yang notabene sama-sama dari partai politik (parpol) dengan ideologi nasionalis.

“Idealnya pasangan itu tidak sama. Lah kalau PDIP dengan PDIP kan bukan pasangan. Pasangan ideal itu tidak sama karena mengisi kekurangan yang ada. Misalnya nasionalis-religius atau laki-laki dan perempuan. Saya masih menyimpan harapan,” kata dia.

Harapan yang sama disampaikan pendaftar cawawali Solo di DPD PDIP Jateng, Diah Warih Anjari. Menurut dia, selama belum ada hitam di atas putih, masih ada harapan baginya untuk tetap di jalur kompetisi mendapatkan rekomendasi dari DPP PDIP.

“Sebelum resmi diumumkan untuk rekomendasi tetap optimistis dan tidak menyerah,” ujar dia.

Warih mengatakan dirinya ikut mendaftar cawawali Solo melalui PDIP karena merasa terpanggil untuk memajukan kota kelahirannya tersebut. Tapi bila pada akhirnya rekomendasi jatuh kepada figur lain, Warih menyatakan siap menerima.

PDIP pasti sudah mengkaji berbagai pertimbangan dan akan memilih figur terbaik sebagai cawali-cawawali untuk membawa Solo kian maju.

“Pada intinya partai pasti mencari figur terbaik sebagai pemimpin Solo ke depan. Saya tentu sangat mendukung keputusan partai, termasuk tahap fit and proper test oleh DPP saat ini. Itu bagian dari proses penyaringan figur-figur terbaik,” tutur dia.

Sementara itu pendaftar cawawali Solo lainnya, Ginda Ferachtriawan, menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada DPP PDIP. Dia siap menaati apapun keputusan partai terkait siapa yang akan mendapat rekomendasi.

“Sebagai petugas partai saya ikut kebijakan dan arahan partai. Perintahnya kan jelas, kepentingan politik harus dilihat secara global. Semangat yang disampaikan, siapa pun yang ditugaskan adalah kader terbaik dan harus didukung,” terang dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pilkada 2020, Pilkada Serentak

Sumber : Solopos.com

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top